Chandra Asri Umumkan Kondisi Force Majeure Imbas Perang Timur Tengah

- PT Chandra Asri Pacific Tbk mengumumkan kondisi force majeure akibat konflik di Selat Hormuz yang mengganggu distribusi bahan baku dan rantai pasok global.
- Manajemen menyebut langkah ini sebagai tindakan administratif terukur untuk menjaga transparansi serta memastikan ketahanan operasional di tengah situasi geopolitik yang memanas.
- Penutupan Selat Hormuz oleh Iran memicu kekhawatiran pasar energi dunia karena jalur tersebut menjadi rute vital bagi ekspor minyak dan gas dari negara-negara Teluk.
Jakarta, FORTUNE - Emiten petrokimia terintegrasi milik pengusaha Prajogo Pangestu, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mengumumkan kondisi force majeure atau kondisi kahar kepada para mitra usahanya seiring memanasnya konflik militer di kawasan Selat Hormuz, Timur Tengah, yang turut berdampak pada kelancaran distribusi bahan baku dalam rantai pasok global.
Direktur Sumber Daya Manusia & Urusan Korporat Chandra Asri Group, Suryandi mengatakan pemberitahuan ini merupakan langkah administratif yang dilakukan secara terukur, berdasarkan kajian menyeluruh atas potensi implikasi pemenuhan kewajiban kepada pelanggan, sekaligus bentuk transparansi kepada seluruh pemangku kepentingan.
“Kami secara aktif memantau perkembangan situasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang terus berkembang, dan mengambil langkah antisipatif untuk memastikan ketahanan operasional di seluruh unit bisnis kami,” kata Suryandi dalam keterangan resmi kepada Fortune Indonesia, Rabu (4/3).
Sebagai mitigasi, perusahaan akan mengurangi tingkat operasional (run rates) di pabrik. Saat ini, perseroan terus melakukan koordinasi dengan pelanggan untuk memitigasi dampak dari hal ini.
“Dalam kondisi global yang dinamis, kami berkomitmen menjaga kesinambungan operasional , ketahanan bisnis serta terus mengevaluasi potensi dampak terhadap kegiatan usaha kami,” katanya.
Diketahui, Garda Revolusi Iran pada Sabtu (28/2) resmi menutup Selat Hormuz untuk navigasi internasional sebagai respons atas serangan Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Penutupan jalur tersebut langsung memicu kekhawatiran pasar energi dan pelayaran global. Sejumlah kapal tanker dilaporkan menghindari perairan itu, sementara perusahaan pelayaran kontainer menangguhkan operasi.
Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Samudra Hindia. Letaknya di antara Iran di sisi utara serta Oman dan Uni Emirat Arab (UEA) di sisi selatan. Sebagian besar negara produsen minyak di kawasan Teluk—Arab Saudi, Irak, Kuwait, UEA, Qatar, dan Iran—mengandalkan jalur ini untuk ekspor.
Data yang dikumpulkan Bloomberg menunjukkan sekitar 16,7 juta barel minyak mentah dan kondensat per hari melewati selat ini pada 2025.
Sementara itu, U.S. Energy Information Administration (EIA) mencatat sekitar 20 juta barel per hari atau hampir seperlima konsumsi minyak global melintasi Hormuz. Hampir seperlima pasokan gas alam cair (LNG) dunia, terutama dari Qatar, juga melewati jalur ini.
Lebar Selat Hormuz hanya sekitar 21 mil di titik tersempit, tetapi jalur pelayaran di masing-masing arah hanya sekitar dua mil. Kondisi ini membuat lalu lintas kapal sangat terkonsentrasi dan rentan terhadap gangguan.
Jalur air sempit di muara Teluk Persia ini menangani sekitar seperempat perdagangan minyak dunia melalui laut, sehingga setiap gangguan berisiko memicu lonjakan harga energi dan mengganggu rantai pasok global.
















