Euromonitor Ungkap Empat Merek Besar Penguasa Industri Sepatu Global

Jakarta, FORTUNE - Nike, Adidas, Skechers, dan New Balance masih mempertahankan posisi sebagai empat merek sepatu terbesar baik di tingkat global maupun di Amerika Serikat. Temuan ini tercantum dalam laporan terbaru Euromonitor International yang memetakan dinamika industri alas kaki dunia.
Meski empat posisi teratas diisi oleh nama yang sama di kedua pasar tersebut, Euromonitor menilai justru posisi kelima yang paling menarik untuk diamati karena menunjukkan perubahan dalam lanskap persaingan.
Data dalam laporan Euromonitor International 2026 bertajuk The World Market for Apparel and Footwear menunjukkan bahwa Nike, Adidas, Skechers, dan New Balance menempati empat peringkat teratas baik di pasar global maupun di Amerika Serikat. Posisi keempat merek tersebut juga tidak berubah sepanjang 2024 hingga 2025. Namun, dinamika mulai terlihat pada peringkat berikutnya.
Di tingkat global, Puma menempati posisi kelima dengan perjalanan yang cukup fluktuatif. Merek asal Jerman tersebut sempat berada di peringkat kelima pada 2021, lalu naik ke posisi keempat pada 2022 dan 2023. Namun pada 2024 dan 2025, Puma kembali turun ke peringkat kelima. Saat ini, para eksekutif perusahaan tengah berupaya menstabilkan kinerja sekaligus memperkuat kesadaran merek di pasar.
Sementara itu di Amerika Serikat, posisi kelima ditempati oleh merek yang tengah naik daun, On AG. Brand asal Swiss tersebut terus menunjukkan kenaikan peringkat dalam beberapa tahun terakhir. On AG berada di posisi ketujuh pada 2024, sebelumnya di peringkat kedelapan pada 2023, serta di posisi ke-12 dan ke-18 masing-masing pada 2022 dan 2021.
New Balance sendiri, yang saat ini menempati peringkat keempat di pasar Amerika Serikat, sempat berada di posisi ketujuh pada 2023 dan sebelumnya di peringkat kesembilan pada 2021 dan 2022.
Riset Euromonitor disusun dari berbagai sumber data di tingkat lokal, regional, hingga global. Metodologinya mencakup statistik nasional dari hampir 50 pasar, wawancara dengan peritel, merek, serta distributor grosir, dan analisis laporan perusahaan termasuk dokumen regulasi.
Menurut Marguerite LeRolland, Senior Global Insight Manager untuk sektor fashion di Euromonitor International, merek seperti On dan Hoka tengah memperluas pengaruh mereka melalui narasi yang menonjolkan performa produk sekaligus membangun komunitas pengguna.
βDalam beberapa tahun terakhir, On AG dan Hoka mencatat pertumbuhan yang signifikan dengan berfokus pada sepatu berperforma tinggi yang ringan, sekaligus mendisrupsi pasar melalui inovasi bantalan dan teknologi. Awalnya menyasar atlet, kedua merek tersebut kini memperluas daya tarik dan portofolio produknya,β ujarnya.
LeRolland menambahkan bahwa kedua merek tersebut berhasil menjembatani kesenjangan antara produk teknis yang sebelumnya bersifat niche dengan kategori gaya hidup dan performa.
βSeiring konsumen semakin sadar akan kesehatan tetapi juga semakin selektif dalam berbelanja, strategi Hoka dan On untuk menampilkan rekayasa teknologi dan desain mereka di ruang ritel premium dengan lalu lintas tinggi membantu membenarkan harga yang lebih tinggi serta mendorong kesediaan konsumen membayar lebih untuk merek yang mereka percaya,β kata LeRolland.
Di luar persaingan merek, laporan Euromonitor juga mencatat bahwa pasar pakaian olahraga global diproyeksikan tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sebesar 2 persen pada periode 2025β2030. Pertumbuhan tersebut didorong oleh meningkatnya kesadaran terhadap kesehatan, termasuk tren wellness berbasis teknologi, serta semakin kasualnya gaya berpakaian di lingkungan kerja maupun sosial.
Pertumbuhan sektor sportswear bahkan diperkirakan melampaui laju pertumbuhan pasar pakaian secara keseluruhan.
Di kalangan penggemar kebugaran, sekitar 31 persenberencana meningkatkan pengeluaran untuk pakaian dan alas kaki, dibandingkan dengan 24 persen konsumen global secara umum pada 2025.
Kanal e-commerce juga terus menunjukkan dominasi, dengan belanja daring menyumbang 32,4 persen dari total penjualan pakaian dan alas kaki pada tahun tersebut.
Secara keseluruhan, nilai pasar global pakaian dan alas kaki mencapai US$1,8 triliun pada 2025. Namun pertumbuhan pasar diperkirakan tetap relatif terbatas, yakni di bawah 1 persen CAGR hingga 2030.
βKonsumen global semakin selektif dalam membelanjakan uang mereka untuk fashion, dengan lebih memprioritaskan nilai, kesejahteraan, dan pengalaman dibandingkan sekadar volume pembelian,β tulis Euromonitor dalam laporannya.
Survei Voice of the Consumer: Lifestyles 2025 milik Euromonitor juga menunjukkan bahwa 71 persen konsumen global masih mengkhawatirkan kenaikan biaya hidup sehari-hari. Kondisi ini mendorong pola konsumsi yang lebih terencana serta penilaian yang lebih ketat terhadap nilai suatu produk, yang pada akhirnya mempercepat polarisasi pasar di berbagai negara.
LeRolland menilai perubahan perilaku tersebut tidak selalu berarti konsumen membeli produk fashion lebih sedikit, melainkan membeli dengan cara yang berbeda, baik di pasar utama maupun di pasar sekunder.
βNilai kini tidak lagi hanya berkaitan dengan harga dan fitur produk semata, tetapi juga mencakup daya tahan, fleksibilitas penggunaan, serta keterikatan emosional. Hal ini membuka peluang pertumbuhan yang jelas bagi merek yang mampu memahami perubahan prioritas konsumen tersebut,β ujarnya.


















