Jakarta, FORTUNE - Persediaan gula rafinasi untuk kebutuhan industri makanan dan minuman (mamin) dipastikan masih mencukupi hingga pertengahan 2026. Pelaku industri menyebut stok yang tersedia saat ini masih mampu menopang produksi, meski sektor tersebut menghadapi berbagai tantangan dalam impor bahan baku.
Wakil Ketua Umum Bidang Pengembangan dan Pembinaan UMKM Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI), Irwan S. Widjaja, mengatakan industri mamin masih berupaya menjaga pasokan bahan baku agar produksi tetap berjalan normal.
Menurut dia, industri mamin saat ini sedang berusaha memenuhi kebutuhan masyarakat di tengah berbagai keterbatasan, terutama terkait bahan baku impor.
“Industri mamin saat ini mencoba mencukupi kebutuhan masyarakat Indonesia, walaupun kita tahu masih ada kekurangan atau kesulitan impor bahan baku,” kata Irwan saat ditemui di Jakarta, Selasa (10/3).
Ia menjelaskan salah satu komoditas yang sangat bergantung pada impor adalah gula rafinasi. Meski begitu, pelaku industri masih memiliki stok cukup untuk menjaga keberlanjutan produksi.
Irwan memperkirakan persediaan bahan baku tersebut masih dapat menopang kebutuhan industri hingga semester pertama tahun ini.
Selama ini, sebagian besar bahan baku gula rafinasi diimpor dari sejumlah negara, terutama Thailand dan Cina. Selain gula, industri mamin juga masih mengandalkan impor untuk berbagai bahan baku lain, seperti flavor atau perisa makanan.
Namun, berbagai faktor membuat rantai pasok bahan baku menjadi lebih menantang. Salah satunya adalah hambatan logistik global yang berpotensi meningkatkan biaya transportasi dan memperpanjang waktu pengiriman.
Irwan menambahkan kondisi geopolitik global juga berpotensi memberi tekanan terhadap distribusi barang. Meski demikian, ia menilai dampaknya terhadap industri mamin belum dapat disimpulkan secara langsung.
“Bukan mempersulit, tetapi bisa menghambat dalam pengertian waktu pengiriman menjadi lebih lama, sehingga biaya logistik meningkat dan industri harus melakukan rekalkulasi biaya,” katanya.
Sementara itu, Plt Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika, mengatakan sebagian besar bahan baku impor yang dibutuhkan industri sebenarnya telah masuk sebelum munculnya berbagai gangguan logistik global.
Karena itu, hingga saat ini industri agro dinilai belum merasakan dampak signifikan terhadap pasokan bahan baku.
Ia menjelaskan bahan baku gula rafinasi untuk industri banyak dipasok dari Australia dan Thailand. Kendati demikian, potensi tekanan tetap bisa muncul dari sisi biaya logistik pengiriman.
“Yang mungkin terdampak itu logistiknya, terutama biaya pengangkutan,” ujarnya.
Pemerintah telah menghentikan sementara realisasi impor gula kristal mentah (raw sugar) sejak kuartal III-2025. Dari total kuota impor sebesar 4 juta ton, sekitar 70 persen telah direalisasikan, sementara sisanya ditahan sementara oleh pemerintah.
Impor gula kristal mentah tersebut digunakan sebagai bahan baku produksi gula rafinasi yang diperuntukkan bagi industri makanan dan minuman, bukan untuk konsumsi langsung masyarakat.
