Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
UBS Kelola Investasi US$7 triliun, Sebut Ekonomi RI Masih Positif
Ilustrasi Logo UBS Group/Dok UBS
  • UBS mengelola aset investasi senilai US$7 triliun dan menyelenggarakan Asian Investment Conference 2026 di Singapura serta Hong Kong, mempertemukan ribuan investor global dan perusahaan.
  • UBS menilai ekonomi Indonesia tetap positif dengan pertumbuhan 5,61 persen pada kuartal I-2026, didorong konsumsi rumah tangga, kebijakan fiskal-moneter bijak, serta sektor manufaktur dan jasa.
  • Wamenkeu Suahasil Nazara menegaskan kekuatan faktor domestik seperti konsumsi dan investasi, menjaga disiplin fiskal maksimal defisit 3 persen untuk stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta,FORTUNE – Grup keuangan asal Swiss, UBS, telah mengelola aset investasi senilai US$7 triliun per kuartal IV-2025. Bank yang berkantor pusat di Zurich ini juga telah beroperasi di lebih dari 50 negara di seluruh dunia.

Dalam Asian Investment Conference (AIC) yang berlangsung di Singapura dan Hong Kong pada 25-29 Mei 2026, UBS mempertemukan lebih dari 6.000 investor global dan memfasilitasi lebih dari 3.000 pertemuan dengan perusahaan publik, perusahaan swasta, dan investor.

Head of UBS Indonesia Research, UBS Investment Bank, Joshua Tanja, dalam kesempatan tersebut menyampaikan pandangan mengenai perekonomian Indonesia yang masih cukup positif, dengan pertumbuhan ekonomi kuat hingga kuartal I-2026. 

“Untuk Indonesia, UBS optimis bahwa prospek pertumbuhan akan tetap stabil, didukung oleh permintaan domestik yang tangguh, kebijakan fiskal dan moneter yang bijaksana, serta momentum yang berkelanjutan di sektor manufaktur dan jasa,” ujar Joshua melalui keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Rabu (3/6).

Ia menambahkan, konsumsi rumah tangga menjadi daya ungkit perekonomian domestik, dengan dukungan fiskal yang tepat sasaran dan diharapkan dapat menopang pertumbuhan dalam jangka pendek.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Keuangan RI, Suahasil Nazara, menyatakan perekonomian Indonesia terus ditopang oleh faktor penggerak domestik yang kuat, termasuk konsumsi rumah tangga, investasi, manufaktur, dan jasa. 

“Pada saat yang sama, disiplin fiskal tetap menjadi jangkar bagi kredibilitas kebijakan kami. Batas maksimal defisit sebesar 3 persen bukan hanya aturan fiskal, melainkan sebuah sinyal atas komitmen Indonesia terhadap pengelolaan ekonomi yang bijaksana dan berkelanjutan,” kata Suahasil.

Bahkan di tengah volatilitas global, pasar obligasi pemerintah Indonesia diklaim tetap tangguh, didukung oleh kredibilitas kebijakan dan basis investor domestik yang stabil.

Suahasil menambahkan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga akan terus berfungsi sebagai peredam kejut atau shock absorber, guna melindungi daya beli masyarakat serta menjaga stabilitas makroekonomi.

Editorial Team

Related Article