Jakarta, FORTUNE – Perusahaan penyedia solusi industri F&B asal Indonesia, PT Multi Citra Rasa (Rasa Group), mendukung hilirisasi produk lokal dengan meningkatkan produksi bahan baku minuman beragam, mencakup produk bubuk hingga sirup bercita rasa di bawah merk DRiPP Flavour, MultiBev, Ramoe, hingga Flavorshot.
Setelah mengekspor produk ke pasar Asia Tenggara dalam dua tahun terakhir, perusahaan kini membidik perluasan distribusi hingga ke kawasan Timur Tengah, Australia, Korea Selatan, Jepang, hingga Amerika Serikat (AS) sebagai tujuan ekspansi berikutnya.
CEO Rasa Group, Sherley Ruslie, mengatakan strategi perusahaan bukan sekedar memperluas jaringan distribusi belaka, melainkan membangun citra produk Indonesia di kancah global.
"Rasa Group bukan sekedar mengekspor komoditi, yang kami lakukan adalah kami mengekspor brand," kata Sherley saat peluncuran House of Rasa di PIK 2, Kamis (16/7).
Di tengah ekspansi tersebut, Sherley menegaskan Indonesia tetap menjadi pasar utama perusahaan. Namun, pertumbuhan industri F&B di kawasan Asia Tenggara tetap menjadi peluang yang terus dimanfaatkan.
Di kancah domestik, jenama DRiPP Flavour yang dirilis Rasa Group sejak 2017 telah digunakan di seluruh jaringan kafe seperti Fore, Janji Jiwa, Kopi Kenangan, J.CO, hingga Starbuck.
Sherley menambahkan, berbagai langkah ini disokong oleh pabrik sentral produksi Rasa Group di kawasan industri MM2100 Bekasi hingga House of Rasa di PIK 2. Ia menyatakan, jumlah realisasi produksi pabrik miliknya terus mengalami peningkatan setiap tahunnya.
“Volume produksi kami di pabrik terus meningkat sekitar 50 persen setiap tahunnya,” kata Sherley.
Selain itu, House of Rasa tidak hanya difungsikan sebagai kantor pusat, melainkan Innovation & Collaboration Hub yang mempertemukan pelaku industri dalam satu ekosistem.
Fasilitas yang tersedia meliputi Beverage Lab, Culinary Lab, Coffee Experience Center, Training Center, hingga ruang kolaborasi dan jejaring bisnis.
Melalui fasilitas tersebut, perusahaan ingin menghadirkan ruang bagi pemilik merek, pemasok, komunitas, asosiasi, hingga talenta F&B untuk mengembangkan ide, melakukan riset, serta menghasilkan inovasi produk baru.
Dalam kesempatan tersebut, Yuke Sri Rahayu, Direktur Kriya, Kuliner, Desain, dan Fesyen, Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (Kemenekraf/Bekraf RI), juga menjelaskan bahwa subsektor kuliner masih menjadi penyumbang terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) ekonomi kreatif dengan kontribusi sekitar 41 persen pada 2025.
"Kami tidak ingin Indonesia hanya menjadi pasar bagi merek asing, tetapi juga menjadi pemain utama di tingkat regional maupun global," kata Yuke.
Ia menambahkan, saat ini tiga subsektor utama ekonomi kreatif masih berasal dari kuliner, fesyen, serta televisi dan radio/video yang menyumbang sekitar 69,42 persen dari total PDB ekonomi kreatif nasional yang mencapai Rp1.757,87 triliun pada 2025, dengan pertumbuhan 6,86 persen.
