Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

Tren Matcha Naik di Indonesia, tapi Dinilai Tak Akan Gantikan Kopi

Tren Matcha Naik di Indonesia, tapi Dinilai Tak Akan Gantikan Kopi
matcha (pexels.com/Pixabay)
Intinya Sih
  • Pasar matcha global diproyeksikan tumbuh dari US$3,67 miliar pada 2025 menjadi US$6,22 miliar pada 2030 dengan CAGR 6,56 persen, mencerminkan peningkatan minat konsumen terhadap minuman berbasis teh hijau.
  • Ahmad Nurul Fajri menyebut tren matcha di Indonesia sebagai bagian perubahan gaya hidup sehat, menawarkan energi stabil dan antioksidan tinggi yang menarik bagi pencari alternatif kopi.
  • Meski popularitasnya meningkat, pelaku industri menilai matcha tidak akan menggantikan kopi karena budaya kopi kuat di Indonesia; keduanya diprediksi berkembang berdampingan dan memperkaya pilihan minuman.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, FORTUNE - Minuman berbasis matcha semakin populer di Indonesia. Menurut Mordor Intelligence, pasar industri matcha diproyeksikan mencapai US$3,67 miliar pada 2025 (Rp60,6 triliun) dan diperkirakan akan tumbuh menjadi US$6,22 miliar (Rp102,6 triliun) pada 2030 dengan tingkat pertumbuhan tahunan (CAGR) 6,56 persen.

Bagi pendiri Feel Matcha, Ahmad Nurul Fajri, tren ini bukan sekadar fenomena sesaat, melainkan bagian dari perubahan gaya hidup.

Menurut Fajri, di beberapa negara seperti Amerika Serikat, matcha sudah lebih dulu menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Minuman teh hijau bubuk asal Jepang itu bahkan diposisikan sebagai alternatif kopi di kafe.

“Di Amerika, matcha sudah menjadi lifestyle. Saya ingin membawa konsep itu ke Indonesia, bahwa matcha bukan hanya pengganti kopi, tetapi juga punya manfaat kesehatan,” ujarnya pada Fortune Indonesia, dikutip Jumat (13/3).

Ia menjelaskan, matcha dikenal memiliki kandungan antioksidan yang tinggi serta kafein alami yang memberikan energi lebih stabil dibandingkan kopi. Hal ini membuatnya semakin diminati oleh konsumen yang mencari pilihan minuman berbeda di luar kopi.

Menariknya, lonjakan popularitas matcha di Indonesia baru terasa dalam beberapa waktu terakhir. Fajri mengaku sempat terkejut melihat antusiasme pasar yang meningkat pesat.

Menurutnya, perubahan pola konsumsi masyarakat menjadi salah satu faktor pendorong. Di tengah kondisi ekonomi yang menantang, sebagian konsumen memilih mengurangi pengeluaran besar dan beralih ke pengalaman yang lebih sederhana seperti kuliner dan minuman.

“Orang mungkin mencari sesuatu yang lebih refreshing. Matcha jadi alternatif yang sebelumnya belum banyak dieksplor,” katanya.

Meski begitu, para pelaku industri menilai matcha tidak akan sepenuhnya menggantikan kopi di pasar Indonesia. Menurut pendiri Hakuji Tearoom, Sarah Jessica, keduanya justru berpotensi berkembang berdampingan.

“Kalau untuk benar-benar menggantikan, rasanya tidak. Tapi keduanya bisa berjalan berdampingan, bahkan saling melengkapi,” ujarnya.

Hal ini tidak terlepas dari kuatnya budaya kopi di Indonesia. Sebagai salah satu produsen kopi terbesar di dunia, kopi telah lama menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Bahkan di Jepang sendiri, pasar kopi masih jauh lebih besar dibandingkan matcha.

Perbedaan juga terlihat pada fleksibilitas harga dan kualitas. Kopi dapat dinikmati pada berbagai tingkat harga tanpa perbedaan rasa yang terlalu drastis. Sebaliknya, perbedaan kualitas matcha, mulai dari culinary grade hingga ceremonial grade, dapat memberikan pengalaman minum yang sangat berbeda.

Ke depan, Fajri memperkirakan tren minuman berbasis teh Jepang masih akan berkembang. Selain matcha, ia menilai minuman lain seperti hojicha berpotensi menjadi tren berikutnya di industri minuman.

“Di industri F&B selalu ada hal baru yang dicari konsumen. Biasanya bukan menggantikan tren sebelumnya, tapi menambah pilihan baru,” ujarnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pingit Aria
EditorPingit Aria
Follow Us

Latest in Business

See More