Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Jababeka (KIJA) Raih Marketing Sales Rp1,19 Triliun, Setara 32% Target
Rusunawa Jababeka di Cikarang. (dok. BPJS Ketenagakerjaan)
  • Jababeka mencatat marketing sales Rp1,19 triliun pada semester I-2026, setara 32% dari target Rp3,75 triliun; kawasan Kendal menyumbang 71% dari total penjualan.
  • Pendapatan konsolidasian turun 11% menjadi Rp2,44 triliun, sementara perseroan membukukan rugi bersih Rp6,4 miliar akibat beban satu kali dari refinancing utang.
  • Segmen infrastruktur menjadi penopang dengan pendapatan naik 15% menjadi Rp1,40 triliun, didorong kelistrikan, jasa pemeliharaan, dan Cikarang Dry Port.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) membukukan marketing sales sebesar Rp1,19 triliun pada semester I 2026. Angka tersebut baru mencakup sekitar 32 persen dari target tahun ini sebesar Rp3,75 triliun.

Kontribusi terbesar marketing sales itu berasal dari kawasan industri Kendal yang menyumbang 71 persen dari total marketing sales. Penjualan di kawasan tersebut ditopang transaksi lahan seluas 7 hektare kepada produsen baterai serta 9,7 hektare kepada produsen peralatan rumah tangga domestik.

Sementara itu, kawasan Cikarang dan wilayah lainnya, termasuk proyek joint venture, berkontribusi 29 persen. Kawasan ini ditopang oleh penjualan lahan industri seluas 3 hektare kepada perusahaan tekstil Indonesia dan 0,7 hektare kepada perusahaan importir bahan bangunan asal Tiongkok.

Wakil Direktur Jababeka, Budianto Liman, mengatakan meskipun paruh pertama baru mencapai 32 persen target namun perusahaan optimistis target penjualan bakal terpenuhi, melalui strategi penjualan lahan serta memperbesar porsi pendapatan berulang melalui bisnis infrastruktur.

Adapun, target marketing sales tahun ini sekitar Rp1,25 triliun akan dipenuhi dari Cikarang dan wilayah lainnya, meliputi Rp800 miliar dari penjualan lahan industri dan bangunan pabrik serta Rp450 miliar dari penjualan properti residensial dan komersial. Sedangkan, Rp2,5 triliun sisanya ditargetkan berasal dari kawasan Kendal.

"Kami terus melihat permintaan yang baik terhadap lahan industri baik di Cikarang maupun Kendal, sembari tetap fokus pada eksekusi yang disiplin di seluruh lini bisnis serta memperkuat basis pendapatan berulang kami," ujar Budianto dalam keterangan resminya, Senin (3/8).

Dari sisi kinerja, Jababeka mencatat pendapatan konsolidasian sebesar Rp2,44 triliun pada semester I 2026, turun 11 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp2,73 triliun. Meski demikian, Jababeka membukukan rugi bersih senilai Rp6,4 miliar, berbalik dari laba bersih Rp627,6 miliar pada semester I 2025.

Rugi bersih tersebut dipicu beban non-operasional yang bersifat satu kali (one-off) terkait refinancing Senior Notes menjadi pinjaman bank, yang meliputi rugi selisih kurs, biaya penghentian instrumen lindung nilai (hedging), serta percepatan amortisasi Senior Notes yang jatuh tempo pada 2027.

Budianto menjelaskan, skema refinancing ditempuh untuk mengganti utang berdenominasi dolar Amerika Serikat menjadi pinjaman bank dalam mata uang rupiah.

Menurutnya, strategi tersebut lebih memberikan manfaat jangka panjang walaupun memberikan tekanan di awal. melalui perpanjangan tenor utang menjadi 15 tahun, penguatan likuiditas dan fleksibilitas keuangan, penurunan risiko nilai tukar, serta mengurangi risiko refinancing di tengah volatilitas pasar.

Di luar beban yang bersifat non-berulang tersebut, perseroan masih mencatat laba operasional sebesar Rp524 miliar, turun dari Rp822,8 miliar pada semester I 2025. Penurunan tersebut terutama disebabkan lebih rendahnya pengakuan pendapatan penjualan lahan industri di Kendal akibat perbedaan waktu pencatatan.

Segmen infrastruktur menjadi penopang kinerja dengan pendapatan meningkat 15 persen secara tahunan menjadi Rp1,40 triliun dari Rp1,22 triliun. Pertumbuhan tersebut didorong oleh kenaikan pendapatan segmen kelistrikan menjadi Rp921,6 miliar, jasa dan pemeliharaan menjadi Rp347,2 miliar, serta Cikarang Dry Port menjadi Rp129,4 miliar seiring meningkatnya konsumsi utilitas, permintaan layanan tenant, dan volume peti kemas.

Sementara itu, pendapatan dari segmen leisure dan hospitality relatif stabil di level Rp63,4 miliar. Bisnis golf masih menjadi kontributor utama dengan porsi sekitar 65 persen terhadap pendapatan segmen tersebut.

Curated For You

Editorial Team

EditorEkarina .

Related Article