Jakarta, FORTUNE - ASEAN Economic UOB Enrico Tanuwidjaja menilai imbal hasil riil (real yield) Indonesia akan meningkat apabila inflasi tetap terkendali.
Real yield merupakan imbal hasil investasi setelah memperhitungkan inflasi. Semakin tinggi real yield, semakin besar potensi investor mempertahankan bahkan meningkatkan daya beli asetnya.
Menurut Enrico, real yield menjadi salah satu indikator yang lebih mencerminkan daya tarik investasi. Saat ini, Indonesia masih memiliki real yield sekitar 3,5 persen.
“Secara real yield sekarang masih belum atraktif banget. Tapi kalau inflasi terjaga dengan adanya shock absorber fiskal dan BI masih menaikkan suku bunga untuk menjaga stabilitas rupiah, menurut saya secara real masih akan meningkat,” ujarnya di Jakarta, Kamis (19/7).
Ia menjelaskan, BI kemungkinan masih akan mempertahankan kebijakan suku bunga untuk menjaga nilai tukar rupiah.
“Kalau rupiah melemah terus, inflasi akan meningkat. Karena itu stabilitas rupiah tetap perlu dijaga,” katanya.
Di sisi lain, Enrico memperkirakan inflasi Indonesia masih akan berada di bawah level 3 persen secara rata-rata. Menurutnya, hal itu dapat dicapai apabila pemerintah melakukan rekalibrasi belanja negara dengan mengalokasikan anggaran ke program-program yang lebih produktif.
Selain real yield, Enrico mengatakan investor juga mempertimbangkan risiko jatuh tempo, risiko nilai tukar, dan risiko likuiditas sebelum membeli Surat Berharga Negara (SBN).
Indonesia dinilai memiliki posisi yang cukup baik karena rata-rata tenor utang mencapai delapan tahun dan SBN dapat diperdagangkan di pasar sekunder sehingga likuiditasnya tetap terjaga.
Meski demikian, ia menilai keputusan investasi pada akhirnya tetap bergantung pada kondisi masing-masing investor.
“The real market, nah mungkin kita semua ya bisa tahu. Itu kan mulai alokasi pribadi ya. apakah cash flow saya begini gitu-gitu. buat saya lebih cocok lah. Tapi secara real menurut saya itu akan atraktif,” ujarnya.
