Tangerang, FORTUNE - Penjualan kendaraan berbasis Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) di Indonesia melonjak tajam hingga 369,1 persen pada Juni 2026. Tren ini didorong oleh perubahan preferensi konsumen yang mulai menjadikan PHEV sebagai solusi atas kecemasan jarak tempuh dan keterbatasan infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik murni (Battery Electric Vehicle/BEV).
Lonjakan tersebut terekam dalam data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Sepanjang Juni 2026, penjualan PHEV mencapai 2.402 unit, melesat jauh dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang hanya 512 unit. Jika ditarik ke belakang, pertumbuhannya 378,5 persen ketimbang Januari 2026.
Pertumbuhan ini sejalan dengan temuan survei Populix yang dipaparkan oleh Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede. Dalam Dialog Otomotif Nasional di ajang GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026, Rabu (5/8), Josua mengungkap harga bukan lagi kendala utama adopsi BEV di Indonesia.
Masyarakat justru lebih mengkhawatirkan keandalan kendaraan saat terjadi kendala teknis, batas jarak tempuh, dan minimnya Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU).
"Ketiga hambatan teratas semuanya berkaitan dengan kepastian, bukan berkaitan dengan biaya. Konsumen tidak mengatakan kendaraan listrik terlalu mahal, tetapi mereka tidak yakin apa yang akan terjadi ketika menghadapi masalah di tengah perjalanan," kata Josua.
Padahal, motivasi utama masyarakat beralih ke kendaraan elektrifikasi tetap pada penghematan biaya operasional dan dorongan untuk menekan emisi karbon. Kekosongan antara kebutuhan efisiensi dan jaminan jarak tempuh inilah yang kini diisi oleh teknologi transisi seperti PHEV.
Sempat dinilai sebagai teknologi tanggung dan berharga mahal, persepsi pasar terhadap PHEV berubah drastis pada paruh pertama 2026. Penurunan harga jual ke kisaran Rp300 juta hingga Rp400 juta membuat teknologi ini makin diminati.
"Selama ini PHEV dianggap sebagai teknologi transisi yang mahal. Tetapi ketika harganya turun ke rentang yang lebih terjangkau, PHEV langsung menjadi jawaban atas kekhawatiran yang paling sering disebut konsumen,” katanya.
Josua menambahkan, sistem hibrida plug-in memberikan rasa aman bagi pengemudi karena mesin pembakaran internal tetap bersiaga manakala daya baterai terkuras habis.
"PHEV memberikan konsumen izin untuk mencoba listrik tanpa harus mempertaruhkan mobilitasnya,” ujarnya.
Di sisi lain, BEV juga mencatat kenaikan penjualan sebesar 36,2 persen menjadi 12.653 unit pada Juni 2026, disusul oleh segmen Hybrid Electric Vehicle (HEV) yang tumbuh ke angka 8.215 unit.
"Pertumbuhan serentak ketiga teknologi menunjukkan konsumen memilih teknologi yang paling sesuai dengan kebutuhan dan pola penggunaan,” ungkapnya.
Demi merespons ceruk pasar tersebut, pabrikan otomotif seperti BYD mulai memperkuat lini PHEV di Tanah Air. Salah satunya lewat kehadiran model BYD M6 DM yang mengusung teknologi Dual Mode (DM).
Head of Product BYD Indonesia, Bobby Barata, menjelaskan teknologi ini dikembangkan melalui filosofi electric-first. Motor listrik menjadi tulang punggung penggerak utama, sementara mesin bensin baru diintervensi saat sistem membutuhkannya.
"Teknologi Dual Mode mengintegrasikan motor listrik dan mesin pembakaran. Motor listrik menjadi penggerak utama kendaraan, sedangkan mesin hybrid berfungsi menghasilkan energi listrik ke baterai maupun memberikan tambahan tenaga ke roda ketika diperlukan," ujar Bobby.
Teknologi ini diklaim mampu menyajikan efisiensi tinggi. "Seluruh perpindahan mode berlangsung otomatis melalui sistem manajemen energi yang menyesuaikan kondisi berkendara dan kebutuhan tenaga," kata Bobby.
Dalam pengujian jalan sejauh 150 kilometer, BYD M6 DM menghabiskan daya listrik 9,2 kWh dan bensin 2,3 liter. Angka ini merepresentasikan konsumsi listrik sekitar 16,4 km/kWh dan efisiensi bahan bakar setara 65 kilometer per liter. Penghematan biaya operasionalnya ditaksir mencapai 66 persen dibandingkan mobil konvensional berkapasitas 1.500 cc.
