Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Bertemu di India, Mendag Sampaikan Sejumlah Isu ke UEA Soal IUAE-CEPA

Bertemu di India, Mendag Sampaikan Sejumlah Isu ke UEA Soal IUAE-CEPA
Menteri Perdagangan RI Budi Santoso melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Perdagangan Luar Negeri Uni Emirat Arab (UEA) Thani bin Ahmed Al Zeyoudi pada Jumat, (7/8) di Jaipur, India. Pertemuan dilaksanakan di sela-sela rangkaian BRICS Trade Ministers' Meeting (TMM) 2026 yang berlangsung pada 6–7 Agustus 2026. (Dok. Kemendag)
Intinya Sih
  • Mendag Budi Santoso dan Menteri Perdagangan Luar Negeri UEA membahas optimalisasi IUAE-CEPA, termasuk skema TRQ, transshipment, serta kasus antidumping kopolimer UEA di Jaipur.
  • Indonesia menargetkan Joint Committee Meeting kedua pada 2026 untuk menyelesaikan isu teknis implementasi IUAE-CEPA, setelah forum pertama pada Oktober 2024 menghasilkan sejumlah tindak lanjut.
  • UEA berencana membawa delegasi bisnis ke Indonesia; perdagangan bilateral Januari–Juni 2026 mencapai US$3,14 miliar, dengan ekspor Indonesia US$1,76 miliar dan impor US$1,38 miliar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, FORTUNE - Menteri Perdagangan, Budi Santoso, mendorong optimalisasi implementasi Indonesia-United Arab Emirates Comprehensive Economic Partnership Agreement (IUAE-CEPA) yang telah memasuki tahun ketiga, dalam pertemuan bilateral dengan Menteri Perdagangan Luar Negeri Uni Emirat Arab (UEA), Thani bin Ahmed Al Zeyoudi di Jaipur, India, Jumat (7/8).

Pertemuan yang berlangsung di sela-sela rangkaian BRICS Trade Ministers' Meeting (TMM) 2026 tersebut berfokus pada penyelesaian sejumlah ganjalan teknis guna memperluas manfaat perjanjian bagi pelaku usaha di kedua negara.

Isu strategis yang dibahas meliputi ketentuan skema Tariff Rate Quota (TRQ), mekanisme transshipment, hingga perkembangan kasus antidumping terhadap produk kopolimer asal UEA.

Budi menyatakan Indonesia berkomitmen menjaga implementasi IUAE-CEPA tetap transparan, akuntabel, serta sejalan dengan ketentuan kesepakatan dan prinsip Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

“Perjanjian IUAE-CEPA menjadi katalis yang mendorong peningkatan kerja sama perdagangan dan ekonomi kita ke tingkat yang lebih maju. Saya meyakini masih terdapat ruang yang sangat besar untuk semakin meningkatkan perdagangan, investasi, dan kerja sama ekonomi melalui pemanfaatan IUAE-CEPA secara optimal,” ujar Budi dalam keterangan resmi, Senin (10/8).

Ia menambahkan, penyelesaian berbagai isu teknis sangat penting agar keterlibatan dunia usaha semakin kuat.

“Indonesia juga terbuka untuk terus berdialog dalam menyelesaikan berbagai isu implementasi yang dihadapi pelaku usaha kedua negara,” ujarnya.

Sebagai langkah konkret, pemerintah membidik penyelenggaraan Joint Committee Meeting (JCM) kedua pada tahun ini guna menuntaskan seluruh persoalan yang masih mengganjal.

Sebelumnya, kedua negara telah menggelar JCM pertama pada 15–17 Oktober 2024 yang mencakup Committee on Trade in Goods, Islamic Economy Committee, dan Economic Cooperation Committee. Forum tersebut menghasilkan sejumlah tindak lanjut di bidang perdagangan barang, ekonomi Islam, serta kerja sama ekonomi.

“Saya berharap Joint Committee Meeting kedua tahun ini dapat menjadi momentum untuk menyelesaikan seluruh isu implementasi yang masih tersisa dengan cepat,” kata Budi.

Perjanjian IUAE-CEPA pertama kali berlaku efektif pada 1 September 2023 dan terus diproyeksikan menjadi pilar utama penguat hubungan ekonomi bilateral Indonesia dan UEA.

UEA siapkan delegasi Bisnis

Dalam pertemuan tersebut, Thani menyampaikan rencana membawa delegasi bisnis UEA ke Indonesia dalam waktu dekat. Kunjungan tersebut diharapkan dapat mempertemukan pelaku usaha kedua negara secara langsung sekaligus mengidentifikasi peluang perdagangan dan kerja sama yang dapat dikembangkan melalui IUAE-CEPA.

“Kami berkomitmen terus mendorong pemanfaatan IUAE-CEPA secara lebih optimal. Untuk itu, kami berencana membawa delegasi bisnis UEA ke Indonesia dan bertemu dengan pelaku usaha Indonesia,” kata Thani.

Menurut dia, pertemuan langsung antara pelaku usaha dapat membantu mengidentifikasi peluang baru yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal melalui perjanjian perdagangan tersebut.

Rencana tersebut menjadi salah satu langkah meningkatkan pemanfaatan IUAE-CEPA setelah perjanjian memasuki tahun ketiga implementasinya. Pemerintah Indonesia dan UEA berharap pelaku usaha dapat kian memanfaatkan berbagai fasilitas perdagangan yang tersedia dalam perjanjian.

Dari sisi nilai perdagangan, hubungan ekonomi kedua negara menunjukkan potensi cukup besar. Pada Januari–Juni 2026, total perdagangan Indonesia dan UEA mencapai US$3,14 miliar. Nilai tersebut terdiri atas ekspor Indonesia ke UEA sebesar US$1,76 miliar dan impor senilai US$1,38 miliar.

Sementara itu, sepanjang 2025, total perdagangan kedua negara mencapai US$6,42 miliar. Ekspor Indonesia mencapai US$4,02 miliar, sedangkan impor dari UEA mencapai US$2,39 miliar. Dengan demikian, Indonesia membukukan surplus perdagangan US$1,63 miliar terhadap UEA.

Komoditas utama ekspor Indonesia ke UEA antara lain perhiasan, lemak dan minyak hewani atau nabati, kendaraan dan bagiannya, mesin dan peralatan listrik, serta besi dan baja.

Share Article
Editorial Team

Latest in News

See More