Industri F&B Tumbuh, Tetra Pak Siap Kejar Peluang di Indonesia

Jakarta, FORTUNE — Tetra Pak melihat Indonesia sebagai salah satu pasar paling strategis, tidak hanya di Asia Tenggara tetapi juga secara global. Dengan populasi besar dan dinamika konsumsi yang terus berkembang, produsen kemasan aseptik ini menilai Indonesia menawarkan peluang pertumbuhan jangka panjang, khususnya di industri makanan dan minuman.
Managing Director Marcelo Perazzo mengatakan Indonesia merupakan salah satu pasar terbesar bagi perusahaan. “Indonesia adalah salah satu pasar terpenting kami secara global, bukan hanya di kawasan,” ujarnya dalam wawancara dengan Fortune Indonesia, (16/4).
Pasar suplemen makanan di Indonesia bernilai sekitar US$2,53 miliar pada tahun 2024 dan diproyeksikan mencapai sekitar US$4,86 miliar pada tahun 2030, mencerminkan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) di kisaran 11 persen per tahun.
Menurutnya, kombinasi antara skala pasar, keragaman konsumen, serta peningkatan kelas menengah menjadikan Indonesia semakin menarik. Konsumen juga dinilai semakin cermat dalam memilih produk, baik dari sisi kualitas, kenyamanan, maupun aspek keberlanjutan.
“Permintaan menjadi semakin sophisticated. Konsumen mulai memperhatikan apa yang mereka konsumsi, membaca label, dan mencari produk yang lebih sesuai dengan kebutuhan mereka,” kata Marcelo.

Inovatif dan terjangkau
Seiring perubahan perilaku konsumen, Tetra Pak memperluas perannya dari sekadar penyedia kemasan menjadi mitra end-to-end bagi produsen makanan dan minuman. Perusahaan kini terlibat sejak tahap pengembangan produk hingga distribusi.
Salah satu fokus utama adalah membantu produsen meningkatkan efisiensi operasional. Hal ini dinilai krusial untuk menjaga harga tetap terjangkau di tengah tekanan biaya dan tuntutan inovasi.
“Jika operasi pelanggan lebih efisien, mereka bisa menawarkan produk dengan harga yang kompetitif. Ini penting karena affordability tetap menjadi faktor utama di Indonesia,” katanya.
Di sisi lain, keberlanjutan menjadi tantangan sekaligus peluang. Tetra Pak menilai kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan mulai meningkat, meskipun faktor harga tetap dominan.
Saat ini, sekitar 70 persen bahan kemasan perusahaan berasal dari sumber terbarukan, dengan target meningkat menjadi 100 persen. Salah satu inovasi yang tengah dikembangkan adalah kemasan berbasis kertas yang menggantikan lapisan aluminium, serta paper-based cup.
Marcelo menekankan pentingnya keseimbangan antara inovasi ramah lingkungan dan keterjangkauan harga. “Kami tidak bisa meminta konsumen membayar dua kali lipat hanya karena produk lebih berkelanjutan. Harus ada keseimbangan,” ujarnya.
Terdorong MBG
Pertumbuhan bisnis Tetra Pak di Indonesia juga terdorong oleh program pemerintah, termasuk program makan bergizi gratis (MBG). Program ini meningkatkan kebutuhan kemasan, terutama untuk produk susu dalam kemasan kecil.
“Program ini menciptakan tambahan volume yang signifikan bagi industri,” ujar Marcelo. Ia menambahkan, perusahaan bekerja sama dengan produsen untuk memastikan kapasitas produksi mampu memenuhi lonjakan permintaan.
Secara keseluruhan, pertumbuhan bisnis perusahaan sangat erat dengan kinerja industri makanan dan minuman. Konsumsi yang meningkat akan mendorong permintaan kemasan, sekaligus membuka peluang bagi inovasi baru.
Ke depan, Tetra Pak menetapkan tiga prioritas utama di Indonesia: memperluas inovasi end-to-end, meningkatkan efisiensi operasional pelanggan, serta memperkuat agenda keberlanjutan. “Dengan kombinasi itu, kami ingin terus tumbuh bersama pelanggan dan menjadi mitra pilihan bagi industri,” kata Marcelo.
















