Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

Tabungan Orang Kaya Tambah Naik Saat Daya Beli Melemah

Tabungan Orang Kaya Tambah Naik Saat Daya Beli Melemah
ilustrasi tips membagi alokasi THR untuk tabungan dan belanja kebutuhan (pexels.com/Defrino Maasy)
Intinya Sih
  • Perlambatan pertumbuhan uang beredar menandakan lemahnya daya beli masyarakat.

  • Rata-rata simpanan masyarakat umum turun dari Rp2,98 juta pada 2019 menjadi Rp1,67 juta per bulan pada 2025.

  • Sementara itu, simpanan kelompok kaya dengan saldo di atas Rp5 miliar naik tajam.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, FORTUNE - Pelemahan daya beli masyarakat dalam beberapa tahun terakhir tecermin pada perlambatan pertumbuhan uang beredar. Namun di tengah kondisi tersebut, simpanan kelompok masyarakat kaya justru menunjukkan peningkatan cukup signifikan.

Peneliti Pusat Makroekonomi dan Keuangan di Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Abdul Manap Pulungan, mengatakan tren perlambatan konsumsi dapat dilihat dari perkembangan uang beredar dalam perekonomian.

Jika ditarik dalam periode panjang sejak 2012 hingga 2025, pertumbuhan uang beredar sempit atau M1 mengalami penurunan tajam. Pada 2012, pertumbuhan M1 masih mendekati 22 persen. Namun, saat ini pertumbuhannya hanya berada di bawah 5 persen.

Menurut Abdul Manap, perlambatan tersebut mencerminkan perubahan perilaku masyarakat yang makin berhati-hati dalam membelanjakan uangnya.

“Ini menggambarkan bagaimana daya beli semakin melambat yang pada akhirnya orang mengerem untuk belanja, misalnya untuk mengantisipasi situasi ke depan,” kata dia saat Diskusi Publik “Ekonomi Lebaran di Tengah Gejolak Perang,” yang disiarkan secara virtual, Senin (9/3).

Fenomena serupa juga terlihat pada pertumbuhan uang beredar luas atau M2. Jika dibandingkan antara kondisi 2012 dan 2025, terlihat kontras bahwa pertumbuhan M2 juga melambat, seiring dengan melemahnya aktivitas konsumsi masyarakat.

Tetapi, jika ditelusuri lebih jauh, perlambatan daya beli ini tidak terjadi secara merata di seluruh lapisan masyarakat.

Data menunjukkan rata-rata simpanan masyarakat secara umum justru mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Pada September 2025, rata-rata simpanan per rekening hanya Rp1,67 juta per bulan. Angka tersebut turun cukup dalam dibandingkan dengan posisi pada 2019 yang masih mencapai Rp2,98 juta.

Penurunan ini menjadi indikasi kuat bahwa kelompok masyarakat menengah kian tertekan secara ekonomi.

Di sisi lain, kondisi berbeda terjadi pada kelompok masyarakat dengan tingkat kekayaan tinggi. Simpanan pada kelompok dengan saldo di atas Rp5 miliar justru meningkat cukup tajam.

Pada 2025, rata-rata simpanan kelompok ini mencapai Rp35,89 miliar per orang. Angka tersebut naik dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang berkisar Rp32,63 miliar.

Menurut Abdul Manap, kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan likuiditas di perekonomian lebih banyak terkonsentrasi pada kelompok masyarakat atas.

Situasi ini sekaligus menggambarkan makin terjepitnya kelas menengah. Padahal, secara jumlah kelompok ini sangat besar dalam struktur ekonomi nasional.

“Ini menggambarkan bahwa ekonomi kelas menengah semakin terjepit, padahal mereka jumlahnya sangat banyak,” kata dia.

Dalam kondisi seperti ini, tambahan likuiditas musiman seperti Tunjangan Hari Raya (THR) memang berpotensi menambah uang beredar. Namun dampaknya terhadap peningkatan konsumsi dinilai tidak terlalu besar.

Menurutnya, THR lebih berfungsi sebagai bantalan agar daya beli masyarakat tidak turun terlalu tajam di tengah tekanan inflasi.

“THR bisa jadi hanya berguna untuk melindungi agar daya beli tidak signifikan turun ketika kenaikan inflasi cukup besar,” ujarnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bonardo Maulana
EditorBonardo Maulana
Follow Us

Latest in News

See More