BUSINESS

Penjualan Alat Berat Tahun Ini Tidak Setinggi 2022, Ini Penyebabnya

Menyambut tahun politik dan turunnya harga komoditas.

Penjualan Alat Berat Tahun Ini Tidak Setinggi 2022, Ini PenyebabnyaIlustrasi alat berat United Tracktors, Dok. United Tracktors

by Eko Wahyudi

23 August 2023

Follow Fortune Indonesia untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow WhatsApp Channel & Google News

Jakarta, FORTUNE – Penjualan alat berat pada 2023 tidak akan semoncer kondisi tahun lalu karena Indonesia bakal menyongsong tahun politik, serta kondisi turunnya harga komoditas.

“Prediksi market alat berat di 2023 dari asosiasi dan beberapa sumber tahun ini tidak setinggi di tahun 2022,” kata Investor Relation PT United Tractors Tbk (UNTR), Ari Setiawan, dalam acara update korporasi di kantornya, Jakarta, Rabu (23/8).

Kinerja pasar alat berat pada 2022 menjadi yang tertinggi sepanjang masa. Pasalnya, dalam periode tersebut penjualan alat berat dari berbagai sektor mencapai 20.000 unit, dan disebut sebagai era keemasan bisnis ini.

Sedangkan untuk 2023, Ari mengatakan kian mendekatnya masa Pemilihan umum (Pemilu) bakal membuat proyek pembangunan melambat. Hal ini tentu berdampak pada permintaan untuk alat berat.

"Dari beberapa tahun lalu, biasanya tren permintaan konstruksi sedikit lemah jelang Pemilu. Namun, kami sudah mengantisipasi jika terjadi penurunan,” ujarnya.

Sektor pertambangan, yang menjadi kontributor terbesar penyerapan alat berat, juga sedang melandai mengingat harga-harga komoditas telah mengalami akhir era lonjakan harga. Situasi demikian pun mempengaruhi permintaan alat berat.

Realisasi penjualan alat berat UNTR

Kemudian untuk alat UNTR khusus Komatsu, sepanjang Januari-Juni 2023 terjual 3.551 unit, tumbuh 4 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencatatkan penjualan 3.339 unit. Kontribusi penjualan alat berat terbesar masih dikuasai segmen konstruksi, yang mengalami penurunan dari 18 persen menjadi menjadi 15 persen. 

Kendati begitu, ada perimbangan dengan adanya kenaikan pada kontribusi penjualan alat berat sektor pertambangan dan kehutanan yang masing-masing menjadi 64 persen dan 14 persen. Hingga akhir tahun, UNTR membidik penjualan alat berat 5.800-6.000 unit, lebih besar ketimbang 2022 yang mencapai 5.753 unit. 

Diversifikasi portofolio perusahaan

Sebelumnya, PT United Tractors Tbk (UNTR) resmi menjadi pengendali saham perusahaan panas bumi (geotermal) PT Supreme Energy Sriwijaya (SES). United Tractors mengucurkan dana US$42,32 juta atau setara Rp643,2 miliar melalui anak usahanya, PT Energia Prima Nusantara (EPN).

Perjanjian pengambilan bagian (subscription agreement) ditandatangani pada 7 Agustus lalu untuk mengambil 40,47 persen saham baru yang diterbitkan oleh Supreme.

UNTR mengakuisisi perusahaan geotermal sebagai bentuk diversifikasi usaha sekaligus bagian dari strategi berkesinambungan perusahaan tersebut dalam bidang energi terbarukan, khususnya panas bumi, dan beroleh pendapatan dari sektor usaha non-batubara.