Comscore Tracker
SHARIA

Kemenag Siapkan Skema Satu Pintu dalam Penyelenggaraan Umrah

Jemaah berangkat dan pulang melalui Bandara Soetta.

Kemenag Siapkan Skema Satu Pintu dalam Penyelenggaraan UmrahMesjid Nabawi, Madinah. (Pixabay/Yasir Gurbuz)

by Bayu Pratomo Herjuno Satito

Jakarta, FORTUNE – Setelah Pemerintah Arab Saudi membuka kembali pintu ibadah umrah bagi dunia internasional, Kementerian Agama (Kemenag) terus berupaya menyelenggarakan umrah dengan sebaik mungkin, meskipun pandemi belum usai. Untuk itu, Kemenag pun menggelar pertemuan dengan Otoritas Bandara (Otban) Wilayah I untuk membahas persiapan keberangkatan umrah dengan skema satu pintu.

Kepala Sub Direktorat Pemantauan dan Pengawasan Umrah dan Haji Khusus, M Noer Alya Fitra yang juga akrab disapa Nafit, menjelaskan bahwa dengan skema satu pintu, pemberangkatan dan pemulangan Jemaah umrah dilakukan melalui satu titik, yaitu Bandara Soekarno-Hatta. Sedangkan, titik keberangkatan para Jemaah umrah akan diawali dari asrama haji.

“Jemaah umrah harus sudah clear di asrama haji, baik dari sisi kelengkapan dokumen perjalanan maupun kesehatannya. Oleh karena itu, kami sangat membutuhkan bantuan Otban untuk memastikan fasilitas asrama haji memenuhi persyaratan untuk diberlakukan sebagai tempat keberangkatan internasional, seperti pelayanan jemaah haji reguler,” ujar Nafit di laman resmi Kemenag (3/11).

Menurut Nafit, dengan pertimbangan pandemi yang masih terus berlangsung, skema ini akan memudahkan pengendalian, pengawasan, dan memastikan kesehatan, keamanan, serta keselamatan Jemaah umrah. Bersama Kementerian Kesehatan, pihaknya sudah menyiapkan regulasi teknis pelayanan kesehatan bagi Jemaah, seperti data sertifikat vaksin dan integrasi Sistem Komputerisasi Pengelolaan Terpadu Umrah dan Haji Khusus (Siskopatuh) melalui aplikasi PeduliLindungi.

Tanggapan dari Otoritas Bandara

Menanggapi skema umrah satu pintu ini, Kepala Otoritas Bandara Wilayah I, Yufridon Gandoz Situmeang mengapresiasi langkah Kemenag dalam persiapan penyelenggaraan umrah. Pihak Otban pun menyatakan siap untuk mendukung Kemenag, termasuk dalam berbagai koordinasi agar segala teknis keberangkatan, layanan penerbangan, dan bandara, siap saat umrah dibuka.

“Terkait hal teknis di asrama haji, kami akan segera melakukan evaluasi kesiapannya sebagai terminal internasional. Dengan konsep seperti haji reguler, berarti di asrama haji sudah melaksanakan pemeriksaan kesehatan dan imigrasi jemaah umrah, termasuk alat angkut dari asrama ke bandara harus benar-benar save dan secure,” kata Gandoz melanjutkan.

Usulan penerbangan langsung dan terpisah bagi para Jemaah umrah

Gandoz berpendapat, bahwa penerbangan Jemaah umrah akan lebih aman dengan penerbangan langsung. Selain itu, ia juga mengusulkan agar para Jemaah umrah tidak satu pesawat dengan penumpang reguler. Hal ini dianggap dapat menjamin keamanan Jemaah umrah dari paparan Covid-19 saat perjalanan.

Gandoz menegaskan bahwa Otban akan selalu menjamin keselamatan dan keamanan penerbangan, termasuk dalam penyelenggaraan umrah. “Kami juga berharap Kemenag bersama travel umrah menginformasikan secara lengkap kepada jemaah agar disiplin ikuti prokes, dalam rangka ketertiban dan kelancaran pelayanan di bandara,” ujarnya.

Kemenag pastikan layanan terbaik bagi haji dan umrah

Sebelumnya, dalam kesempatan berbeda, Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umroh (PHU), Hilman Latief, memastikan bahwa persiapan penyelenggaraan haji dan umrah akan dilakukan secara profesional, inklusif, terbuka, dan tidak diskriminatif. Hal ini sesuai dengan arahan Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas.

"Arahan Menag jelas dan tegas, pengelolaan dan penyelenggaraan ibadah haji dan umrah harus lebih inklusif karena ibadah ini milik semua umat Islam Indonesia dari berbagai kalangan, tanpa ada diskriminasi dan perbedaan, baik prioritas jemaah, penyelenggara maupun para pembimbing haji dan umrah," kata Hilman.

Menurutnya, semua Jemaah umrah dan haji harus dilayani dengan baik, apapun latar belakang daerah atau tradisi keagamaannya. Bahkan, Kemenag juga akan memperhatikan perbedaan karakter  dan kesesuaian dengan kebutuhan para Jemaah untuk menentukan pembimbing ibadah dan para petugas yang akan bekerja secara profesional.

Related Articles