Booming Olahraga Raket, dari Gaya Hidup Urban ke Mesin Ekonomi Baru

Jakarta, FORTUNE - Malam di Jakarta tak pernah benar-benar sunyi. Setelah kemacetan mereda dan lampu-lampu kantor mulai redup, kehidupan kota justru berpindah ke tempat lain: restoran, kafe, dan kini semakin bergeser ke lapangan olahraga raket. Di sebuah lapangan padel di Jakarta Selatan, arena berdinding kaca diisi empat orang yang bersiap memulai pertandingan. Mereka bukan atlet profesional, melainkan pekerja dari beragam profesi. Ada bankir investasi, pendiri startup teknologi, konsultan keuangan, dan kreator konten digital. Raket beradu dengan bola, pantulan dari dinding kaca bergerak cepat, dan di sela reli pendek percakapan bisnis mengalir santai diiringi tawa. Di sisi lainnya, tiga lapangan padel lain juga terisi penuh.
“Biasanya kami selesai kerja sekitar jam tujuh, lalu langsung ke sini. Olahraganya seru, cepat dipelajari, dan bisa sekalian ketemu teman atau klien. Kadang justru ide kerja muncul di sela-sela permainan, kata Arga yang berprofesi sebagai konsultan keuangan, (16/2).
Pemandangan seperti ini semakin lazim di kota-kota besar, menunjukkan bagaimana olahraga raket kini menjadi bagian dari ritme baru kehidupan kota.. Lapangan tenis atau padel kini tak hanya menjadi tempat berolahraga, tetapi juga ruang sosial baru bagi kelas urban, tempat jejaring profesional terbentuk, komunitas tumbuh, dan gaya hidup aktif menemukan panggungnya.
Laporan Global Padel Report 2025 dari Playtomic mencatat Indonesia sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan padel tercepat di Asia Pasifik, sejajar dengan Singapura dan Thailand. Di kota-kota besar, padel berkembang dari sekadar aktivitas rekreasi menjadi semacam social currency, ruang untuk memperluas jejaring profesional, membangun komunitas lintas industri, sekaligus menegaskan gaya hidup aktif kelas menengah perkotaan.
Awalnya olahraga ini diperkenalkan oleh komunitas ekspatriat di Jakarta dan Bali. Namun dalam beberapa tahun terakhir, adopsinya meluas ke kalangan masyarakat kelas menengah Indonesia. Pergeseran perilaku konsumen menjadi salah satu pendorongnya. Generasi usia produktif sekitar 30 hingga 40 tahu semakin mengutamakan preventive health dan olahraga yang memiliki learning curve cepat.
Olahraga raket memenuhi dua kebutuhan tersebut: durasinya relatif singkat, ritmenya dinamis, dan yang terpenting bersifat sosial. Kehadirannya juga terasa sebagai perpanjangan dari budaya badminton yang telah lama mengakar di Indonesia, sehingga adopsi olahraga raket lain berlangsung relatif cepat.
“Indonesia sedang memasuki era social fitness boom. Orang tidak hanya mencari olahraga, tetapi ruang sosial, komunitas, dan pengalaman yang bermakna. Olahraga raket berada tepat di jantung perubahan ini,” ujar Dima Shcherbakov, pendiri jaringan klub olahraga raket Liga.Tennis, kepada Fortune Indonesia, Senin (9/2).
Lonjakan minat terhadap olahraga raket memicu efek ekonomi berantai. Secara global, fenomena ini sering disebut sebagai padel effect. Ketika satu lapangan dibangun, ekosistem ekonomi baru ikut bergerak di sekitarnya: dari brand apparel lokal, penyedia perlengkapan olahraga, layanan fisioterapi dan sport recovery, akademi pelatihan, hingga turnamen komunitas. “Ketika satu lapangan padel dibangun, yang bergerak bukan hanya pemainnya, tetapi ekonomi sekitarnya,” kata Dima.
Fenomena ini juga sejalan dengan meningkatnya perhatian global terhadap kesehatan dan kesejahteraan. Laporan Global Wellness Economy Monitor 2024 dari Global Wellness Institute memperkirakan ekonomi wellness dunia akan mencapai nilai US$9 triliun pada 2028.
Di tingkat operasional, angka produktivitas lapangan juga menunjukkan potensi ekonomi yang menarik. Global Padel Report 2025 mencatat satu lapangan padel di Indonesia memiliki rata-rata gross merchandise value lebih dari €6.000 per bulan atau sekitar Rp110 juta, dengan pertumbuhan 173 persen secara tahunan antara 2023 hingga 2024.
Membidik momentum bisnis

Jauh sebelum booming olahraga raket, Dima sudah membidik bisnis lapangan olahraga dengan mendirikan Liga.Tennis pada 14 Februari 2017 di Umalas, Bali bermula dari hobi. “Saya baru pertama kali memegang raket tenis pada akhir 2016,” kenang Dima.
Saat itu ia berlatih hampir setiap hari dengan pelatih Jordan Sanchez, CEO Liga.Tennis. Setelah beberapa bulan, ia merasa latihan saja tidak cukup. Ia ingin bertanding, mencatat skor, dan melihat peringkat pemain. Dari kebutuhan sederhana itu lahir ide membuat platform digital tempat pemain dapat saling menantang pertandingan, mengunggah hasil pertandingan, dan melacak rekor pertemuan.
Dalam beberapa bulan pertama, ribuan pengguna mendaftar tanpa promosi apa pun. Hal itu menjadi sinyal bahwa ada komunitas tenis yang besar tetapi belum terlayani dengan baik, terutama di Bali. Langkah berikutnya adalah membangun klub tenis fisik. Masalahnya, mereka hampir tidak memiliki modal.
Seorang mantan kolega Dima dari bank di Ukraina sempat menyatakan minat untuk berinvestasi di Bali, tetapi mundur pada saat terakhir. Dima dan Nyoman Ayunanda Co-founder Liga.Tennis kemudian mengambil pinjaman bank dan menjaminkan rumah mereka di Bali sebagai agunan. “Jika kami mengatakan tidak, ada seribu alasan untuk tidak membangun klub. Tetapi jika kami mengatakan ya, kami percaya akan menemukan ratusan cara untuk membuatnya berhasil,” katanya.
Dima optimistis, ruang pertumbuhan olahraga raket masih sangat luas. Benar saja, dalam beberapa tahun terakhir, popularitas padel melonjak cepat di berbagai negara. Banyak yang memprediksi olahraga ini akan menggantikan tenis sebagai olahraga raket paling populer.
Playtomic dan Monitor Deloitte memperkirakan jumlah lapangan padel di seluruh dunia akan mencapai sekitar 85.000 unit pada 2026, dua kali lipat dari jumlah saat ini. Bagi investor dan operator klub, angka tersebut memberi dua sinyal sekaligus: permintaan yang kuat dan model monetisasi yang relatif efisien dibandingkan banyak fasilitas olahraga lain.
Dima melihatnya berbeda. Menurutnya, tenis dan padel justru berkembang secara komplementer dalam satu ekosistem olahraga raket. Pengalaman operasional klubnya menunjukkan bahwa padel sering menjadi pintu masuk bagi pemain baru. “Padel jauh lebih mudah dipelajari. Banyak orang mencoba tenis tetapi tidak kembali karena terasa sulit. Padel dan pickleball menjadi gerbang yang membawa orang masuk ke dunia olahraga raket,” katanya.
Begitu seseorang sudah berada di dalam ekosistem itu, tenis tetap mempertahankan permintaan yang stabil. Padel juga memiliki karakter sosial yang berbeda. Jika tenis terasa kompetitif—terutama dalam pertandingan tunggal—padel cenderung lebih santai. “Orang bermain sambil tersenyum. Tekanannya lebih kecil. Bahkan untuk membangun relasi bisnis, padel bisa lebih baik daripada tenis,” kata Dima.
Liga.Tennis sendiri rutin menyelenggarakan kompetisi berbasis komunitas untuk menjaga motivasi bermain dan membangun rasa kebersamaan, termasuk bagi pemain pemula. Seperti turnamen tenis Ubud Double Smash yakni turnamen ganda level beginner dalam dua kategori, yaitu Men’s Beginner Doubles dan Ladies’ Beginner Doubles. Selain itu, memperluas olahraga tenis ke anak-anak dengan program Junior Academy, program pelatihan tenis untuk anak-anak usia 5-12 tahun.
Menimbang potensi dan risiko

Meski pasar terlihat menjanjikan, ekspansi cepat juga membawa risiko baru. Dima memperkirakan kelebihan pasokan lapangan padel di Indonesia hampir tidak terhindarkan. “Awalnya padel dipersepsikan sebagai olahraga premium. Ketika lapangan semakin banyak, harga akan turun dan olahraga ini menjadi lebih terjangkau,” katanya.
Di beberapa area Jakarta, harga sewa lapangan yang sebelumnya sekitar Rp500.000 per jam kini turun hingga sekitar Rp150.000. Fenomena ini, menurutnya, justru positif bagi masyarakat karena lebih banyak orang dapat berolahraga. Namun bagi pemilik klub, kompetisi harga bisa menekan margin. Pengalaman di negara lain menunjukkan risiko tersebut. Di Swedia dan Chile, ledakan pembangunan lapangan padel sempat diikuti penutupan klub secara massal setelah permintaan menurun pascapandemi. Namun, Dima mengatakan struktur biaya Indonesia berbeda.
“Di Swedia, gaji resepsionis bisa mencapai US$3.500 sampai US$4.000 per bulan. Di Indonesia di bawah Rp10 juta. Jadi saya tidak percaya akan ada penutupan massal seperti di sana. Yang lebih mungkin terjadi adalah penurunan harga dan margin," katanya.
Dalam kondisi pasar yang semakin kompetitif, operator klub tidak bisa hanya mengandalkan sewa lapangan. Menurut Dima, sumber pendapatan utama justru berasal dari program pelatihan. “Pertandingan biasa menghasilkan sekitar Rp350.000 per jam. Tetapi kelas privat dengan pelatih bisa menghasilkan sekitar Rp1 juta per jam,” katanya.
Hubungan antara pelatih dan pemain juga menciptakan keterikatan komunitas yang lebih kuat. Tak hanya itu, teknologi juga memainkan peran penting. Liga.Tennis mengembangkan aplikasi sendiri, Liga App, yang kini memiliki hampir 100.000 pengguna. Melalui aplikasi tersebut, perusahaan dapat membaca perilaku pelanggan secara real-time. Misalnya di salah satu klub di Bali, data menunjukkan pemain Indonesia lebih sering memesan kelas pelatihan, sementara pemain asing lebih sering menyewa lapangan. Informasi itu digunakan untuk menyusun strategi pemasaran yang lebih terarah dan efisien.
Saat ini Liga.Tennis mengoperasikan sejumlah klub di Bali, Solo, dan Sumba dengan tingkat okupansi rata-rata sekitar 85 persen. Pada periode 2024–2025, perusahaan mencatat kenaikan pendapatan tahunan 35 persen dengan margin laba bersih 31 persen.
Dalam jangka panjang, perusahaan menargetkan membangun 77 klub hingga 2035 melalui model kemitraan jangka panjang dengan investor. Namun bagi Dima, angka ekspansi bukanlah tujuan utama. “Olahraga raket mengubah hidup saya. Dan saya percaya olahraga ini juga bisa mengubah hidup banyak orang,” katanya.
Dampak kesehatan olahraga ini juga didukung riset ilmiah. Studi Copenhagen City Heart Study yang mengikuti lebih dari 8.000 partisipan selama 25 tahun menemukan bahwa orang yang rutin bermain tenis memiliki harapan hidup rata-rata 9,7 tahun lebih panjang dibandingkan mereka yang tidak aktif.
Bagi banyak orang di kota-kota besar Indonesia, alasan bermain mungkin sederhana: mencari aktivitas yang menyenangkan setelah bekerja. Namun di balik suara bola yang memantul, sebuah industri baru perlahan terbentuk—menghubungkan olahraga, kesehatan, komunitas, dan peluang ekonomi dalam satu ekosistem yang terus berkembang.















