Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Korporasi Dibayangi Ketidakpastian Ekonomi, Pemanfaatan AI Dinilai Jadi Solusi
Produk Bardi Smart Home (Dok. Istimewa)
  • Dunia usaha masih menghadapi tekanan hingga 2026 akibat perlambatan ekonomi global, konflik geopolitik, dan biaya operasional tinggi yang menuntut adaptasi serta inovasi korporasi.
  • Proxis Group memperkenalkan konsep AI‑Preneurship Ecosystem untuk mendorong transformasi digital, kolaborasi lintas bisnis, dan pertumbuhan berkelanjutan di tengah tantangan kompleks.
  • BARDI melihat peluang besar di pasar domestik seiring pengawasan perdagangan digital yang lebih ketat, sambil memanfaatkan AI guna meningkatkan efisiensi dan daya saing perusahaan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, Fortune - Dunia usaha diperkirakan masih dihadapkan pada berbagai tantangan dan ketidakpastian hingga akhir tahun ini, mulai dari perlambatan ekonomi global, konflik geopolitik, hingga tingginya biaya operasional. Namun, transformasi digital dan pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dinilai dapat menjadi salah satu solusi untuk mempermudah bisnis.

Founder Proxis Group, Rudi Maulana, mengatakan tantangan yang dihadapi korporasi saat ini jauh lebih kompleks dibanding beberapa tahun terakhir. Para pelaku usaha dinilai perlu adaptif dalam menjalankan bisnis dan berinovasi agar tetap mampu menangkap peluang di tengah ketidakpastian.

"Kalau melihat kondisi klien-klien kami, memang tantangannya cukup berat. Mulai dari pandemi, konflik geopolitik, hingga tekanan ekonomi global. Bisa dibilang bukan lagi double strike, tetapi sudah triple strike," ujar Rudi di Jakarta, Rabu (15/7/2026).

Perusahaan konsultan yang berdiri sejak 2005 ini mengklaim telah mendampingi ribuan perusahaan di Indonesia dalam menjalankan pengembangan organisasi, pengembangan sumber daya manusia, teknologi, tata kelola, manajemen risiko, kepatuhan, kesehatan, investasi, serta berbagai solusi bisnis terintegrasi.

Meski demikian, tantangan yang dihadapi korporasi saat ini bisa menjadi momentum melakukan berbagai trasformasi sehingga memperkuat fondasi sebelum memasuki 2027. Ia memperkenalkan AI‑Preneurship Ecosystem, pendekatan yang memanfaatkan teknologi untuk mengintegrasikan budaya enterpreneur, kolaborasi lintas bisnis, serta menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan.

Sementara itu, Co-Founder BARDI Ryan Maurice Tallulah, menilai kondisi saat ini memiliki celah untuk memperluas pasar domestik. Terlebih dengan adanya pengetatan pengawasan terhadap perdagangan digital dan impor menciptakan persaingan yang lebih sehat.

"Saat ini adalah momentum yang baik bagi perusahaan yang selama ini comply. Dulu mungkin hanya sedikit yang memenuhi seluruh aturan, sekarang semua pelaku harus mengikuti regulasi yang sama sehingga persaingan menjadi lebih adil," ujarnya.

Karena itu, perusahaan teknologi rumah pintar (smart home) tersebut belum menjadikan ekspor sebagai prioritas. Ryan mengatakan BARDI masih melihat peluang pertumbuhan yang besar di dalam negeri karena banyak wilayah di Indonesia yang belum tergarap secara optimal.

Selain itu, Indonesia dinilai masih prospektif tercermin dari tingginya minat investor asing untuk menanamkan modal di Tanah Air. Ia mencontohkan kawasan ekonomi khusus (KEK) Kendal yang terus berekspansi karena memperoleh investor asing.

"Tidak mungkin perusahaan asing mau investasi ke Indonesia kalau Indonesia nggak bertumbuh. Indonesia salah satu yang memiliki pertumbuhan domestik terbesar secara global," ujar Ryan.

Agar tidak kalah bersaing, Ryan menyebut strategi yang diadopsi perusahaan meliputi penguatan management internal, serta memanfaatkan AI untuk efisiensi dan keakuratan dalam melayani pelanggan.

Curated For You

Editorial Team

EditorEkarina .

Related Article