BUSINESS

Banyak Ruang Perkantoran Kosong, Pemilik Properti Harus Putar Otak

Pertumbuhan sewa rata-rata diperkirakan tidak terlalu besar.

Banyak Ruang Perkantoran Kosong, Pemilik Properti Harus Putar OtakDeretan gedung bertingkat di Jakarta, Senin (25/4/2022). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/aww.

by Eko Wahyudi

01 February 2024

Follow Fortune Indonesia untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow WhatsApp Channel & Google News

Jakarta, FORTUNE - Riset yang dilakukan oleh konsultan properti, Colliers Indonesia, menunjukkan adanya penurunan tarif sewa yang dilakukan oleh beberapa pemilik gedung kantor. Para operator properti itu mempertimbangkan selisih wajar antara tarif yang diminta dan tarif yang ditransaksikan, meskipun pada akhirnya akan ada proses negosiasi.

“Dengan ruang kosong yang cukup besar, termasuk di gedung-gedung yang baru beroperasi, peluang untuk bernegosiasi menjadi lebih kuat, memungkinkan mereka merumuskan strategi dan bernegosiasi untuk faktor-faktor yang menguntungkan dalam menyewa ruang kantor untuk beberapa tahun ke depan,” kata Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto, lewat keterangan yang dikutip Kamis (1/2).

Hingga saat ini pembangunan sejumlah proyek gedung Perkantoran masih berlangsung dengan tingkat kemajuan bervariasi.

Pembangunan Luminary Tower telah selesai dan berkontribusi terhadap pasokan kumulatif, yang kini mencapai 7,4 juta meter persegi di central business district (CBD).

Kemudian, gedung perkantoran baru di dalam kompleks Thamrin Nine menawarkan pilihan tambahan bagi penyewa di CBD untuk mendapatkan ruang berkualitas lebih tinggi. Meski demikian, jumlah gedung perkantoran yang baru selesai diperkirakan akan sangat terbatas pada tahun-tahun mendatang.

Di luar CBD, Jakarta International Tower di Jakarta Barat berkontribusi terhadap peningkatan pasokan kumulatif sekitar 3,75 juta meter persegi pada 2023, tumbuh 2 persen dibandingkan dengan 2022.

“Meski masih dalam tahap akhir konstruksi, beberapa proyek lain memerlukan waktu tambahan sebelum selesai dan operasi resmi. Penyelesaian dan peralihan proyek-proyek tersebut dapat meningkatkan pasokan kumulatif di luar CBD secara signifikan, terutama pada 2024,” ujar Ferry.

Pertumbuhan pasokan tak diikuti pertumbuhan sewa

Ferry mengatakan pasokan perkantoran akan terus bertambah dengan sumbangsih dari proyek-proyek yang penyelesaiannya tertunda. Secara keseluruhan, pasokan kumulatif diproyeksikan meningkat sekitar 2 persen per tahun pada 2024-2025.

“Namun, pertumbuhan sewa rata-rata diperkirakan tidak terlalu besar, hanya meningkat sekitar 1 persen per tahun selama tahun 2024-2025,” kata Ferry.

Akibat adanya penambahan ruang kantor, tingkat hunian di perkantoran CBD mencapai 73,5 persen pada 2023 atau turun 1 persen dibandingkan dengan 2022.

Di wilayah selain CBD, pengoperasian kantor-kantor baru di gedung perkantoran memberikan tantangan terhadap tingkat hunian. Rata-rata okupansi wilayah di luar CBD mencapai 72,5 persen pada 2023, sedikit membaik dibandingkan dengan 2022.

“Pasar perkantoran masih berpihak pada penyewa. Dengan ketersediaan ruang yang besar dan selesainya pembangunan gedung baru, penyewa memiliki daya tawar lebih besar dibandingkan pengembang. Akibatnya, tuan tanah didorong untuk menyediakan paket sewa yang mencakup diskon dan persyaratan sewa yang menguntungkan,” ujar Ferry.