BUSINESS

Masalah Pasokan Bikin Produsen Yacht Rugi Lebih dari Rp500 M

Kekurangan mesin, semikonduktor, dan kayu jati.

Masalah Pasokan Bikin Produsen Yacht Rugi Lebih dari Rp500 MPrincess Yachts/Dok. princess.co.uk

by Desy Yuliastuti

02 November 2023

Follow Fortune Indonesia untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow WhatsApp Channel & Google News

Jakarta, FORTUNE - Produsen kapal pesiar mewah terbesar di Inggris, Princess Yachts, mengalami kerugian sebesar £30 juta atau kisaran Rp505 miliar setelah dilanda masalah pasokan yang parah. Akibat masalah tersebut, produksi terhambat dan tidak selesai tepat waktu.

Kepala Eksekutif Princess Yachts, Will Green, mengatakan perusahaannya harus berjuang keras untuk mendapatkan suku cadang untuk menyelesaikan kapalnya karena dampak pandemi terhadap pemasoknya saat mereka memulai kembali pasokan.

“Pada tahun 2021, semua pembangun kembali berdiri dan mengerjakan semua inventaris yang ada di rak rantai pasokan mereka. Hal yang tidak kami antisipasi adalah dampak tertundanya pemulihan pemasok, dari segi produktivitas,” ujarnya, mengutip The Telegraph, Kamis (2/11).

Dia menambahkan, pada akhir tahun 2021 pihaknya telah menggunakan semua menggunakan semua sumber yang tersedia dan hambatan ini membuat perusahaan merugi.

“Kami telah mengantisipasi bahwa setelah kami tersingkir, keadaan akan menjadi lebih baik. Dan kami tidak memperkirakan bahwa rantai pasokan akan mengalami hambatan seperti yang terjadi,” ujarnya.

Kerugian operasional meningkat

Princess Yachts didirikan di Plymouth pada tahun 1965. Panjang perahunya berkisar antara 40 kaki hingga 95 kaki dan harganya bisa mencapai £11 juta, dengan model kelas bawah dihargai sekitar £700.000.

Sebelumnya perusahaan  dimiliki oleh L Catterton, perusahaan investasi Amerika, yang menjualnya kepada sesama pemodal Amerika KPS Capital Partners awal tahun ini.

Pendapatan di perusahaan tumbuh sebesar £6,9 juta menjadi £315,2 juta pada tahun 2022 menurut laporan terbaru, tetapi kerugian operasional meningkat dari £3,7 juta menjadi £30 juta.

Green mengatakan, pihaknya memiliki buku pesanan senilai miliaran dolar. “Ratusan pelanggan yang telah memberikan uang mereka kepada kami untuk membuatkan kapal untuk mereka, dan kami belum mampu, untuk mendapatkan kapal tersebut. Ini di luar rencana.”

Dampak krisis mesin, generator, dan kayu jati

Perusahaan tersebut juga berjuang untuk mendapatkan chip di tengah kekurangan krisis semikonduktor, mesin, dan generator global.

“Yang paling menyakitkan adalah hilangnya mesin dan generator. Itu adalah perlengkapan besar yang dimiliki setiap perahu. Tentu saja, jika Anda tidak bisa mendapatkan mesinnya, Anda tidak bisa membuat perahunya,” katanya.

Tak hanya itu, Inggris ini juga harus bergulat dengan kekurangan kayu jati yang digunakan untuk membuat geladak kapal, karena sanksi yang dikenakan terhadap Myanmar – eksportir utama kayu jati – setelah kudeta militer di negara Asia Tenggara pada bulan Februari 2021.

“Seluruh industri sedang berebut sumber kayu jati lainnya. Dan sebagai salah satu perusahaan pembuat kapal terbesar di dunia dalam hal jumlah kapal dan ukuran kapal yang kami bangun, permasalahan ini semakin parah,” kata Green.

Dia menambahkan,  gangguan pasokan telah mereda pada tahun 2023 tetapi belum sepenuhnya berakhir.  “Tahun ini memang sudah lebih baik, tapi kami masih menghadapi beberapa masalah besar.”

Namun, dia yakin Covid memiliki efek positif jangka panjang terhadap permintaan kapal pesiar. Menurutnya, rfek jangka panjangnya adalah masyarakat menjadi lebih sadar akan kematian mereka sendiri – atau lebih sadar akan hal itu,

“Fakta bahwa kita tidak bisa membawa kekayaan kita jika kita punya adalah hal yang melekat pada orang lain,” ujarnya.

“Kami melihat orang-orang baru memasuki industri ini yang ingin bersenang-senang dan menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga, dan kapal pesiar mewah adalah cara terbaik untuk melakukannya jika Anda memiliki kapasitas untuk memilikinya,” katanya.