Bos Arwana Bangun Industri Keramik dari Modal Kepercayaan

Tandean Rustandy membangun PT Arwana Citramulia Tbk dari latar sederhana dengan prinsip integritas, profesionalisme, dan tanggung jawab sosial.
Dengan modal utama berupa kepercayaan, Tandean berani menanggung risiko pribadi.
Strategi fokus pada pasar menengah ke bawah membuat Arwana tumbuh pesat, bertahan saat krisis 1998.
Jakarta, FORTUNE - Di sebuah sudut pabrik keramik di Ogan Ilir, Sumatra Selatan, suara mesin produksi menderu tanpa henti. Lembaran ubin keluar dari jalur produksi, rapi dan seragam.
Di balik kisah itu berdiri sosok Tandean Rustandy, pendiri dan CEO PT Arwana Citramulia Tbk. Pria kelahiran Pontianak ini bukan pewaris kerajaan bisnis besar. Ia tumbuh dari keluarga sederhana, di tengah keterbatasan yang nyata. Namun, justru dari situ lahir keyakinan yang membentuk jalan hidupnya—membangun perusahaan yang berdiri di atas integritas, profesionalisme, dan dampak sosial.
Perjalanan Tandean menuju dunia industri bermula jauh dari pabrik keramik. Setelah menyelesaikan pendidikan di University of Colorado Boulder di Amerika Serikat, ia pulang ke Indonesia dan bekerja sebagai profesional. Namun, pengalaman itu justru meninggalkan luka.
Ia menyaksikan langsung bagaimana sebagian perusahaan dijalankan semata-mata demi kepentingan pribadi pemiliknya. Kerugian bisnis tak menjadi masalah selama gaya hidup tetap terjaga.
“Yang penting dia punya teman. Dia masih tinggal di Menteng. Dia masih punya Mercy. Perusahaan enggak ada, enggak apa-apa. Nanti kan bisa pinjam duit lagi, bangun lagi,” ujarnya kepada Fortune Indonesia.
Baginya, pola pikir seperti itu tidak bisa diterima. Kekecewaan itu justru menjadi bahan bakar untuk membangun sesuatu yang berbeda—sebuah perusahaan yang tidak bergantung pada kekuasaan, tidak bersandar pada koneksi politik, dan benar-benar melayani kebutuhan masyarakat.
“Saya ingin menciptakan perusahaan yang tidak bersentuhan dengan kekuasaan dan politik,” ujarnya.
Pada awal 1990-an, Tandean melihat satu kenyataan besar di Indonesia: sebagian besar masyarakat masih hidup dalam keterbatasan ekonomi. Lebih dari 70 persen penduduk Indonesia kala itu berada di lapisan berpenghasilan rendah. Kebutuhan dasar seperti bahan bangunan yang terjangkau masih jauh dari memadai.
Dari situ lahir gagasan untuk membangun industri bahan bangunan yang menyasar masyarakat luas.
Pada 1993, berdirilah Arwana—sebuah nama yang bukan sekadar merek, melainkan simbol inklusivitas. Arwana adalah akronim dari Arab, Jawa, dan Cina, mewakili latar belakang para pendirinya.
Namun, perjalanan awal perusahaan ini tidaklah mulus. Modal Tandean terbatas. Bahkan, kepemilikan sahamnya di awal perusahaan berdiri merupakan yang paling kecil di antara para pendiri.
“Uang saya enggak cukup, enggak banyak. Saya punya modal cuma dipercaya, jadi saya bisa mengelola,” katanya.
Justru dari yang kepercayaan itulah seluruh perjalanan Arwana dibangun.

Kepercayaan itu diuji sejak awal. Ketika perusahaan membutuhkan pinjaman bank, hanya Tandean yang berani memberikan personal guarantee—jaminan pribadi yang berarti seluruh risiko ada di pundaknya.
“Kalau ada apa-apa, saya yang tanggung. Bank cuma cari aku,” katanya.
Keputusan itu bukan hanya soal keberanian, tetapi juga tentang komitmen terhadap prinsip profesionalisme. Tekanan dari pemegang saham lain pun datang. Ada yang mencoba menitipkan orang dalam posisi strategis perusahaan.
“Mau titip orangnya, pegang itu, pegang ini,” ujarnya.
Namun Tandean menolak. Prinsip tersebut membuatnya bahkan menahan diri untuk tidak membagikan dividen pada masa awal perusahaan. Keputusan yang tidak populer bagi sebagian pemegang saham.
“Kalau kita bagi dividen, utang bisa tambah gede, perusahaan bisa jebol,” katanya.
Pendekatan konservatif itu terbukti menjadi tameng ketika badai krisis moneter menerpa Indonesia pada 1998. Saat banyak perusahaan tumbang karena utang dalam valuta asing, Arwana tetap mampu membayar kewajibannya dan bahkan mencetak keuntungan.
Menariknya, Tandean tidak pernah memandang bisnis sebagai arena kompetisi langsung.
“Saya enggak pernah mau bersaing sama siapa pun,” katanya.
Alih-alih bertarung di pasar yang sama dengan pemain besar, Arwana memilih menciptakan pasar sendiri—melayani segmen menengah ke bawah yang selama ini diabaikan industri.
Strategi itu terbukti efektif. Dengan merek Arwana, perusahaan berhasil menguasai segmen tersebut. Setelah pasar terbentuk, perusahaan kemudian mengembangkan strategi multi-merek untuk mengikuti pertumbuhan daya beli konsumennya.
Dari perusahaan yang dulu dianggap nobody, Arwana kini menjelma menjadi salah satu pemain utama industri keramik nasional.
Bahkan, Arwana secara konsisten meraih Penghargaan Industri Hijau dari Kementerian Perindustrian sejak 2011 hingga sekarang.















