Jakarta, FORTUNE – Jakarta, FORTUNE – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk bekerja sama dengan CrowdStrike untuk mengembangkan perlindungan siber berbasis kecerdasan buatan (AI). Kerja sama tersebut dituangkan dalam nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang juga mencakup upaya mengantisipasi risiko keamanan dari penggunaan AI di lingkungan perusahaan.
Kerja sama ini juga mencakup peluang pengembangan layanan keamanan terkelola (managed security services) bagi organisasi di Indonesia. Di sisi lain, Telkom berencana menstandarkan pertahanan sibernya dengan menggunakan platform Falcon milik CrowdStrike.
Melalui kerja sama ini, kedua perusahaan akan menggabungkan platform AI-native CrowdStrike Falcon dan layanan keamanan CrowdStrike dengan pengalaman Telkom di pasar Indonesia, basis pelanggan sektor publik dan swasta, serta infrastruktur teknologinya.
Keduanya juga akan membentuk tim gabungan untuk mengembangkan solusi keamanan bagi agen AI, model, dan sistem AI. Selain pengembangan teknologi, kerja sama mencakup penguatan kapabilitas keamanan, inovasi bersama, penyediaan solusi berbasis CrowdStrike, dan pengembangan strategi go-to-market.
"AI mengubah cara organisasi beroperasi dan menjalankan program keamanan siber," ujar Jonathon Dixon, Vice President and Managing Director, Japan and Asia Pacific, CrowdStrike, dalam keterngan pers dikutip Selasa (8/9).
Dia menambahkan, Telkom memiliki komitmen yang sama untuk mengamankan masa depan AI di Indonesia dengan menghadirkan perlindungan berbasis AI serta keamanan untuk AI bagi organisasi yang mendorong transformasi digital di kawasan.
Kerja sama ini berlangsung ketika ancaman siber di Indonesia meningkat sekaligus ketika perusahaan mulai memperluas penggunaan AI. Data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang dirilis pada 2026 menunjukkan Indonesia menghadapi sekitar 5,5 miliar serangan siber sepanjang 2025, melonjak 714 persen dibandingkan rata-rata tahunan periode 2020–2024. Serangan tersebut menyasar antara lain infrastruktur pemerintah, sektor ekonomi, dan keamanan nasional.
Oleh karena itu, kebutuhan keamanan tidak lagi hanya berkaitan dengan perlindungan perangkat dan jaringan. Penggunaan AI menambah lapisan risiko baru, mulai dari model dan agen AI hingga sistem yang menjalankannya.
CrowdStrike dan Telkom mengeksplorasi pemanfaatan Falcon AI Detection and Response (AIDR) untuk menghadapi risiko tersebut. Teknologi ini dirancang memberikan visibilitas dan pengendalian saat AI berjalan, mulai dari endpoint hingga lingkungan perusahaan secara keseluruhan. Telkom juga akan memperkuat kemampuan tim keamanan dan analisnya melalui kolaborasi tersebut.
Seno Soemadji, Director of Strategic Business Development & Portfolio, Telkom Indonesia, mengatakan melalui kolaborasi dengan CrowdStrike, Telkom menargetkan peningkatan kemampuan organisasi dalam menghadapi ancaman siber melalui kapabilitas keamanan yang mampu merespons kecepatan dan kecanggihan serangan saat ini.
Kerja sama tersebut juga diarahkan untuk memperkuat keahlian tim keamanan dan analis Telkom. "Kolaborasi ini akan mengeksplorasi ketahanan siber jangka panjang, termasuk memperkuat ketahanan organisasi di kawasan dalam menghadapi berbagai ancaman yang didorong oleh teknologi-teknologi baru seperti AI dan komputasi kuantum," ujarnya.
Bagi Telkom, kerja sama ini juga sejalan dengan pergeseran bisnis perusahaan menuju layanan digital dan teknologi informasi. Dalam laporan kinerja 2025, Telkom membukukan pendapatan konsolidasi Rp146,74 triliun, turun 2,2 persen dari Rp149,97 triliun pada 2024. Namun, EBITDA tercatat Rp72,2 triliun dengan margin 49,2 persen, sementara laba bersih mencapai Rp17,8 triliun.
Pendapatan dari data, internet, dan layanan teknologi informasi masih menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp90,04 triliun, setara 61,4 persen dari total pendapatan Telkom pada 2025. Di dalamnya, pendapatan layanan internet, komunikasi data, dan teknologi informasi mencapai Rp14,22 triliun.
Perusahaan juga tengah memperluas portofolio AI. Sebelumnya, Telkom menggandeng IBM untuk menghadirkan platform AI berdaulat bagi bisnis di Indonesia. Dengan demikian, kerja sama dengan CrowdStrike menambah lapisan keamanan pada agenda digitalisasi tersebut. Ketika AI semakin digunakan dalam operasional bisnis, kebutuhan Telkom bukan hanya menyediakan infrastruktur dan platform digital, tetapi juga memastikan teknologi tersebut dapat digunakan dengan tingkat keamanan yang memadai.
