Jakarta, FORTUNE - Pemerintah menyiapkan langkah antisipasi untuk menyiasati gejolak di minyak dunia yang dipicu oleh konflik Iran dan Amerika Serikat.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebutkan bahwa pemerintah telah memiliki nota kesepahaman (MoU) untuk mendapatkan supply di luar negara bagian Timur Tengah.
Sebagaimana diketahui, Iran telah menutup Selat Hormuz, yang menjadi salah satu jalur perdagangan energi dunia, di mana sekitar 20 persen minyak dunia melewati wilayah tersebut. Jalur ini menjadi rute penting bagi arus logistik Indonesia menuju pasar utama di kawasan Timur Tengah.
“Misalnya kemarin Pertamina sudah bikin MOU dengan Amerika beberapa, dengan Chevron, dengan Exxon, dan yang lain,” ungkap Airlangga, Senin (2/3).
Selain Amerika, Pemerintah juga melakukan monitor pada negara-negara potensial lain yang memungkinkan impor minyak.
Airlangga juga menggarisbawahi bahwa terdapat sejumlah dampak yang disebabkan oleh konflik Iran dan AS ke pertumbuhan ekonomi Indonesia, yakni supply minyak yang terganggu, transportasi logistik yang terkendala, hingga sektor pariwisata. “Dan yang ketiga tentunya kita melihat turisme akan sangat terganggu,” imbuhnya.
Sementara itu, Airlangga juga menyatakan bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia juga berpotensi mengalami kenaikan dengan adanya eskalasi konflik. "Sama seperti saat perang Ukraina, tetapi kali ini supply dari Amerika juga akan meningkat dan OPEC meningkatkan kapasitas," tuturnya.
Mengenai pengaruh kepada ekspor, Airlangga menegaskan bahwa hal ini tergantung dari berapa lama perang akan berlangsung.
Sebagai informasi, data BPS menyatakan bahwa nilai ekspor non-migas Indonesia ke UEA melalui jalur Selat Hormuz mencapai US$4,0 miliar pada 2025. Sementara ekspor ke Oman mencatatkan angka sebesar US$428,8 juta dan ekspor ke Iran sebesar US$249,1 juta.
