Jakarta,FORTUNE – Grup keuangan asal Swiss, UBS, telah mengelola aset investasi senilai US$7 triliun per kuartal IV-2025. Bank yang berkantor pusat di Zurich ini juga telah beroperasi di lebih dari 50 negara di seluruh dunia.
Dalam Asian Investment Conference (AIC) yang berlangsung di Singapura dan Hong Kong pada 25-29 Mei 2026, UBS mempertemukan lebih dari 6.000 investor global dan memfasilitasi lebih dari 3.000 pertemuan dengan perusahaan publik, perusahaan swasta, dan investor.
Head of UBS Indonesia Research, UBS Investment Bank, Joshua Tanja, dalam kesempatan tersebut menyampaikan pandangan mengenai perekonomian Indonesia yang masih cukup positif, dengan pertumbuhan ekonomi kuat hingga kuartal I-2026.
“Untuk Indonesia, UBS optimis bahwa prospek pertumbuhan akan tetap stabil, didukung oleh permintaan domestik yang tangguh, kebijakan fiskal dan moneter yang bijaksana, serta momentum yang berkelanjutan di sektor manufaktur dan jasa,” ujar Joshua melalui keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Rabu (3/6).
Ia menambahkan, konsumsi rumah tangga menjadi daya ungkit perekonomian domestik, dengan dukungan fiskal yang tepat sasaran dan diharapkan dapat menopang pertumbuhan dalam jangka pendek.
Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Keuangan RI, Suahasil Nazara, menyatakan perekonomian Indonesia terus ditopang oleh faktor penggerak domestik yang kuat, termasuk konsumsi rumah tangga, investasi, manufaktur, dan jasa.
“Pada saat yang sama, disiplin fiskal tetap menjadi jangkar bagi kredibilitas kebijakan kami. Batas maksimal defisit sebesar 3 persen bukan hanya aturan fiskal, melainkan sebuah sinyal atas komitmen Indonesia terhadap pengelolaan ekonomi yang bijaksana dan berkelanjutan,” kata Suahasil.
Bahkan di tengah volatilitas global, pasar obligasi pemerintah Indonesia diklaim tetap tangguh, didukung oleh kredibilitas kebijakan dan basis investor domestik yang stabil.
Suahasil menambahkan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga akan terus berfungsi sebagai peredam kejut atau shock absorber, guna melindungi daya beli masyarakat serta menjaga stabilitas makroekonomi.
