Takut Turun Kelas Ekonomi, Milenial dan Gen Z Justru Makin Tangguh

- Kekhawatiran turun kelas ekonomi membuat Milenial dan Gen Z Indonesia semakin tangguh dengan belajar finansial, mencari penghasilan tambahan, serta membangun ketahanan hidup yang adaptif terhadap perubahan ekonomi.
- Laporan IDN Research Institute menunjukkan pergeseran nilai konsumsi dari gengsi ke makna dan ketahanan, di mana generasi muda lebih selektif berbelanja namun tetap aktif dalam ekosistem komunitas dan kreator.
- Kesuksesan kini dimaknai lewat empat pilar: makna hidup, ruang bernapas finansial, fleksibilitas, dan kemampuan beradaptasi; didukung adopsi AI untuk belajar mandiri serta peningkatan kapasitas diri di pasar kerja.
Jakarta, FORTUNE – Kekhawatiran turun kelas secara ekonomi justru menjadi pemicu Milenial dan Gen Z di Indonesia untuk menjadi lebih tangguh (resilient). Alih-alih pasrah menghadapi ketidakpastian ekonomi, mereka memilih beradaptasi.
Temuan tersebut terungkap dalam Indonesia Millennial & Gen Z Report 2027 bertajuk Adaptation as Strategy yang dipublikasikan IDN Research Institute dan dipaparkan Founder & COO IDN William Utomo pada ajang Indonesia Summit 2026 di The Tribrata, Jakarta, Rabu (17/6).
“Kekhawatiran ini tidak membuat mereka diam, tapi justru mendorong mereka belajar [pengelolaan] finansial, mencari pendapatan tambahan, dan membangun hidup yang lebih resilient,” ujar William.
Menurut dia, perubahan perilaku tersebut merupakan bagian dari strategi adaptasi generasi muda dalam menghadapi dinamika ekonomi yang terus berubah. Jika pada masa lalu kesuksesan identik dengan kepemilikan rumah, mobil, atau jabatan, kini Milenial dan Gen Z memaknainya secara lebih luas, mencakup fleksibilitas, penghasilan tambahan, komunitas, keterampilan, hingga rasa aman secara finansial.
Laporan tersebut juga menunjukkan struktur pasar Indonesia tengah mengalami pergeseran. Saat ini sekitar 50,4 persen masyarakat berada pada kelompok aspiring middle class, sehingga pelaku usaha dan pembuat kebijakan perlu memahami perubahan preferensi konsumen.
“Market bukan hilang, tetapi berubah bentuk. Dari status ke value, dari gengsi ke usefulness, dan dari prestige ke resilience,” kata William.
Ia menambahkan, generasi muda tidak berhenti berbelanja di tengah tekanan ekonomi, melainkan menjadi lebih selektif dalam menentukan pengeluaran. Konsumsi bergeser ke produk atau pengalaman yang dianggap bermakna dan memberikan nilai tambah.
Meski lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang, aktivitas pada ekosistem komunitas seperti fan economy dan creator economy tetap tumbuh. Pengeluaran untuk konser, merchandise, karya kreator, hingga aktivitas fandom dinilai bukan sekadar konsumsi, melainkan bagian dari identitas dan partisipasi sosial.
Laporan IDN juga menemukan banyak perempuan muda menjadi motor penggerak ekonomi pada ekosistem tersebut, mulai dari menjual tiket, merchandise, fan art, hingga menyediakan berbagai jasa yang berkaitan dengan komunitas.
Berdasarkan survei terhadap lebih dari 628 responden dan wawancara dengan lebih dari 17 narasumber di berbagai wilayah Indonesia, jumlah Milenial dan Gen Z kini mencapai sekitar 194 juta orang atau setara 68 persen populasi nasional. Dengan skala tersebut, mereka bukan lagi sekadar target pasar, melainkan wajah utama konsumen Indonesia saat ini.
William mengatakan kecemasan ekonomi juga mendorong anak muda membangun pekerjaan sampingan dan meningkatkan kapasitas diri agar tetap relevan di pasar kerja. Banyak di antara mereka mulai menyisihkan dana darurat, mencari produk keuangan yang transparan, dan terbuka terhadap instrumen investasi yang mudah dipahami.
“Keuangan tidak lagi hanya soal menjadi kaya. Sekarang lebih kepada apakah saya punya ruang bernapas secara finansial untuk hidup dengan tenang,” katanya.
Di sisi lain, adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) berlangsung makin cepat di kalangan Gen Z. Teknologi tersebut dimanfaatkan demi mempercepat proses belajar mandiri, mulai dari coding, desain, bahasa asing, hingga kemampuan berbicara di depan umum.
Laporan tersebut menyimpulkan bahwa kesuksesan bagi generasi muda saat ini ditopang oleh empat pilar utama, yakni meaning (makna hidup), financial breathing room (ruang bernapas secara finansial), fleksibilitas, dan kemampuan beradaptasi.
“Generasi ini sudah beradaptasi lebih dulu. Tugas kita sebagai brand, media, institusi, korporasi, maupun pembuat kebijakan adalah memahami cara baru mereka belajar, bekerja, dan membangun masa depan,” ujar William.

















