Tertekan Konflik Timur Tengah, Unilever Bersiap Naikkan Harga Bertahap

Jakarta, FORTUNE - Tekanan geopolitik mulai merembet ke harga barang konsumsi. Unilever mengungkapkan rencana penyesuaian harga produk secara bertahap menyusul lonjakan biaya produksi dan distribusi akibat konflik di Timur Tengah.
Kebijakan ini tetap ditempuh meski kinerja awal tahun perusahaan terbilang solid. Penjualan kuartal pertama tercatat melampaui ekspektasi pasar, menunjukkan permintaan terhadap produk tetap kuat.
Perusahaan memperkirakan tambahan beban biaya sepanjang tahun ini berada di kisaran 750 juta hingga 900 juta euro (Rp15,28 triliun-Rp18,34 triliun), yang mencakup ongkos logistik dan operasional pabrik. Kepala Keuangan Unilever, Srinivas Phatak, menyebut angka tersebut meningkat signifikan dibanding proyeksi awal tahun.
"Kami akan sering menaikkan harga, tetapi dalam jumlah yang kecil," ujar Phatak, melansir UOL Economia.
Ia menambahkan, jika tekanan biaya berlanjut, penyesuaian harga dapat mencapai 2 hingga 3 persen, dengan dampak terbesar diperkirakan terjadi di kawasan Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Sementara itu, pasar Amerika Utara relatif lebih terlindungi karena porsi bisnis perawatan rumah tangga yang lebih kecil.
Gangguan pada jalur distribusi global, terutama di kawasan Selat Hormuz, menjadi salah satu pemicu utama kenaikan biaya. Ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran turut mendorong kenaikan harga minyak mentah dan petrokimia—dua komponen penting dalam produksi deterjen dan pembersih rumah tangga.
Meski demikian, perusahaan menegaskan bahwa kebijakan penyesuaian harga akan dilakukan secara selektif, terutama pada lini produk yang paling sensitif terhadap fluktuasi harga energi.
"Menaikkan harga adalah pilihan terakhir kami," kata Phatak, melansir The Independent.
Ia juga belum merinci waktu maupun besaran pasti kenaikan tersebut. Analis barang konsumsi dari Quilter Cheviot, Chris Beckett, menilai ruang manuver perusahaan cukup terbatas, khususnya di pasar negara maju Eropa.
"Mereka terhambat di beberapa pasar, terutama di negara maju Eropa. Ada batas untuk tindakan yang bisa mereka lakukan dan membuat aturan harga itu tidak mudah," kata Beckett, mengutip Free Malaysia Today.
Di tengah tekanan tersebut, Unilever tetap optimistis terhadap prospek bisnisnya pada 2026. Perusahaan membukukan pertumbuhan penjualan dasar sebesar 3,8 persen pada kuartal pertama, melampaui proyeksi analis sebesar 3,6 persen.
CEO Unilever, Fernando Fernandez, menyebut capaian ini sebagai awal tahun yang kuat, ditopang oleh performa merek unggulan seperti Dove, Axe, dan Dermalogica.
"Kami mengawali tahun dengan baik. Pertumbuhan ini didorong oleh tingginya penjualan merek andalan kami dan hasil yang positif di seluruh bagian bisnis," ungkap Fernandez.
Namun demikian, tekanan eksternal masih membayangi. Pendapatan perusahaan tercatat turun 3,3 persen menjadi 10,9 miliar pound sterling akibat pelemahan nilai tukar, sementara kemampuan menaikkan harga masih terbatas di level 0,9 persen.

















