Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
PMI Manufaktur RI Rebound ke 50,2, S&P Global Soroti Bayang-Bayang Inflasi
ilustrasi produksi manufaktur (pexels.com/Freek Wolsink)
  • PMI manufaktur Indonesia Juli 2026 rebound ke 50,2 dari 46,9, kembali ke zona ekspansi berkat kenaikan produksi dan stabilisasi pesanan baru.
  • Perbaikan manufaktur mendorong peningkatan tenaga kerja, mengakhiri pengetatan dan PHK yang berlangsung selama empat bulan berturut-turut.
  • Pelaku industri makin optimistis berekspansi, tetapi tekanan inflasi tetap membayangi; inflasi Juli 2026 tercatat 2,88 persen secara tahunan dan dipengaruhi situasi Timur Tengah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE – Sektor manufaktur Indonesia kembali memasuki zona ekspansi pada Juli 2026 setelah Purchasing Managers’ Index (PMI) berada pada level 50,2, rebound dari posisi kontraksi 46,9 pada bulan sebelumnya.

Berdasarkan laporan S&P Global yang dikutip Senin (3/8), pemulihan kinerja sektor manufaktur ini didorong oleh ekspansi volume produksi, stabilisasi pesanan baru, serta berhentinya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) pada sektor industri.

Kinerja manufaktur nasional yang membaik bertepatan dengan stabilisasi bisnis secara keseluruhan. Peningkatan volume produksi serta permintaan pemesanan pada kuartal ini menjadi yang terkuat sejak November 2025.

Perbaikan kinerja ini turut berdampak positif terhadap penyerapan tenaga kerja. S&P Global melihat adanya peningkatan jumlah karyawan pada sektor manufaktur, yang sekaligus mengakhiri periode pengetatan tenaga kerja atau PHK selama empat bulan berturut-turut.

"Data survei Juli menunjukkan peningkatan volume produksi di sektor manufaktur Indonesia, seiring dengan stabilisasi penerimaan pesanan baru," ujar Ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, dalam laporan resmi S&P.

Usamah menjelaskan para pelaku industri manufaktur kian optimistis dalam melakukan ekspansi usaha. Meski demikian, bayang-bayang kenaikan harga akibat inflasi yang belum sepenuhnya terkendali masih menjadi tantangan utama.

Tekanan inflasi tersebut dinilai masih sangat bergantung pada ketegangan geopolitik yang berlangsung di kawasan Timur Tengah.

"Beberapa produsen berharap akan adanya penurunan tekanan harga untuk mendukung pertumbuhan, dengan perkembangan di Timur Tengah tetap menjadi kunci bagi hal ini dalam beberapa bulan mendatang," kata Usamah.

Sebagai pembanding indikator harga, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Indonesia pada Juli 2026 mencapai 2,88 persen secara tahunan (year-on-year). Kenaikan ini ditunjukkan oleh Indeks Harga Konsumen (IHK) yang meningkat dari 108,60 pada Juli 2025 menjadi 111,73 pada Juli 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article