Laba Indofood (INDF) Turun 19 Persen, Tertekan Rugi Selisih Kurs

- Laba bersih Indofood semester I-2026 turun 19% menjadi Rp4,72 triliun, terutama akibat rugi selisih kurs saat rupiah melemah terhadap dolar AS.
- Meski laba bersih turun, penjualan neto Indofood naik 9% menjadi Rp65,53 triliun, laba usaha tumbuh 14%, dan laba inti meningkat 7%.
- Beban keuangan Indofood melonjak 143% menjadi Rp5,38 triliun; ICBP juga mencatat laba bersih turun 33% meski penjualan dan laba usahanya bertumbuh.
Jakarta, FORTUNE — PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) mencatat laba bersih Rp4,72 triliun pada semester I-2026. Berdasarkan laporan keuangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), angka tersebut turun 19 persen dibandingkan Rp5,84 triliun pada semester I-2025.
Indofood menjelaskan penurunan laba dipicu rugi selisih kurs akibat pelemahan rupiah, bukan karena pelemahan operasional utama. Pasalnya, penjualan, laba usaha, dan laba inti tetap tumbuh sepanjang semester I-2026.
"Di tengah ketidakpastian global yang terus berlangsung, Indofood membukukan kinerja yang solid pada semester pertama di tahun 2026 ini. Kami tetap fokus mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan, menjaga keseimbangan antara pangsa pasar dan tingkat profitabilitas, serta mempertahankan posisi neraca yang sehat," ujar Direktur Utama sekaligus CEO Indofood, Anthoni Salim dalam siaran pers, Jumat (31/7).
Table of Content
Penjualan dan laba usaha Indofood tetap tumbuh
Indofood masih mencatat pertumbuhan pada sejumlah indikator operasional. Penjualan neto konsolidasi naik 9 persen menjadi Rp65,53 triliun dari Rp59,84 triliun pada semester I-2025.
Kenaikan penjualan tersebut mendorong laba usaha meningkat 14 persen menjadi Rp13,29 triliun dari Rp11,69 triliun. Perseroan juga mempertahankan marjin laba usaha di level sekitar 20,3 persen.
Sementara itu, laba inti atau core profit Indofood naik 7 persen dari Rp5,78 triliun menjadi Rp6,18 triliun. Laba inti mencerminkan kinerja operasional perusahaan tanpa memasukkan sejumlah faktor nonoperasional.
Beban keuangan Indofood melonjak 143 persen
Laporan keuangan Indofood juga menunjukkan kenaikan beban keuangan sepanjang semester I-2026. Beban keuangan tercatat sekitar Rp5,38 triliun, meningkat sekitar 143 persen dibandingkan Rp2,21 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, rugi neto selisih kurs dari aktivitas pendanaan melonjak menjadi sekitar Rp3,39 triliun, jauh lebih tinggi dibandingkan sekitar Rp231 miliar pada semester I-2025. Kondisi itu berkaitan dengan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang berada di kisaran Rp17.900 per dolar AS pada 30 Juni 2026.
Per akhir Juni 2026, Indofood masih memiliki utang jangka panjang dalam denominasi dolar AS sekitar 2,81 miliar dolar AS. Sebagian besar berasal dari obligasi dengan nilai sekitar Rp48,9 triliun.
Di sisi neraca, Indofood mencatat total aset sebesar Rp231,24 triliun hingga 30 Juni 2026. Adapun total liabilitas tercatat sekitar Rp106,5 triliun, sedangkan total ekuitas mencapai Rp124,7 triliun.
Indofood menyatakan akan tetap mendorong pertumbuhan, menjaga keseimbangan pangsa pasar dan profitabilitas, serta mempertahankan neraca yang sehat. Angka-angka tersebut tercantum dalam laporan keuangan Indofood per 30 Juni 2026.
Laba bersih ICBP turun 33 persen
Tidak hanya INDF yang laba bersihnya turun, ICBP juga mengalami hal yang sama. Penjualan neto ICBP tumbuh 11 persen dari Rp37,60 triliun menjadi Rp41,86 triliun pada semester I-2026. Laba usaha juga naik 8 persen dari Rp8,48 triliun menjadi Rp9,15 triliun, dengan marjin laba usaha sekitar 21,9 persen.
Namun, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 33 persen dari Rp5,54 triliun menjadi Rp3,70 triliun. Di sisi lain, laba inti ICBP naik tipis sebesar 1 persen dari Rp5,37 triliun menjadi Rp5,40 triliun.
Direktur Utama dan CEO ICBP Anthoni Salim mengatakan perseroan tetap mewaspadai ketidakpastian pasar. Perusahaan akan tetap menyelaraskan produksi dengan kebutuhan pasar serta mengelola biaya untuk menjaga profitabilitas dan arus kas.
FAQ seputar laba Indofood (INDF) turun 19 persen
| Mengapa laba Indofood (INDF) turun 19 persen? | Karena meningkatnya rugi selisih kurs yang belum terealisasi akibat pelemahan nilai tukar rupiah. |
| Berapa penjualan Indofood pada semester I-2026? | Penjualan neto konsolidasi mencapai Rp65,53 triliun, naik 9 persen secara tahunan. |
| Apakah laba usaha Indofood ikut turun? | Tidak, laba usaha justru naik 14 persen menjadi Rp13,29 triliun. |
| Berapa total aset Indofood per Juni 2026? | Total aset perseroan mencapai Rp231,24 triliun. |





















