Google Bangun Data Center Pertama di Wyoming Senilai Rp308 T

Google menyiapkan investasi US$17 miliar untuk membangun data center pertamanya di Wyoming bersama sejumlah mitra energi.
Fasilitas tersebut akan menggunakan pendingin udara dan pembangkit fuel cell berbahan bakar gas alam dengan teknologi penangkapan karbon.
Proyek ini mendapat perhatian warga setempat, sementara Google juga menyiapkan Community Council untuk merespons kekhawatiran masyarakat.
Jakarta, FORTUNE - Perusahaan teknologi asal Amerika Serikat (AS), Google, berencana membangun pusat data (data center) pertamanya di Wyoming, negara bagian Amerika Serikat (AS), dengan nilai investasi US$17 miliar atau sekitar Rp308 triliun (asumsi kurs Rp18.112 per dolar AS).
Fasilitas tersebut akan berlokasi di Laramie County dan dikembangkan bersama Tallgrass Energy, Black Hills Energy, American Electric Power (AEP), serta Related Digital.Rencana ekspansi dan investasi jumbo itu mengemuka di tengah meningkatnya kekhawatiran publik akan dampak pembangunan pusat data terhadap pemakaian air dan listrik secara masif.
Namun, Google menyatakan akan menanggung seluruh biaya listrik yang digunakan fasilitas tersebut, termasuk kebutuhan infrastruktur yang muncul akibat ekspansi proyek.
Data center itu juga akan menggunakan sistem pendingin udara, bukan air, sehingga diharapkan tidak menambah tekanan terhadap pasokan air setempat.
“Untuk memasok kebutuhan listrik, proyek tersebut telah dikontrak dengan AEP melalui pengembangan pembangkit fuel cell berkapasitas 702 megawatt (MW) yang menggunakan gas alam sebagai bahan bakar. Fuel cell tersebut akan diproduksi oleh Bloom Energy,” ujar perusahaan dikutip dari QZ.com, Jumat (6/11).
Google mengatakan sebagian besar emisi dari pembangkit akan ditangkap melalui teknologi carbon capture and storage (CCS) dan disimpan di Tallgrass Eastern Wyoming Sequestration Hub. Namun, Google belum mengungkapkan secara spesifik berapa persentase emisi yang dapat ditangkap.
Selain pembangkit tersebut, Google akan mendapatkan pasokan listrik dari fasilitas berbahan bakar gas alam yang dioperasikan Tallgrass dan Black Hills Energy. Google bersama Tallgrass juga tengah melakukan studi teknik dan desain untuk memasang teknologi penangkapan karbon pada turbin combined-cycle milik perusahaan energi tersebut.
Black Hills sebelumnya menyatakan telah menandatangani perjanjian definitif untuk memasok listrik ke data center yang direncanakan. Perjanjian tersebut berlaku efektif sejak 30 September 2026.
Sebagai bagian dari proyek tersebut, Black Hills berencana menginvestasikan sekitar US$1,8 miliar pada 2027–2029 untuk membangun pembangkit listrik berbahan bakar gas alam berkapasitas 564 MW. Perusahaan akan menyediakan layanan listrik hingga 590 MW yang terhubung dengan jaringan serta mengelola sumber daya listrik pihak ketiga berkapasitas 2,1 gigawatt (GW) melalui jaringan mikrogrid privat.
Layanan energi untuk data center dijadwalkan mulai beroperasi pada akhir 2027 dan meningkat secara bertahap hingga mencapai beban puncak pada 2030. Black Hills memperkirakan proyek tersebut dapat menghasilkan laba bersih sekitar US$150 juta pada 2030.
Di sisi lain, Google memperkirakan proyek ini akan memberikan tambahan penerimaan pajak properti bagi Laramie County dan School District 1 hingga ratusan juta dolar AS.
Namun, rencana pembangunan tersebut juga mendapat perhatian dari masyarakat setempat.
Google bertemu dengan lebih dari 200 warga Laramie County dalam pertemuan komunitas di pusat Kota Cheyenne. Sejumlah warga menyampaikan kekhawatiran mengenai dampak ekspansi data center terhadap kota tersebut.
Untuk merespons kekhawatiran itu, Google bersama para mitra dan Bloom Energy akan membentuk Community Council yang bertugas mengembangkan solusi bagi Cheyenne.
Sementara itu, AEP pada Oktober 2026 menyatakan akan menginvestasikan sekitar US$4 miliar untuk pembangunan pembangkit fuel cell tersebut berdasarkan perjanjian jual beli listrik atau power purchase agreement (PPA) selama 20 tahun dengan Google. Pembangkit tersebut ditargetkan beroperasi penuh pada akhir 2028.
Proyek data center Wyoming sebelumnya diumumkan Crusoe bersama Tallgrass pada Juli 2025. Namun, menurut laporan Bloomberg, Crusoe dikeluarkan dari proyek pada Juni 2026 setelah Google menyampaikan kekhawatiran terkait biaya dan jadwal pembangunan. Black Hills kemudian menyatakan proyek tersebut tetap dilanjutkan tanpa Crusoe.
Pengumuman Google juga muncul dua hari setelah pemilih di AS menyetujui pembatasan terhadap pembangunan data center dalam 40 dari 41 pemungutan suara lokal yang digelar di berbagai wilayah AS.
Investasi Kampus dan Data Center di Malaysia
Sebelumnya, Google juga menyatakan rencana investasinya senilai US$15 miliar atau sekitar Rp270 triliun di Malaysia pada 2027–2028. Investasi tersebut akan dialokasikan untuk pembangunan kampus pusat data, pengembangan energi bersih, penguatan ketahanan air, serta peningkatan keterampilan tenaga kerja.
Dilansir dari Reuters, Google, menyatakan investasi tersebut akan mencakup pembangunan kampus baru di negara bagian Selangor dan Negeri Sembilan, selain kampus pertamanya di Elmina Business Park, Selangor, yang saat ini telah beroperasi.
Presiden dan Chief Investment Officer Alphabet dan Google, Ruth Porat, mengatakan investasi tersebut sejalan dengan prioritas pembangunan Malaysia. Menurut dia, proyek itu akan menyediakan kapasitas komputasi yang dibutuhkan untuk mendorong inovasi di Malaysia sekaligus menambah kapasitas listrik dan sumber daya air lokal seiring dengan ekspansi operasional Google.
Setelah beroperasi, fasilitas tersebut diproyeksikan menopang lebih dari 9.000 lapangan kerja lokal per tahun, dengan tingkat upah rata-rata 45% lebih tinggi dibandingkan median upah nasional.
Selain pembangunan pusat data, Google juga berencana menambah lebih dari 1 gigawatt (GW) kapasitas energi bersih ke jaringan listrik nasional Malaysia.
Google menyatakan akan menanggung 100 persen biaya listrik yang digunakan oleh kampus pusat datanya. Perusahaan juga akan membiayai seluruh biaya infrastruktur langsung yang diperlukan untuk menghubungkan fasilitas tersebut ke jaringan listrik, dengan tetap mematuhi seluruh ketentuan dan regulasi lokal yang berlaku.




















