Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

Strategi Ismaya Menjaga Relevansi di Tengah Pergantian Tren

Strategi Ismaya Menjaga Relevansi di Tengah Pergantian Tren
ilustrasi Social Padel House Ismaya. Dok Ismaya
Intinya Sih
  • Ismaya berkembang dari satu bar menjadi grup gaya hidup besar dengan berbagai merek F&B seperti Djournal Coffee, Kitchenette, Haraku, dan Skye.
  • Melalui Ismaya Live, perusahaan sukses menghadirkan festival besar seperti Djakarta Warehouse Project, We The Fest, dan Jakarta Culinary Festival.
  • Ismaya kini merambah sektor olahraga lewat Social Padel House sebagai strategi menjangkau generasi muda dan memperkuat posisinya di industri gaya hidup.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, FORTUNE - Ismaya terus berupaya menjaga relevansinya di tengah perubahan tren gaya hidup yang bergerak cepat. Perusahaan yang didirikan oleh tiga sekawan, Christian Rijanto, Bram Hendrata, dan Brian Sutanto, ini awalnya hanya mengoperasikan sebuah bar bernama Blowfish. Seiring waktu, Ismaya memperluas portofolionya ke berbagai lini industri makanan dan minuman (F&B).

Ekspansi tersebut melahirkan beragam merek, mulai dari Djournal Coffee di segmen kopi, Kitchenette dengan hidangan rumahan, Haraku yang menyajikan ramen autentik, hingga Skye yang menawarkan pengalaman bersantap dengan panorama kota dari ketinggian.

Namun, langkah Ismaya tidak berhenti di bisnis F&B. Perusahaan ini melihat pengalaman gaya hidup tidak hanya terbatas pada makanan dan minuman. Dari sinilah lahir Ismaya Live, divisi yang fokus pada penyelenggaraan acara hiburan.

Inisiatif tersebut dimulai pada 2008 lewat penyelenggaraan Djakarta Warehouse Project (DWP) di Blowfish, yang saat itu masih bernama Blowfish Warehouse Project. Dari acara berskala kecil, festival ini kemudian berkembang menjadi salah satu festival musik elektronik terbesar di Asia dengan menghadirkan DJ dan musisi internasional.

Ekspansi di ranah festival berlanjut pada 2014 melalui We The Fest (WTF), yang menggabungkan musik, seni, dan gaya hidup dalam satu acara. Sementara itu, bagi para pecinta kuliner, Jakarta Culinary Festival (JCF) telah menjadi agenda tahunan sejak 2009 untuk merayakan ragam cita rasa.

Ke depan, Ismaya tetap memegang visi besar untuk menjadi ekosistem gaya hidup terbesar di Indonesia. Perusahaan meyakini bisnis gaya hidup, khususnya F&B, akan terus relevan sehingga inovasi dan eksplorasi peluang baru harus terus dilakukan.

Setelah sukses merambah industri hiburan melalui Ismaya Live, Ismaya kini mulai melirik sektor olahraga. Perusahaan tersebut memperkenalkan Social Padel House, sebuah venue untuk olahraga padel yang tengah populer.

Bagi Ismaya, kehadiran Padel House bukan sekadar langkah diversifikasi bisnis, tetapi juga strategi untuk menjangkau generasi muda yang semakin menjadikan olahraga sebagai bagian dari gaya hidup.

Dalam menghadapi persaingan yang tak terhindarkan, Ismaya menghargai setiap pemain di industri ini dan percaya bahwa kompetisi sehat justru mendorong semua pihak untuk meningkatkan standar. Founder Ismaya, Bram Hendrata, melihat pemain lain sebagai inspirasi, bukan ancaman.

“Ada banyak pemain hebat di industri ini. Masing-masing [memiliki] keunikan dan keunggulannya sendiri,” ujar Bram kepada Fortune Indonesia. Alih-alih hanya melihat apa yang kompetitor lakukan, “Ismaya lebih fokus pada bagaimana kami bisa terus berinovasi dan menjadi trendsetter di industri ini.”

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pingit Aria
EditorPingit Aria
Follow Us

Latest in Business

See More