Jakarta, FORTUNE - PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPN Syariah) menangguk laba bersih Rp655 miliar pada semester I-2026. Ini berarti kenaikan sekitar 1,7 persen dibandingkan dengan periode sama pada tahun lalu yang sebesar Rp644 miliar. Kinerja tersebut ditopang oleh kualitas pembiayaan yang tetap sehat, kendati mayoritas nasabah berada pada segmen mikro.
Direktur BTPN Syariah, Fachmy Achmad, menyebut pencapaian ini sebagai cermin perilaku positif nasabah mikro. Mereka dinilai kian tangguh mengelola usaha berkat efektivitas pendampingan bank yang berjalan konsisten.
“Memasuki tahun ke-12, kami akan terus memperkokoh fondasi melalui kualitas pembiayaan yang sehat serta bertumbuh lebih beragam melalui pengembangan inisiatif baru bagi nasabah Kami,” kata Fachmy melalui keterangan resmi, Jumat (24/7).
Ekspansi bisnis emiten berkode saham BTPS ini terus melaju penyaluran pembiayaan bertumbuh 9 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) hingga menembus Rp11 triliun pada enam bulan pertama 2026.
Pertumbuhan ini diimbangi dengan asas kehati-hatian yang ketat. Hal itu terbukti dari rasio pembiayaan bermasalah atau Non-Performing Financing (NPF) yang susut ke level 2,36 persen pada Juni 2026. Angka ini membaik cukup tajam ketimbang periode yang sama tahun lalu pada level 3,14 persen.
Menurut Fachmy, kualitas pembiayaan adalah cermin ganda. Ia tak sekadar memantulkan kesehatan bisnis bank, tetapi juga menjadi indikator naiknya kapasitas dan daya tahan nasabah.
Kini, perseroan mulai meraba ceruk baru. BTPN Syariah membuka ruang pertumbuhan pada pembiayaan non-komunitas sebagai strategi jangka panjang. Ekspansi ini mencakup pinjaman individu hingga kucuran dana ke lembaga non-keuangan.
“Melalui perluasan segmen pembiayaan ini, bank berupaya memperkuat fondasi bisnis, membuka peluang pertumbuhan baru dan berkelanjutan, serta menciptakan nilai yang lebih besar bagi seluruh pemangku kepentingan,” katanya.
Rentetan capaian di atas membuat pundi-pundi aset perseroan kian gemuk. Total aset BTPN Syariah terungkit 8 persen (YoY) menjadi Rp23 triliun pada akhir Juni 2026.
Ketahanan modal dan rentabilitas bank turut menorehkan catatan solid. Rasio Imbal Hasil Aset atau Return on Asset (RoA) bertengger kokoh pada level 7,2 persen. Sementara itu, Rasio Kecukupan Modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) tercatat sangat tebal pada 58,7 persen.
