Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Penipuan Digital Ditaksir Rugikan RI Rp49 Triliun, UMKM Perlu Waspada

3 min read
Penipuan Digital Ditaksir Rugikan RI Rp49 Triliun, UMKM Perlu Waspada
ilustrasi scam (magnific.com/rawpixel-com)
  • Penipuan digital diperkirakan merugikan masyarakat Indonesia Rp49 triliun; 66 persen responden pernah menemui penipuan, 35 persen menjadi korban, dan 14 persen kehilangan uang.
  • Kesenjangan inklusi keuangan 93,61 persen dan literasi 69,57 persen muncul saat transaksi digital mencapai 6,11 miliar pada Agustus 2026, meningkatkan risiko bagi UMKM.
  • Jalin mengedukasi 100 perempuan di Jakarta Timur melalui Gerakan Ibu Cek Dulu serta membentuk lebih dari 100 duta keamanan digital untuk menjangkau 500 penerima manfaat tambahan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, FORTUNE – Digitalisasi pembayaran membuka peluang bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memperluas pasar dan mempermudah transaksi. Namun, meningkatnya aktivitas keuangan digital juga diiringi risiko penipuan yang dapat menggerus pendapatan usaha dan keuangan keluarga.

Laporan State of Scams in Indonesia 2025 yang dirilis Global Anti-Scam Alliance (GASA) bersama Mastercard dan Indosat Ooredoo Hutchison menunjukkan, 66 persen dari 1.000 responden dewasa di Indonesia pernah menjumpai penipuan dalam setahun terakhir. Sebanyak 35 persen mengaku menjadi korban, sementara 14 persen menyatakan kehilangan uang akibat penipuan. Total kerugian masyarakat diperkirakan mencapai Rp49 triliun selama periode tersebut.

Temuan itu menegaskan pentingnya kemampuan masyarakat mengenali modus penipuan, terutama ketika pembayaran digital semakin terintegrasi dalam kegiatan ekonomi sehari-hari. Bagi perempuan pelaku UMKM, risiko dapat muncul melalui bukti transfer palsu, tautan yang mengatasnamakan penyedia layanan keuangan, hingga permintaan kode one-time password (OTP).

Di Indonesia, tantangan tersebut juga berkaitan dengan kesenjangan antara akses dan pemahaman layanan keuangan. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 mencatat indeks inklusi keuangan mencapai 93,61 persen, sedangkan indeks literasi keuangan berada pada 69,57 persen. Selisih 24,04 poin persentase ini menunjukkan bahwa akses terhadap layanan keuangan belum sepenuhnya diikuti tingkat pemahaman yang sebanding.

Pada saat bersamaan, Bank Indonesia mencatat volume transaksi pembayaran digital mencapai 6,11 miliar transaksi pada Agustus 2026, tumbuh 40,36 persen secara tahunan. Peningkatan tersebut mencerminkan semakin besarnya peran pembayaran digital dalam aktivitas ekonomi masyarakat, termasuk transaksi usaha berskala mikro.

Untuk memperkuat perlindungan bagi pelaku usaha, PT Jalin Pembayaran Nusantara (Jalin), bagian dari Danantara Indonesia, menggagas Gerakan Ibu Cek Dulu. Program literasi keamanan transaksi digital ini dimulai dengan edukasi terhadap 100 perempuan di Kelurahan Susukan, Ciracas, Jakarta Timur, pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Bekerja sama dengan T.CARE, kegiatan tersebut melibatkan perempuan pelaku UMKM, ibu rumah tangga yang menjalankan usaha, kader Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), serta anggota komunitas perempuan. Peserta dibekali keterampilan untuk mengenali transaksi mencurigakan, menjaga data pribadi, mengamankan akun, dan mengambil langkah yang tepat saat menghadapi dugaan penipuan.

VP Corporate Secretary Jalin, Putu Agnia, mengatakan perlindungan transaksi digital perlu berjalan seiring dengan pengembangan infrastruktur pembayaran. “Bagi perempuan pelaku UMKM, kemampuan ini penting untuk melindungi transaksi, keberlangsungan usaha, dan keuangan keluarga,” ujar Putu, dalam keterangan pers, Senin (19/10).

Program tersebut tidak hanya berfokus pada edukasi awal, tetapi juga dirancang agar pengetahuan keamanan digital dapat menyebar melalui jaringan komunitas. Melalui Digital Safety Academy, peserta mengikuti simulasi kasus sehari-hari untuk mempelajari langkah pencegahan, pengamanan akun, dan penggunaan kanal pengaduan resmi.

Jalin juga membentuk lebih dari 100 duta keamanan digital melalui Digital Safety Ambassador Activation. Mereka akan memperoleh perangkat edukasi berupa Digital Safety Toolkit dan pendampingan, dengan target masing-masing mengedukasi sedikitnya lima orang. Dengan skema tersebut, program ditargetkan menjangkau 500 penerima manfaat tambahan di luar 100 peserta awal.

Putu menambahkan, pihaknya berharap Gerakan Ibu Cek Dulu berkembang menjadi gerakan bersama yang tidak berhenti pada satu kegiatan saja, tetapi menjangkau lebih banyak komunitas perempuan pelaku UMKM di berbagai wilayah Indonesia melalui kerja sama dengan mitra lokal.

"Semakin banyak perempuan pelaku usaha yang mampu melindungi diri dan membagikan pengetahuan kepada komunitasnya, sehingga manfaat ekonomi digital dapat dirasakan dengan lebih aman dan berkelanjutan,” katanya.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More