Jakarta, FORTUNE - Sektor energi dan pertambangan menjadi industri yang paling besar menanggung pengeluaran kesehatan karyawan paling besar di Indonesia. Dalam tiga bulan pertama 2026, rata-rata biaya layanan kesehatan yang ditanggung perusahaan di sektor tersebut mencapai Rp2,3 juta per peserta, jauh melampaui sektor teknologi, perbankan, ritel, hingga manufaktur.
Temuan itu berasal dari laporan Indonesia Employee Health & Benefit Insight 2026 yang disusun Halodoc berdasarkan lebih dari 1 juta transaksi layanan kesehatan selama kuartal I-2026. Studi tersebut mencakup lebih dari 3.000 diagnosis ICD-10 dari lebih dari 30 sektor industri di Indonesia.
Chief Marketing Officer Halodoc, Fibriyani Elastria, mengatakan, sektor energi dan pertambangan juga menjadi industri dengan tingkat pemanfaatan manfaat kesehatan (medical benefit) tertinggi. Sebanyak 44 persen pekerja di sektor tersebut memanfaatkan fasilitas kesehatan yang disediakan perusahaan.
Sebagai perbandingan, tingkat pemanfaatan manfaat kesehatan di sektor teknologi mencapai 40 persen dengan rata-rata biaya Rp1 juta per peserta. Sementara itu, sektor perbankan mencatat rata-rata biaya Rp680 ribu, ritel Rp500 ribu, sedangkan manufaktur menjadi salah satu sektor dengan biaya kesehatan terendah, yakni sekitar Rp465 ribu per peserta selama tiga bulan.
"Tingginya biaya di sektor energi dan pertambangan dipengaruhi karakter pekerjaan yang lebih kompleks, memiliki risiko lebih tinggi, serta umumnya didukung manfaat kesehatan yang lebih lengkap," kata Fibriyani, dalam peluncuran laporan tersebut di Jakarta, Kamis (16/7).
Menurut Halodoc, kelompok pekerja berusia 30–39 tahun menjadi kontributor terbesar terhadap total pengeluaran kesehatan perusahaan karena mayoritas berada pada usia produktif dan telah memiliki keluarga. Namun, rata-rata biaya per peserta justru paling tinggi berasal dari pekerja berusia di atas 50 tahun, seiring meningkatnya kebutuhan penanganan penyakit kronis.
