Danantara Pantau Kinerja GOTO untuk Tambah Kepemilikan Saham

- Danantara masih memantau kinerja investasi di GOTO sebelum memutuskan penambahan kepemilikan saham, menunggu arah strategi dan rencana bisnis yang lebih jelas.
- CEO Danantara menegaskan investasi di GOTO tidak hanya untuk keuntungan finansial, tetapi juga demi meningkatkan kesejahteraan pengemudi ojek online melalui perlindungan sosial dan bonus hari raya.
- GOTO mencatat laba bersih perdana Rp170,7 miliar pada kuartal I-2026 dengan pertumbuhan pendapatan 26 persen menjadi Rp5,3 triliun dibanding periode sama tahun sebelumnya.
Jakarta, FORTUNE - Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara tampaknya tidak ingin terburu-buru mengayunkan langkahnya di pasar modal. Meski pintu menambah kepemilikan saham di PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) masih terbuka, lembaga anyar tersebut masih menunggu game plan yang matang dan bukti kinerja yang solid.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, menyatakan pihaknya tengah memantau dengan saksama perkembangan investasinya di perusahaan ride-hailing tersebut. Baginya, investasi bukan sekadar menanam modal, melainkan memastikan adanya imbal hasil nyata.
“Kita lihat aja itu tidak hanya investasi. Namun kita melihatnya memang seharusnya bisa menghasilkan profit yang baik,” ujar Pandu saat ditemui di kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Senin (11/5).
Hingga kini, Danantara belum mematok target pasti porsi saham tambahannya. Pandu mengisyaratkan bahwa strategi besar tengah digodok.
“Kita nanti lihat saja. Kalau sudah ada game plan, nanti kami komunikasikan ke publik,” katanya.
Saat ini, kepemilikan Danantara di GOTO masih di bawah satu persen. Namun, Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Roeslani, mengatakan keterlibatan mereka di GOTO turut membawa misi sosial: mengangkat derajat para pengemudi ojek daring (ojol).
Persoalan perlindungan sosial melalui BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan, hingga urusan Bonus Hari Raya (BHR), kini menjadi perhatian utama.
“Yang penting buat kita ini adalah kesejahteraan ojol. Bagaimana kita bisa meningkatkan kesejahteraan ojol,” ujar Rosan, Selasa (5/5).
Rosan melontarkan kritik halus terhadap fenomena cash burning alias bakar uang demi promosi agresif yang selama ini melanda industri platform digital. Alih-alih menghamburkan ratusan juta dolar untuk berebut pasar, Rosan mengusulkan agar dana tersebut dialihkan untuk menyokong kesejahteraan mitra pengemudi.
“Kita ajak ngomong saja yang lain, ‘Udah enggak usah kita burning cash seperti ini, mendingan dana ini kita pakai untuk kepentingan ojol’,” katanya.
Meski belum memerinci besaran tambahan saham yang akan diakumulasi, Rosan memberi sinyal kuat bahwa perjalanan Danantara di GOTO masih panjang.
“Nanti, ya, masih berlanjut,” ujarnya.
Ambisi Danantara ini bertepatan dengan momentum positif GOTO. Untuk pertama kalinya, emiten teknologi ini berhasil membalikkan keadaan. Berdasarkan laporan keuangan kuartal I-2026, GOTO membukukan laba bersih Rp170,7 miliar, dibandingkan dengan rugi bersih Rp366,5 miliar pada periode sama tahun silam.
Kinerja apik ini ditopang oleh pendapatan bersih Rp5,3 triliun per Maret 2026. Angka tersebut mencerminkan pertumbuhan 26 persen secara tahunan, mendaki cukup tajam dari posisi Rp4,2 triliun pada Maret 2025.


















