Saat ini, bisnis Hashim terpusat di bawah Arsari Group. Nama Arsari merupakan akronim dari nama ketiga anaknya, yakni Aryo, Sara, dan Indra.
Sebagai pendiri dan presiden direktur, Hashim mengelola portofolio bisnis di berbagai sektor. Cakupannya meliputi agroforestri, perkebunan, infrastruktur digital, energi terbarukan, energi dan pertambangan, perdagangan, hingga budi daya perairan.
Di sektor migas, Nations Petroleum terbaru memenangkan Wilayah Kerja (WK) Natuna D-Alpha. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri ESDM No. 108.K/MG.4/DJM/2026 tertanggal 17 September 2026, perusahaan berkomitmen menginvestasikan 103,31 juta dolar AS untuk tiga tahun pertama dan membayar bonus tanda tangan 200.000 dolar AS.
WK Natuna D-Alpha diperkirakan memiliki potensi gas hingga 222 triliun kaki kubik (TCF). Namun, kandungan karbon dioksida (CO2) yang diperkirakan melebihi 70 persen membuat pengembangannya membutuhkan teknologi pemisahan dan penanganan CO2.
Hashim juga menjalankan bisnis pertambangan melalui Arsari Tambang. Bisnisnya mencakup rantai usaha timah dan solder, mulai dari eksplorasi, ekstraksi, pengolahan, peleburan, pemurnian, hingga penjualan dan ekspor. Arsari Tambang juga memiliki portofolio di sektor nikel, potash, dan sedimentasi laut.
Di sektor agribisnis, Arsari memiliki Potensi Bumi Sakti di Aceh yang memproduksi karet remah. Sementara itu, PT ITCI Kartika Utama bergerak di bidang agroforestri.
Portofolio bisnis Arsari turut menjangkau sektor budi daya perairan melalui Bima Sakti Bahari. Perusahaan tersebut menjalankan usaha budi daya mutiara di Bima, Nusa Tenggara Barat.