Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Setahun Meluncur, Konsultasi Halodoc by Halofit Tumbuh 37 Kali Lipat
Halofit 1st Anniversary: Simplifying Obesity Care & Shaping a Healthier Indonesia di Jakarta, Kamis (24/9)/Dok. FORTUNE IDN/Desy Y.
  • Halofit mencatat lebih dari 68 ribu konsultasi dan pertumbuhan 37 kali lipat dalam setahun, dengan pengguna terbanyak dari Jabodetabek, Bandung, dan Surabaya.
  • Halodoc menawarkan paket pengelolaan berat badan mulai konsultasi Rp10.000, mencakup obat dan konsultasi 30 hari; ekspansi geografis menjadi fokus pada 2027.
  • Prevalensi obesitas dewasa Indonesia mencapai 23,4 persen pada 2023; Halofit menyiapkan fitur pemantauan progres, dukungan medis 24/7, dan pengingat jadwal terapi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE – Satu tahun beroperasi, layanan pengelolaan berat badan digital Halofit milik Halodoc mencatat pertumbuhan jumlah konsultasi hingga 37 kali lipat. Dalam periode tersebut, Halofit telah mencatat lebih dari 68 ribu sesi konsultasi dari pengguna di berbagai wilayah Indonesia. Dari sisi wilayah, pengguna Halofit paling banyak berasal dari Jabodetabek, disusul Bandung dan Surabaya.

VP Consultation & Diagnostics Halodoc, Ignasius Hasim, mengatakan pertumbuhan konsultasi tersebut menjadi capaian penting pada tahun pertama pengembangan Halofit. Perusahaan juga melihat masih terdapat ruang untuk memperluas jangkauan layanan. Menurut dia, ekspansi geografis menjadi salah satu fokus Halofit pada 2027. Saat ini layanan tersebut memang telah tersedia di sejumlah kota di luar tiga wilayah utama, tetapi belum mencakup seluruh Indonesia.

“Kita senang buat progres tahun pertama dan harapannya bisa lanjut terus sampai tahun-tahun berikutnya,” ujar Ignasius, dalam temu media Halofit 1st Anniversary: Simplifying Obesity Care & Shaping a Healthier Indonesia di Jakarta, Kamis (24/9).

Pertumbuhan pengguna Halofit tidak hanya diarahkan pada peningkatan jumlah konsultasi. Halodoc mengembangkan layanan ini dengan model paket yang menggabungkan sejumlah layanan dalam satu transaksi. Ignasius menjelaskan, konsultasi dokter pertama kali dipatok Rp10.000. Pengguna kemudian dapat memilih paket sesuai dengan kebutuhan berdasarkan rekomendasi dan hasil pembahasan bersama dokter, ada pula paket yang sudah termasuk home care.

“Setelah konsultasi dengan dokter, jika pengguna cocok dan merasa mendapat paket yang sesuai dengan kebutuhannya, mereka akan bisa membayar paket, isinya sudah termasuk obat dan termasuk konsultasi dengan dokter selama 30 hari ke depan,” ujarnya.

Dari sisi demografi, basis pengguna Halofit saat ini masih terkonsentrasi di Jabodetabek. Kelompok pengguna terbesar berada pada rentang usia 31-40 tahun dan didominasi perempuan.

Meski pertumbuhan konsultasi telah mencapai 37 kali lipat, ia enggan mengungkapkan kontribusi pendapatan Halofit terhadap Halodoc. Menurutnyam kontribusi tersebut masih relatif kecil karena layanan baru berjalan sekitar satu tahun, tetapi optimistis terus berkembang.

"Kita ingin lebih banyak orang-orang yang punya penyakit obesitas, kendala obesitas bisa terbantu menggunakan Halofit,” kata Ignasius.

Sementara itu, dari sisi layanan, Halofit menyiapkan sejumlah fitur baru memasuki tahun kedua. Di antaranya Care Room untuk memantau progres penurunan berat badan, dukungan 24/7 melalui tim medis Halofit dan HILDA, serta widget jadwal injeksi mingguan untuk membantu pengguna melacak dan mengingat jadwal terapi.

Dalam satu tahun pertama, Halofit juga mengklaim mencatat sejumlah hasil penanganan pengguna. Salah satunya adalah penurunan berat badan hingga 19,5 kilogram atau sekitar 20 persen dari berat badan awal dalam tiga bulan setelah menggunakan layanan. Menurut dia, masukan dari pengguna menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan kategori layanan klinik digital berikutnya.

Besarnya peluang layanan pengelolaan berat badan turut tercermin dari prevalensi obesitas di Indonesia. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 Kementerian Kesehatan, prevalensi obesitas pada penduduk berusia lebih dari 18 tahun mencapai 23,4 persen, meningkat dari 21,8 persen pada 2018. Dengan kata lain, sekitar satu dari empat orang dewasa di Indonesia mengalami obesitas.

Kondisi tersebut juga berkaitan dengan meningkatnya risiko berbagai penyakit tidak menular. dr. Karina Marcella Widjaja, Sp.GK, mitra dokter spesialis Halodoc, mengatakan obesitas dapat berhubungan dengan sejumlah gangguan metabolik maupun penyakit kronis lainnya.

“Obesitas itu sangat berkaitan dengan diabetes mellitus, hipertensi, darah tinggi, dan dislipidemia, serta penyakit ginjal ,” ujar dr. Karina.

Ia juga menekankan bahwa pengelolaan berat badan perlu dilakukan dengan melihat kondisi tubuh secara menyeluruh, bukan semata-mata mengejar penurunan angka di timbangan. Penting untuk memahami kondisi tubuh secara menyeluruh dengan memperhatikan berat badan, BMI, lingkar pinggang, serta komposisi tubuh di mana persentase massa lemak tubuh sebaiknya tidak melebihi 25 persen pada laki-laki dan 30 persen pada perempuan.

Selain itu, penting untuk menetapkan target yang realistis, membangun pola makan seimbang, serta menjaga aktivitas fisik dan tidur yang cukup. Perlu diingat bahwa kenaikan kembali berat badan dapat terjadi dan bukan berarti seseorang gagal. "Bila diperlukan, jangan ragu mencari pendampingan tenaga medis khususnya dokter spesialis gizi untuk mendapatkan pendekatan yang sesuai," ujar dr. Karina.

Curated For You

Editorial Team

Related Article