Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

Impor Bahan Baku Pakan Lewat PT Berdikari, JAPFA: Tak Ada Masalah

Impor Bahan Baku Pakan Lewat PT Berdikari, JAPFA: Tak Ada Masalah
ilustrasi produk Japfa (dok.japfa)
Intinya Sih
  • JPFA menegaskan tidak ada masalah dengan kebijakan pemerintah yang mengalihkan impor bungkil kedelai ke PT Berdikari mulai 2026, berkat efisiensi dan penerapan teknologi di internal perusahaan.
  • Analis Samuel Sekuritas memproyeksikan margin laba JPFA turun pada 2026 akibat kenaikan harga SBM dan depresiasi rupiah, meski pendapatan diperkirakan mencapai Rp66,78 triliun dengan laba bersih Rp3,97 triliun.
  • JAPFA meluncurkan AKJJ 2026 bertema 'Japfa for Kids', menargetkan peningkatan gizi 16.000 siswa di sembilan daerah sebagai upaya berkelanjutan melawan malnutrisi anak di Indonesia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, FORTUNE - Emiten peternakan dan perunggasan, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), buka suara mengenai implementasi pengalihan impor bungkil kedelai (Soybean Meal/SBM) ke PT Berdikari pada 2026.

Direktur Japfa, Rachmat Indrajaya, mengatakan, pada kuartal-I 2026, aturan tersebut disebut tidak berdampak terhadap performa perseroan pada kuartal-I 2026. Itu didukung oleh sejumlah langkah, seperti efisiensi, pemanfaatan teknologi, hingga penerapan biosekuriti.

"Kami mengikuti aturan pemerintah seperti apa. Memang ada sedikit perbedaan ya, biasanya bisa langsung, sekarang [melalui] Berdikari. Tapi pada prinsipnya kami tidak ada masalah, kami dukung apa pun aturan pemerintah," katanya kepada Fortune Indonesia di Jakarta, Selasa (12/5). "Kami tidak ada masalah [di kuartal-I 2026], masih dalam keadaan baik-baik saja."

Sebagai konteks, mulai 1 Januari 2026, pemerintah mengalihkan impor SBM dari perusahaan swasta ke PT Berdikari. Perusahaan pelat merah itu pun berperan sebagai pintu tunggal impor bungkil kedelai. Komoditas tersebut adalah bahan baku pakan ternak, yang dibutuhkan perusahaan seperti JPFA dan sebagainya.

JPFA sendiri berencana akan mengumumkan kinerja 3 bulan pertama 2026 paling lambat pada akhir Mei 2026.

Sebelumnya, Analis Samuel Sekuritas, Fadhlan Banny memperkirakan, lonjakan harga minyak mentah akan mendongkrak permintaan global untuk biodiesel, yang menggunakan CPO. Hal tersebut akan mengerek naik harga SBM, yang berdampak negatif bagi industri unggas.

"Hal itu diperparah oleh inisiatif pemerintah baru-baru ini untuk menunjuk Berdikari sebagai satu-satunya pintu masuk untuk impor SBM nasional, serta penguatan hubungan perdagnagan Indonesia dengan Amerika Serikat, yang dapat menyebabkan ketergantungan yang lebih besar pada SBM yang relatif lebih mahal [untuk] yang bersumber dari AS," demikian catatan Fadhlan dalam risetnya ppada 22 April 2026.

Selain itu, naiknya harga minyak mentah juga dapat meningkatkan biaya aditif pakan, seperti yang terjadi pada 2022. Ditambah lagi, bahan baku tersebut juga terkait dengan dolar AS, sehingga depresiasi rupiah lanjutan akan menekan margin para emiten di sektor peternakan-perunggasan.

"Dengan demikian, kami memperkirakan gross profit margin JPGA akan turun menjadi 20,7 persen pada 2026 [dari 21,7 persen pada 2025] dengan net profit margin menjadi 5,9 persen pada 2026 [dari 6,6 persen pada 2025]," tulis Fadhlan.

Samuel Sekuritas sendiri memproyeksikan pendapatan dan laba bersih JPFA akan mencapai Rp66,78 triliun dan Rp3,97 triliun sepanjang 2026.

JAPFA gelar AKJJ 2026 dengan tema Japfa for Kids

20260512_122906.jpg
Konferensi Pers AKJJ 2026 di Jakarta, Selasa (12/5). (Fortune Indonesia/Tanayastri Dini)

Dalam kesempatan yang sama, JAPFA mengumumkan penyelenggaraan Apresiasi Karya Jurnalistik JAPFA (AKJJ) 2026 dengan tema '18 Tahun JAPFA for Kids: Kolaborasi untuk Generasi Penerus Bangsa - Dari Data, Fakta, hingga Cerita Lapangan'.

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, sebanyak 11% anak usia 5–12 tahun masih berada pada kategori gizi kurang dan gizi buruk berdasarkan indikator Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U). Sementara itu, data yang dihimpun JAPFA di sembilan lokasi pelaksanaan JAPFA for Kids pada 2025, sebanyak 1.034 dari total 15.498 siswa (sekitar 6,6 persen) tercatat memiliki status gizi kurang dan gizi buruk.

Kondisi tersebut menunjukkan, isu malagizi masih menjadi tantangan nyata yang memerlukan pendekatan kolaboratif dan berkelanjutan. Itu yang menjadi latar belakang lahirnya program JAPFA for Kids.

Pada 2024, JAPFA for Kids menjangkau 7 kabupaten/kota. Dari 15.518 siswa, sebanyak 1.479 di antaranya teridentifikasi memiliki status gizi kurang dan menjadi fokus utama program. Setelah program berjalan, JAPFA for Kids berhasil meningkatkan status gizi 762 anak atau 51,5 persen dari total anak.

Sementara itu, pada 2025, JAPFA for Kids dilaksanakan di 9 kabupaten/kota, menjadikan 123 sekolah sebagai sasaran program. Dari hasil pendataan, sebanyak 1.034 siswa teridentifikasi mengalami malnutrisi dan menjadi sasaran utama intervensi program. Setelah program berjalan, sebanyak 646 siswa berhasil mengalami peningkatan status gizi menjadi gizi baik atau sebesar 62,5 persen.

Pada 2026, JAPFA for Kids menargetkan 16.000 siswa terperiksa, dengan fokus lokasi di Padang Pariaman, Sumatra Barat; Bintan, Kepulauan Riau; Lampung Selatan, Lampung; Kecamatan Megamendung dan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Jawa Barat; Tegal, Jawa Tengah; Karanganyar, Jawa Tengah; Lamongan, Jawa Timur; serta Sofifi, Maluku Utara.

"Kami percaya bahwa membangun masa depan Indonesia dimulai dari memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang baik dan tumbuh dalam lingkungan yang mendukung pola hidup sehat," kata Rachmat.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pingit Aria
EditorPingit Aria
Follow Us

Related Articles

See More