Jakarta, FORTUNE - Ketika kecerdasan buatan (AI) semakin banyak digunakan dalam operasional bisnis, perusahaan tidak lagi hanya memikirkan bagaimana mengadopsi teknologi terbaru. Mereka juga harus memastikan siapa yang mengendalikan data, sistem, dan infrastruktur yang menopang teknologi tersebut.
Di sinilah konsep digital sovereignty atau kedaulatan digital menjadi semakin relevan. Menurut Catherine Lian, General Manager IBM ASEAN, konsep tersebut tidak boleh dipersempit hanya sebagai persoalan lokasi penyimpanan data.
"Di IBM, kedaulatan digital adalah kemampuan organisasi untuk memiliki otoritas atas teknologi dan memanfaatkannya sesuai kebutuhan mereka sendiri, dengan tetap menjaga kontrol, transparansi, dan kebebasan memilih, sambil terus berinovasi dengan cepat," ujarnya kepada Fortune Indonesia (2/6).
Dalam konteks perusahaan, kedaulatan digital mencakup kendali terhadap data, perangkat lunak, dan infrastruktur digital yang digunakan dalam seluruh aktivitas bisnis. Bagi IBM, kemampuan untuk mempertahankan kontrol tersebut harus dirancang sejak awal melalui arsitektur teknologi yang tepat.
Menurut Catherine, pertanyaan yang semakin penting saat ini bukan lagi sekadar di mana data disimpan.
"Saat ini, kedaulatan digital bukan lagi sekadar tentang di mana data disimpan. Yang lebih penting adalah apakah kita dapat membuktikan siapa yang memiliki akses terhadap data tersebut, apakah kita memiliki kebebasan untuk memindahkan beban kerja dan berganti penyedia layanan, bahkan ketika teknologi, regulasi, dan risiko terus berkembang," katanya.
Pernyataan tersebut mencerminkan perubahan besar dalam cara perusahaan memandang transformasi digital. Jika sebelumnya fokus utama berada pada efisiensi dan akselerasi inovasi, kini aspek tata kelola, transparansi, dan fleksibilitas menjadi pertimbangan yang sama pentingnya.
