Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

Bali Diserbu Wisatawan, Tapi Tingkat Hunian Hotel Tak Ikut Terkerek

Sanur
Symphony of Indonesia di Bali Beach Hotel Sanur (IDN Times/Ayu Afria)
Intinya sih...
  • Ledakan jumlah vila juga berpengaruh ke situasi perhotelan.
  • Kunjungan turis asing ke Bali meningkat 11,2 persen, mencapai 7 juta orang.
  • Permintaan dari sektor pemerintah dan korporasi menyusut.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Bali tengah menghadapi situasi paradoksal di tengah euforia pemulihan pariwisata awal 2026. Meski jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) membuat rekor baru, tingkat hunian hotel di Pulau Dewata justru tidak bergerak sebanding.

Senior Associate Director Colliers Indonesia, Ferry Salanto, menyebut kondisi ini sebagai fenomena unik dalam siklus industri pariwisata. Menurutnya, lonjakan wisatawan tidak otomatis mendongkrak kinerja hotel karena struktur pasar akomodasi telah berubah signifikan.

“Kalau di Bali situasinya sekarang cukup unik, boleh dibilang paradoks. Jumlah wisatawan ini terus naik, tapi okupansi hotel tidak ikut melonjak,” kata Ferry dalam paparan pasar properti secara virtual, Rabu (7/1).

Data Kementerian Pariwisata menunjukkan kunjungan wisman ke Bali sepanjang 2025 meningkat 11,2 persen dibandingkan dengan 2024. Jumlah turis asing tumbuh dari 6,3 juta orang menjadi sekitar 7 juta orang.

Angka tersebut telah melampaui level pra-pandemi, dengan Australia tetap menjadi pasar utama, disusul Tiongkok, India, dan negara-negara Eropa. Namun, pertumbuhan ini ternyata tidak sepenuhnya mengalir ke sektor perhotelan konvensional.

Berdasarkan data Colliers Indonesia, okupansi hotel Bali sempat melonjak ke kisaran 65–70 persen pada 2023. Namun, pada 2024 hingga proyeksi 2025, angka tersebut relatif tertahan pada rentang 70–75 persen.

Salah satu penyebab utamanya adalah ledakan suplai vila, khususnya unit yang tidak terdaftar secara resmi. Akomodasi jenis ini menawarkan ruang lebih luas dengan harga lebih kompetitif, sehingga menggeser preferensi wisatawan.

“[Vila jenis itu] menawarkan harga lebih murah dan ruang lebih besar sehingga mengubah pangsa pasar hotel,” kata Ferry.

Selain itu, pelemahan permintaan domestik turut menekan hotel. Sektor pemerintah dan korporasi yang biasanya menopang tingkat hunian melalui kegiatan MICE kini cenderung menyusut.

“Anggaran juga dipangkas, MICE menyusut, dan ini juga memukul hotel-hotel yang selama ini bergantung pada event,” ujarnya.

Di sisi lain, hotel di Bali sebenarnya telah melakukan penyesuaian harga cukup agresif. Daya beli turis asing yang kuat memberi ruang bagi hotel untuk menaikkan tarif kamar.

“Harga kamar hotel naik cukup agresif, didukung oleh daya beli turis asing dan juga length of stay yang sedikit lebih panjang,” kata Ferry.

Namun, tantangan klasik seperti kemacetan lalu lintas yang makin parah kini mempengaruhi perilaku tamu. Mobilitas yang sulit membuat banyak wisatawan enggan berpindah-pindah hotel selama masa liburan mereka.

Ke depan, kebijakan moratorium pembangunan hotel dan vila baru dipandang sebagai peluang untuk menyeimbangkan pasar karena sisi suplai bisa lebih terkendali.

“Bali [bisa] diarahkan bukan lagi [untuk] pariwisata massal, tapi destinasi premium yang lebih berkelanjutan,” ujar Ferry.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bonardo Maulana
EditorBonardo Maulana
Follow Us

Latest in Business

See More

Gelombang Milk Tea Cina, Ekspansi Agresif dan Pola Baru Pemasaran

08 Jan 2026, 12:09 WIBBusiness