Jakarta, FORTUNE – PT Bank Syariah Indonesia Tbk (Persero) (BSI) meraup laba bersih Rp4,16 triliun pada semester I-2026, tumbuh 11 persen secara tahunan (year-on-year). Capaian positif bank syariah terbesar di Indonesia ini didorong oleh pesatnya ekspansi ekosistem bisnis emas, pertumbuhan penyaluran pembiayaan berkualitas, serta akselerasi transaksi digital yang menopang kenaikan total aset perseroan sebesar 16 persen menjadi Rp464,5 triliun.
Pertumbuhan aset perseroan berjalan seiring dengan penguatan struktur pendanaan. Dana Pihak Ketiga (DPK) BSI melonjak 22 persen (YoY) mencapai Rp393 triliun per Juni 2026. Penopang utama DPK bersumber dari peningkatan dana murah (Current Account Saving Account/CASA) yang mencapai Rp238 triliun.
Dari sisi intermediasi, penyaluran pembiayaan BSI tumbuh merata pada seluruh segmen. Segmen pembiayaan konsumer menjadi kontributor terbesar senilai Rp189,25 triliun, diikuti segmen wholesale sebesar Rp95 triliun, serta segmen ritel dan UMKM senilai Rp55,83 triliun. Ekspansi ini diimbangi dengan kualitas aset yang terjaga, tecermin pada rasio pembiayaan bermasalah Non-Performing Financing (NPF) Gross sebesar 1,80 persen dan NPF Net pada level 0,33 persen.
Diversifikasi pendapatan BSI juga makin solid dengan lonjakan Fee Based Income (FBI) sebesar 38,15 persen menjadi Rp4,1 triliun. Lonjakan pendapatan berbasis komisi ini dipicu oleh pertumbuhan ekosistem bisnis emas dan transaksi digital. Dari total 24,3 juta nasabah BSI, perseroan kini mengelola 24 ton emas dengan perincian 1,22 juta nasabah layanan emas, 594.000 nasabah cicil emas, serta 209.000 nasabah gadai emas.
Pada sektor transaksi digital, BSI melayani lebih dari 585.000 merchant QRIS dan 7,69 juta nasabah haji hingga pertengahan 2026. Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo, menjelaskan ekspansi layanan ini ditopang oleh investasi berkelanjutan pada teknologi informasi guna menghadirkan pengalaman transaksi yang cepat dan aman.
"Teknologi bukan lagi sekadar fungsi pendukung operasional. Bagi BSI, teknologi telah menjadi mesin pertumbuhan bisnis. Semakin baik pengalaman nasabah, semakin tinggi tingkat kepercayaan, semakin besar akuisisi nasabah, dan semakin luas peluang untuk mengembangkan seluruh ekosistem layanan keuangan syariah," kata Anggoro dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (21/8).
