Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Produksi Listrik PGEO Naik 13,6 Persen, Turut Dongkrak Pendapatan
Ilustrasi proyek pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Hululais Unit 1 & 2 (110 MW) di Bengkulu. Proyek ini adalah bagian dari strategi quick win PGEO untuk mencapai kapasitas mandiri 1 GW. (Dok. PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO))
  • Produksi listrik PGEO semester I-2026 naik 13,62 persen menjadi 2.745 GWh, didorong peningkatan operasi di beberapa wilayah dan kontribusi penuh PLTP Lumut Balai Unit 2.

  • Pendapatan PGEO tumbuh 14,7 persen secara tahunan menjadi US$235,03 juta, sementara laba bersih naik 15,48 persen menjadi US$79,61 juta, terutama berkat kinerja operasional.

  • PGEO mencatat availability factor 99,71 persen, capacity factor 90,42 persen, dan unplanned outage rate 0,11 persen; perusahaan fokus menjaga keandalan aset, reservoir, keselamatan, serta efisiensi operasi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mencatatkan pertumbuhan produksi listrik dan kinerja keuangan pada semester I-2026. Peningkatan produksi listrik 13,62 persen menjadi pendorong utama kenaikan pendapatan dan laba perseroan.

Berdasarkan paparan publik kinerja keuangan semester I-2026, produksi listrik PGEO mencapai 2.745 gigawatt hour (GWh) atau meningkat 13,62 persen dibandingkan dengan periode sama pada tahun lalu.

Kenaikan tersebut didukung oleh peningkatan produksi di sejumlah wilayah operasi, seperti Kamojang, Ulubelu, Lahendong, Karaha, serta kontribusi penuh Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai Unit 2 yang mulai beroperasi secara komersial pada akhir Juni 2025.

Peningkatan produksi itu berbanding lurus dengan kinerja keuangan perusahaan. Pendapatan PGEO tumbuh 14,7 persen secara tahunan menjadi US$235,03 juta, sementara laba bersih meningkat 15,48 persen menjadi US$79,61 juta pada semester I-2026.

Direktur Keuangan PGEO, Fransetya Hasudungan Hutabarat, mengatakan keberhasilan perseroan menjaga keandalan operasi menjadi fondasi utama pertumbuhan pendapatan, profitabilitas, dan arus kas perusahaan.

"Sejalan dengan pertumbuhan produksi listrik sebesar 13,62 persen, perseroan berhasil membukukan pertumbuhan pendapatan dan laba yang sehat. Pertumbuhan ini mencerminkan keberhasilan kami dalam mengoptimalkan operasi pembangkit untuk memenuhi meningkatnya kebutuhan listrik nasional," kata Fransetya dalam keterangannya, Selasa (4/8).

Menurut dia, kualitas pertumbuhan laba PGEO juga tetap terjaga karena sebagian besar berasal dari peningkatan kinerja operasional, sementara kontribusi faktor nonoperasional relatif terbatas.

Fransetya menambahkan mulai beroperasinya PLTP Lumut Balai Unit 2 serta penyelesaian sejumlah aset produktif baru menjadi tonggak penting dalam strategi pertumbuhan jangka panjang perusahaan. Meski demikian, beroperasinya aset baru tersebut turut meningkatkan beban penyusutan sehingga margin laba kotor sedikit turun menjadi 55,5 persen.

"Hal ini merupakan bagian dari ekspansi kapasitas dan investasi yang dilakukan PGE untuk menciptakan nilai ekonomi yang lebih besar dalam jangka panjang," katanya.

Dari sisi operasional, Direktur Operasi PGEO, Andi Joko Nugroho, menilai keberhasilan perusahaan tidak hanya diukur dari besarnya produksi listrik, tetapi juga dari kemampuan menjaga aset pembangkit tetap beroperasi secara aman, andal, dan efisien.

Menurutnya, peningkatan produksi dicapai melalui pengelolaan reservoir yang disiplin, pemeliharaan yang terencana, serta kolaborasi lintas wilayah kerja sehingga utilisasi pembangkit dapat dioptimalkan.

"Keunggulan operasional inilah yang kemudian kami terjemahkan menjadi peningkatan produksi pada semester pertama tahun 2026," ujar Andi.

Hingga semester I 2026, perseroan mencatat availability factor sebesar 99,71 persen, capacity factor sebesar 90,42 persen, serta unplanned outage rate hanya 0,11 persen.

Capaian capacity factor tersebut jauh melampaui rata-rata perusahaan panas bumi global yang umumnya berada pada kisaran 75–80 persen.

Peningkatan produksi di masing-masing wilayah kerja juga ditopang berbagai inisiatif operasional.

Di Kamojang, produksi meningkat berkat bertambahnya permintaan listrik, tambahan pasokan uap, serta selesainya penyambungan pemipaan make-up well yang menambah sekitar 41 megawatt (MW) kapasitas pasokan uap sejak Maret 2026.

Sementara di Ulubelu, tambahan pasokan uap dari Cluster M sejak Mei 2026 meningkatkan kapasitas listrik sekitar 35 MW, didukung optimalisasi jadwal pemeliharaan sehingga pembangkitan berjalan lebih efektif.

Di Lahendong, produksi tetap stabil seiring meningkatnya permintaan listrik dari PLN. Adapun Lumut Balai mencatat lonjakan produksi lebih dari dua kali lipat setelah Unit 2 beroperasi penuh, sedangkan Karaha menunjukkan tren pemulihan melalui program Karaha Recovery Program.

Andi mengatakan tingkat keandalan operasi tersebut memungkinkan PGEO memenuhi peningkatan permintaan listrik dari PLN sepanjang semester pertama tahun ini sekaligus menjaga pasokan listrik panas bumi bagi sistem kelistrikan nasional.

Ke depan, perseroan akan terus berfokus pada peningkatan keandalan aset, optimalisasi reservoir, penguatan budaya keselamatan kerja, dan efisiensi operasi untuk mempertahankan tingkat produksi sekaligus mendukung ekspansi kapasitas panas bumi. 

Curated For You

Editorial Team

Related Article