Jakarta, FORTUNE - Pasar properti residensial menghadapi tekanan sepanjang semester I 2026. Laporan Pinhome menunjukkan transaksi rumah baru mengalami perlambatan, meski minat masyarakat untuk mencari hunian masih tumbuh. Di saat yang sama, pasar mulai dipengaruhi faktor eksternal, mulai dari tekanan ekonomi kelas menengah, kebijakan pemerintah, hingga risiko iklim.
Berdasarkan Pinhome Indonesia Residential Property Market Report Semester I 2026, penjualan rumah baru tercatat mengalami kontraksi rata-rata 1 persen per bulan sepanjang enam bulan pertama tahun ini. Berbeda dengan transaksi, aktivitas pencarian rumah untuk dibeli justru meningkat rata-rata 13 persen per bulan.
CEO dan Founder Pinhome, Dayu Dara Permata, mengatakan pelemahan penjualan terutama terjadi karena permintaan dari segmen masyarakat kelas menengah masih tertahan. Kondisi tersebut dipengaruhi tekanan biaya hidup, kenaikan harga kebutuhan pokok, peningkatan biaya utilitas seperti listrik dan bahan bakar minyak (BBM), hingga dampak pemutusan hubungan kerja (PHK).
“Kita lihat karena dari sisi demand-nya ini memang (pengaruhnya) lebih soft. Kita juga melihat bahwa ini berpengaruh ke transaksi, jadi orang mencari tapi belum membeli saat ini,” ujar Dayu dalam Media Talk Show Pinhome di Jakarta, Rabu (29/7).
Menurut Dayu, kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat masih berada pada tahap mempertimbangkan pembelian, meskipun ketertarikan terhadap hunian tetap ada. Perlambatan permintaan itu juga berdampak pada meningkatnya pasokan rumah seken di sejumlah wilayah karena sebagian pemilik aset memilih menjual properti untuk mendapatkan likuiditas.
Kawasan industri seperti Kabupaten Tangerang, Bekasi, dan Malang mencatat peningkatan inventori rumah seken yang ditawarkan masing-masing sebesar 8,4 persen, 4,9 persen, dan 4,2 persen pada semester I 2026.
Namun, transaksi rumah seken belum bergerak signifikan karena masih terdapat perbedaan ekspektasi harga antara penjual dan pembeli. Meski demikian, Pinhome menilai meningkatnya pasokan rumah sekunder berpotensi menjadi peluang ketika kebutuhan dan harga mulai menemukan titik temu.
“Yang penting dari demand sudah ada awareness, sudah ada niat dan minat. Hanya masalah waktu. Selama supply ada motivasi jual tinggi, mudah-mudahan nanti bisa bertemu,” ucap Dayu.
