Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Cimory Ungkap Keterbatasan Pasokan Susu, Baru 30 Persen dari Lokal
Cimory Restaurant Puncak, Bogor, Jawa Barat (Dok Cimory)
  • Cimory hanya memenuhi 20–30 persen kebutuhan susu dari peternak lokal karena pasokan domestik terbatas, sementara sisanya mengandalkan impor susu bubuk.
  • Kebutuhan susu segar Cimory mencapai 1.000 ton per bulan; sepanjang 2025, perusahaan bermitra dengan 18.458 peternak dan menyerap 26,42 juta liter susu lokal.
  • Kemenperin mendorong peningkatan peternakan dan digitalisasi penampungan susu, sambil memberi kelonggaran impor bahan baku untuk menjaga rantai pasok industri.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (Cimory) menyatakan pemenuhan bahan baku susu dari peternak lokal hanya mencapai 20 hingga 30 persen akibat pembatasan pasokan domestik. Pemenuhan sisa kebutuhan operasional perusahaan bersandar pada impor susu bubuk.

Direktur Manufacturing Cimory, Pamungkas Bayu Triprasetyo, mengatakan perusahaan menyerap susu segar dari peternak di Jawa Barat dan Jawa Timur. Ia menyebut produksi susu nasional membatasi peningkatan serapan bahan baku lokal.

“Penyerapan ini sudah cukup maksimal karena pasokan susu segar di Indonesia masih sangat terbatas,” kata Pamungkas melalui keterangannya, Kamis (22/10).

Kebutuhan susu segar Cimory mencapai 1.000 ton per bulan. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melaporkan kebutuhan bahan baku industri pengolahan susu nasional mencapai 4,95 juta ton setara susu segar pada 2025. Sekitar 80 persen dari volume tersebut berasal dari impor.

Menteri Perindustrian, Muhammad Sarmuji, menyampaikan penguatan industri pengolahan susu harus berjalan bersama penambahan kapasitas peternakan sapi perah, populasi, dan produktivitas peternak.

“Kita berharap susu bisa diproduksi semaksimal mungkin di dalam negeri. Kalau bisa, yang diimpor itu sapinya, kemudian dipelihara oleh peternak Indonesia. Peternaknya dilatih dan diedukasi agar menghasilkan susu yang banyak dan berkualitas. Itu akan lebih baik,” ujar Sarmuji.

Kemenperin memfasilitasi kemitraan industri pengolahan susu, koperasi, dan peternak sapi perah lewat penyediaan teknologi pendinginan, digitalisasi tempat penampungan, serta program restrukturisasi mesin. Hingga 2026, digitalisasi mencakup 96 tempat penampungan milik sembilan koperasi di Jawa Barat dan Jawa Timur dengan keterlibatan 12.000 peternak.

Berdasarkan data kementerian, Cimory bermitra dengan 18.458 peternak sapi perah dan menyerap 26,42 juta liter susu segar dalam negeri sepanjang 2025.

Sarmuji menargetkan peningkatan utilisasi kapasitas produksi industri dari kisaran 70 persen menjadi 80-85 persen guna mendongkrak kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Pemerintah memberikan kelonggaran impor bahan baku yang belum tersedia di pasar domestik guna menjaga rantai pasok.

“Kalau bahan bakunya tersendat, tidak tersedia dalam jumlah cukup dan harga yang kompetitif, tentu utilisasi industri akan rendah. Kami akan memastikan kebutuhan bahan baku industri tercukupi dengan baik. Sepanjang impor untuk kepentingan bahan baku, kita akan beri relaksasi atau kelonggaran,” kata Sarmuji.

Dia menginstruksikan pelaku industri untuk memprioritaskan penyerapan bahan baku lokal apabila ketersediaan di pasar domestik mencukupi.

“Kalau bahan bakunya sudah tersedia dan bisa diproduksi di Indonesia, tentu kita utamakan produk dalam negeri,” ujarnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article