Bali, FORTUNE – Dua dekade lalu, Bengkel Autotama di Karangasem, Bali, hanyalah usaha perbaikan kendaraan yang dirintis I Wayan Sutama dengan modal sekitar Rp100 jutaan. Berdiri di atas lahan seluas 1.900 meter persegi, bengkel itu melayani kebutuhan masyarakat sekitar dengan sumber daya yang terbatas. Kini, usaha tersebut telah berkembang menjadi jaringan dengan tiga cabang, mempekerjakan sekitar 100 karyawan, dan membukukan omzet sekitar Rp7 miliar pada 2025.
Pertumbuhan itu tidak datang begitu saja. Di balik ekspansi usaha dan peningkatan pendapatan, terdapat proses panjang yang mencakup perubahan pola pikir, peningkatan standar operasional, hingga keberanian untuk terus belajar di tengah perubahan industri otomotif yang semakin cepat.
Sutama mengakui bahwa ketika memulai usaha, tantangan yang dihadapi tidak hanya berkaitan dengan pelanggan atau permodalan. Ia juga harus berhadapan dengan persoalan yang kerap dialami banyak bengkel independen, mulai dari keterbatasan akses pengetahuan bisnis hingga kesulitan mendapatkan pemasok yang dapat dipercaya.
"Saya memang sering dibohongi dulu, oleh partner saya atau tertipu sparepart palsu dan lain sebagainya," ujarnya dalam temu media bersama Himpunan Bengkel Binaan YDBA (HBBA) Jawa Timur dan Bali di Karangasem, Bali, Kamis (4/6).
Pengalaman tersebut membuatnya menyadari bahwa kemampuan teknis saja tidak cukup untuk membangun usaha yang berkelanjutan. Dibutuhkan pemahaman yang lebih luas mengenai manajemen usaha, pelayanan pelanggan, hingga tata kelola operasional.
Kesempatan itu datang pada 2009 ketika ia mengirim surat elektronik kepada Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) untuk mengikuti program pembinaan. Awalnya, pelatihan diberikan kepada para mekanik. Setahun kemudian, giliran dirinya mengikuti berbagai pelatihan manajemen bengkel. "Awalnya mekanik dulu. Setelah itu 2010 baru saya training di manajemen bengkelnya. Semua terintegrasi, misalnya suku cadang kini dari Astra Otoparts," kata Sutama.
Proses pembelajaran tersebut menjadi salah satu titik balik penting bagi perkembangan Autotama. Praktik pengelolaan bengkel yang sebelumnya dilakukan secara intuitif mulai disusun menjadi sistem yang lebih terstruktur. Standar pelayanan diperbaiki, pengelolaan sumber daya manusia diperkuat, dan tata kelola usaha dibangun secara lebih profesional.
