Brand Parfum Lokal Nilai Tren Dupe Tak Jadi Ancaman Industri

- Fenomena parfum dupe makin ramai di pasar, namun pelaku industri lokal menilai tren ini bukan ancaman melainkan peluang memperluas kesadaran masyarakat terhadap kategori parfum.
- Pendiri Kitschy melihat produk terjangkau bisa jadi pintu masuk bagi konsumen baru, meski brand tetap fokus menciptakan aroma orisinal dan tidak menjadikan strategi dupe sebagai arah utama bisnis.
- HMNS menegaskan produk 'inspired by' punya pasar sendiri, sementara mereka memilih mempertahankan prinsip orisinalitas dalam setiap kreasi aroma untuk menjaga identitas brand.
Jakarta, FORTUNE - Munculnya parfum dupe atau produk dengan aroma yang terinspirasi dari parfum populer semakin marak di pasar. Namun sejumlah pelaku industri menilai fenomena ini tidak selalu menjadi ancaman bagi brand parfum lokal.
Pendiri Kitschy, Emiria Larasati dan Eduardus Adityo, menilai kehadiran parfum dengan harga lebih terjangkau justru bisa menjadi pintu masuk bagi konsumen untuk mulai mengenal kategori parfum.
“Dalam kondisi ekonomi seperti sekarang, wajar kalau konsumen memilih produk yang lebih terjangkau. Kalau mereka bisa mendapatkan sesuatu yang membuat mereka senang dengan harga lebih murah, menurut kami itu tidak masalah,” ujar Eduardus yang kerap disapa Edo, pada Fortune Indonesia, dikutip Jumat (13/3).
Menurut mereka, semakin banyak brand yang hadir di pasar dapat memperluas kesadaran masyarakat terhadap produk parfum. Setelah konsumen mulai terbiasa memakai parfum, mereka biasanya akan mengeksplor berbagai pilihan lain yang tersedia di pasar.
Meski begitu, Kitschy menegaskan bahwa mereka tidak menjadikan strategi dupe sebagai arah utama bisnisnya. Brand tersebut memilih menekankan pada pengembangan aroma yang orisinal, terutama pada koleksi-koleksi terbaru.
Pandangan serupa juga disampaikan oleh brand parfum lokal HMNS. Menurut Founder dan CEO HMNS, Rizky Arief Dwi Prakoso, kehadiran produk “inspired by” atau terinspirasi dari parfum lain tidak selalu merugikan industri.
“Tidak juga merugikan. Mungkin memang tidak membawa inovasi baru, tapi mereka punya pasarnya sendiri,” ujarnya.
HMNS sendiri memilih tetap berfokus pada penciptaan aroma yang orisinal dan memiliki makna tersendiri bagi brand.
“Kalau kami ingin membawa brand dengan kreasi yang original, itu prinsip yang ingin kami pertahankan,” katanya.
Dengan semakin banyaknya pemain di pasar, pelaku industri menilai pasar parfum di Indonesia masih memiliki ruang untuk berbagai segmen, mulai dari produk yang lebih terjangkau hingga parfum dengan konsep yang lebih eksklusif.


















