Jakarta, FORTUNE - Piala Dunia 2026 yang digadang-gadang menjadi turnamen sepak bola terbesar sepanjang sejarah justru dibayangi kontroversi penjualan tiket. Di tengah harga tiket yang melambung hingga melampaui cicilan rumah bulanan di sejumlah kota Amerika Serikat, FIFA masih menghadapi masalah tak terduga: sekitar 180 ribu tiket belum terjual menjelang kick-off.
Turnamen yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko itu resmi dimulai pada Kamis (11/6). Namun, kebijakan harga tiket FIFA menuai kritik dari penggemar hingga regulator, bahkan memicu penyelidikan oleh sejumlah jaksa agung negara bagian di Amerika Serikat.
Berdasarkan laporan Realtor.com, yang mengutip firma riset properti PropertyShark, harga tiket termurah untuk sejumlah pertandingan fase akhir Piala Dunia di lima kota tuan rumah Amerika Serikat telah melampaui rata-rata cicilan kredit pemilikan rumah (KPR) bulanan setempat.
Untuk laga final yang akan berlangsung di Stadion MetLife, New Jersey, pada 19 Juli, tiket termurah dipasarkan seharga US$7.256. Angka itu jauh di atas rata-rata cicilan KPR bulanan di wilayah New York yang mencapai US$4.096 dan bahkan melampaui rata-rata biaya sewa rumah sebesar US$4.872 per bulan.
Fenomena serupa terjadi di sejumlah kota lain. Di Dallas, tiket semifinal termurah dijual US$2.391 atau sedikit di atas rata-rata cicilan KPR sebesar US$2.351. Di Atlanta, harga tiket termurah mencapai US$2.208, lebih tinggi dibandingkan cicilan rumah rata-rata sebesar US$2.149. Sementara itu, tiket termurah di Kansas City mencapai US$1.567, sedangkan rata-rata cicilan KPR di kota tersebut sebesar US$1.477.
Lonjakan harga tersebut membuat banyak penggemar mengurungkan niat untuk menonton langsung pertandingan. Survei LiveSportsonTV terhadap 1.008 penggemar sepak bola di Amerika Serikat menunjukkan 52 persen responden membatalkan rencana membeli tiket karena harganya dinilai terlalu mahal.
"Kami melihat harga yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk ajang seperti Piala Dunia karena faktor permintaan dan ketersediaan pasokan, sederhananya seperti itu," ujar Mark Sanaiha dari Macallan Capital, mengutip Fox Business.
"Selama bertahun-tahun, ekonomi berbasis pengalaman tumbuh lebih cepat dibandingkan kenaikan upah, dan generasi muda tampaknya tidak berniat mengubah tren tersebut," katanya.
Ironisnya, di tengah harga yang terus melonjak, FIFA masih harus berjuang mengisi kursi stadion. Menurut laporan Yahoo Sports, badan sepak bola dunia itu masih memiliki sekitar 180 ribu tiket yang belum terjual di berbagai kota tuan rumah.
Data dari platform penjualan kembali resmi FIFA menunjukkan sekitar 176 ribu tiket masih tersedia untuk pertandingan fase grup. Di situs penjualan utama FIFA, sekitar 15 ribu kursi untuk laga fase grup juga masih dapat dibeli secara langsung.
Bahkan untuk laga pembuka tim nasional Amerika Serikat melawan Paraguay, lebih dari 4.400 kursi masih tersedia melalui kanal resmi. Meski FIFA telah menawarkan sejumlah diskon, harga rata-rata tiket yang tersedia masih berada di atas US$800, sementara tiket langsung termurah dijual sekitar US$1.120.
Situasi ini berbanding terbalik dengan klaim FIFA pada Januari lalu yang menyebut situs penjualan tiketnya menerima lebih dari 500 juta permintaan pemesanan. Namun dalam beberapa bulan terakhir, harga median tiket di pasar penjualan kembali resmi FIFA tercatat turun sekitar 20 persen akibat melemahnya permintaan.
Kontroversi semakin besar karena FIFA untuk pertama kalinya menerapkan sistem dynamic pricing atau harga dinamis pada Piala Dunia. Skema tersebut memungkinkan harga tiket berubah mengikuti tingkat permintaan pasar.
Untuk laga final, misalnya, FIFA awalnya menjual tiket kategori termahal seharga US$6.730. Namun pada periode penjualan terbaru yang dimulai April, harga tiket di kategori yang sama melonjak menjadi US$10.990.
FIFA juga memperkenalkan kategori baru bernama Front Category yang menawarkan kursi baris depan stadion dengan harga premium. Untuk partai final, kursi baris depan di tribun bawah bahkan dibanderol lebih dari US$30.000.
Presiden FIFA Gianni Infantino membela kebijakan tersebut dengan alasan penyesuaian terhadap karakteristik pasar Amerika Utara. Ia bahkan memperkirakan Piala Dunia 2026 dapat menghasilkan pendapatan lebih dari US$11 miliar bagi FIFA, termasuk dari hak siar dan komersialisasi turnamen. Namun kebijakan itu kini menjadi sasaran penyelidikan hukum.
Jaksa Agung New York dan New Jersey telah membuka investigasi terhadap FIFA terkait praktik penjualan tiket. Penyelidikan tidak hanya menyasar harga tiket, tetapi juga proses distribusi, transparansi informasi, hingga kemungkinan praktik yang dinilai merugikan konsumen.
