Wapres Ma'ruf Amin Terima Gelar Kehormatan dari Kesultanan Tidore

Jakarta, FORTUNE -Â Wakil Presiden (Wapres) Ma'ruf Amin menerima gelar kehormatan adat dari Kesultanan Tidore, Kamis (11/5). Ma'ruf mendapatkan gelar Nau Manyira Ngofa Kadato Nyili Gulu Gulu Kesultanan Tidore yang artinya Pangeran Sulung Anak Adat Kesultanan Tidore di Wilayah Jauh.
Upacara dimulai dengan pembacaan Surat Keputusan Sultan Tidore oleh Hukum Soasio (Menteri Dalam Negeri) Kesultanan Tidore.
Acara penganugerahan dilanjutkan dengan pemakaian baju adat Kesultanan Tidore berupa baju Belah Dada dan topi Besu.
Selanjutnya, dilakukan prosesi pengukuhan penganugerahan gelar adat kepada Ma'ruf oleh Sultan Tidore.
"Pada hari ini saya Sultan Tidore H. Husain Sjah mengukuhkan Bapak Prof. Dr. K. H. Ma'ruf Amin sebagai Nau Manyira Ngofa Kadato Nyili Gulu Gulu Kesultanan Tidore yang artinya Pangeran Sulung Anak Adat Kesultanan Tidore di Wilayah Jauh," ucap Sultan Tidore H. Husain Sjah, dikutip dalam keterangan resmi, Jumat (12/5).
Usai menerima penganugerahan, Ma'ruf memberikan ucapan terima kasih telah "mendapatkan gelar penghormatan yang disebut sebagai Nau Manyira Ngofa Kadato Nyili Gulu Gulu Kesultanan Tidore yang artinya Pangeran Sulung Anak Adat Kesultanan Tidore di Wilayah Jauh," katanya". Ini merupakan kehormatan yang luar biasa."
Kunjungan ke Maluku UtaraÂ
Ma'ruf melawat ke Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara, pada Kamis (11/5), untuk meresmikan Gedung Kuliah Terpadu dan bersilaturahmi dengan sivitas akademika Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ternate.
Menurutnya, pembangunan infrastruktur pendukung dalam bidang pendidikan ini penting sebagai bentuk penyiapan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing tinggi, khususnya dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Ia juga melawat ke Kantor Walikota Tidore Kepulauan untuk menghadiri Seminar Melacak Jalur Peradaban Rempah Dunia Enrique Maluku dengan tema "Pengeliling Dunia Pertama dari Tidore".
Dalam acara tersebut, ia mengingatkan kembali bahwa Tidore merupakan titik nol jalur rempah dunia. Sebab, sebelum Indonesia muncul sebagai sebuah negara, Maluku Utara diberi anugerah sumber daya alam berupa kekayaan rempah.
"Maluku Utara telah menarik para pedagang dari berbagai penjuru bahkan sebelum bangsa Eropa menginjak kaki di Nusantara," ujar Ma'ruf.
Menurutnya, literatur kuno mencatat bahwa peran rempah Nusantara telah membentuk peradaban dunia sejak ribuan tahun yang lalu.
Peneliti menemukan segenggam cengkeh pada wadah keramik yang terbakar di gurun pasir Suriah di tepi sungai Efrat pada era raja Yadi pada 1721 SM.
Padahal cengkeh adalah tanaman asli yang tumbuh di kepulauan Maluku. Hal tersebut membuktikan adanya aktivitas perdagangan yang bermula dari Nusantara.
Dalam perkembangannya, jalur perdagangan rempah semakin ramai hingga disebut sebagai jalur rempah, yang melaluinya pula agama-agama seperti Hindu, Budha, dan Kristen masuk ke Nusantara. Tidak terkecuali Islam, yang dibawa oleh para pedagang Arab dan India.


















