Laba Bersih Indocement Naik Tipis di Tengah Tekanan Industri

- Indocement mencatat laba bersih Rp215,2 miliar pada kuartal I 2026, naik tipis 2,1 persen meski pendapatan turun dan industri semen masih tertekan kelebihan kapasitas serta kenaikan biaya energi.
- Kinerja ekspor melonjak 239 persen menopang penjualan total 4,44 juta ton, sementara penjualan domestik turun 2,3 persen akibat lemahnya permintaan dan tekanan biaya distribusi yang meningkat.
- Perseroan memperkuat strategi dengan joint venture bersama Mondi Industrial Bags untuk produksi kantong semen serta melanjutkan program buyback saham baru senilai hingga Rp750 miliar.
Jakarta, FORTUNE β PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) mencatat kinerja resilien pada kuartal I 2026 di tengah tekanan industri semen domestik yang masih dibayangi kelebihan kapasitas dan kenaikan biaya energi global.
Perseroan membukukan volume penjualan konsolidasi (semen dan klinker) sebesar 4,44 juta ton, tumbuh 1,8 persen secara tahunan. Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh lonjakan ekspor yang melonjak signifikan 239 persen, meskipun volume penjualan domestik mengalami kontraksi 2,3 persen.
Dari sisi pendapatan, INTP meraih Rp3,84 triliun, turun 3,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini sejalan dengan koreksi beban pokok pendapatan yang turun lebih dalam sebesar 3,9 persen, sehingga perseroan masih mampu menjaga margin laba bruto di level 28,6 persen atau setara Rp1,10 triliun.
Meski begitu, tekanan muncul dari sisi operasional. Beban usaha meningkat 3 persen menjadi Rp872,5 miliar, terutama dipicu oleh kenaikan biaya distribusi dan transportasi. Hal ini menekan margin laba usaha yang tercatat sebesar 6,2 persen dengan EBITDA berada di level 17 persen.
Di sisi lain, kinerja perseroan mendapat sokongan pendapatan keuangan neto yang melonjak 154,2 persen menjadi Rp6,5 miliar, didukung oleh optimalisasi hasil bunga dari cadangan kas serta penurunan beban bunga terkait utang Semen Grobogan. Selain itu, kontribusi laba dari entitas asosiasi meningkat tajam 364,9 persen menjadi Rp17,8 miliar, mencerminkan perbaikan kinerja investasi strategis Perseroan.
Dengan kombinasi faktor tersebut, Indocement mencatatkan laba bersih sebesar Rp215,2 miliar, tumbuh tipis 2,1 persen secara tahunan.
Perseroan mempertahankan posisi keuangan yang solid dengan kas dan setara kas mencapai Rp5,1 triliun per akhir Maret 2026, memberikan fleksibilitas dalam menghadapi dinamika pasar.
βMeskipun volume domestik meningkat pada kuartal I 2026, industri masih menghadapi ketidakseimbangan besar antara kapasitas terpasang dan permintaan domestik, yang menyebabkan tingkat utilisasi rendah,β kata manajemen perseroan dalam keterangannya, Rabu (6/5).
Lonjakan harga energi belum lama ini akibat dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah diperkirakan akan semakin menekan daya beli yang lemah, sementara belanja untuk proyek baru juga mungkin diperketat.
βOleh karena itu, industri harus terus memaksimalkan seluruh aspek aktivitas operasional serta mengoptimalkan jaringan distribusi dan logistik,β ujar manajemen.
Untuk meningkatkan daya saing ke depan, Indocement memperkuat rantai pasok melalui pembentukan usaha patungan dengan Mondi Industrial Bags GmbH, bagian dari Mondi Group.
Kolaborasi ini difokuskan pada penyediaan kantong semen berkualitas tinggi guna meningkatkan keandalan distribusi produk. Dalam struktur joint venture tersebut, Indocement memegang 40 persen saham, sementara Mondi menguasai 60 persen, dengan fasilitas produksi berlokasi di kompleks pabrik Citeureup dan Indocement sebagai pelanggan utama.
Di sisi lain, Indocement aktif melakukan optimalisasi struktur modal. Perseroan telah menuntaskan putaran ketiga program pembelian kembali saham dengan total 66,24 juta saham atau setara 1,88 persen dari modal ditempatkan, menggunakan dana sebesar Rp437 miliar. Secara kumulatif, saham treasuri kini mencapai 231,87 juta saham atau 6,60 persen, dengan tingkat free float tetap terjaga di kisaran 40 persen.
Indocement akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 21 Mei 2026 untuk mengusulkan pembatalan sebagian saham hasil buyback periode 2021β2022 sebanyak maksimal 84,52 juta saham sebagai bagian dari strategi pengurangan modal. Selain itu, perseroan merencanakan program buyback baru dengan alokasi hingga Rp750 miliar yang akan berlangsung mulai 22 Mei 2026 hingga 21 Mei 2027.
















