Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Akses Investasi Kian Mudah, Pembeli Saham AS Tertokenisasi PINTU Melonjak 68%

3 min read
Akses Investasi Kian Mudah, Pembeli Saham AS Tertokenisasi PINTU Melonjak 68%
ilustrasi pasar kripto, crypto, Ethereum, Bitcoin (pexels.com/Jakub Zerdzicki)
  • Jumlah pengguna yang membeli saham dan ETF AS tertokenisasi di PINTU tumbuh 68 persen pada kuartal III-2026.

  • Aktivitas perdagangan meningkat, dengan trader aktif naik 64 persen, transaksi 55 persen, dan volume perdagangan 51 persen.

  • PINTU memperluas pilihan aset tertokenisasi, tetapi investor tetap perlu memahami risiko dan menyesuaikannya dengan tujuan investasi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE — Minat investor terhadap saham dan exchange-traded fund (ETF) Amerika Serikat (AS) tertokenisasi di platform perdagangan aset kripto PINTU terus meningkat. Perusahaan mencatat, pada kuartal III-2026, jumlah pengguna yang membeli tokenize stock dan ETF tumbuh 68 persen bila dibandingkan kuartal sebelumnya.

Presiden Direktur PT Pintu Kemana Saja, Andy Putra mengatakan, pertumbuhan jumlah pembeli tersebut diikuti kenaikan jumlah trader aktif sebesar 64 persen secara kuartalan. Sementara itu, jumlah transaksi meningkat 55 persen diikuti kenaikan volume perdagangan 51 persen.

Sejumlah saham perusahaan teknologi AS mencatatkan pertumbuhan jumlah pembeli pada kuartal III 2026, di antaranya, Nvidia (NVDAX) meningkat 224 persen, Apple (AAPLX) naik 212 persen, Alphabet (GOOGLX) tumbuh 131 persen, dan Robinhood (HOODX) meningkat 118 persen.

Dari sisi volume perdagangan, token Meta (METAX) mencatatkan kenaikan lebih dari 230 persen. Sementara itu, jumlah pembeli token yang merepresentasikan SPDR Gold ETF meningkat lebih dari 170 pesen.

“Pertumbuhan ini menandakan pengguna semakin aktif mengikuti perkembangan perusahaan teknologi global dan memperluas pilihan aset untuk membangun portofolionya,” ujar Andy dalam keterangan tertulis, Kamis (22/10).

Menurut Andy, peningkatan minat terhadap aset tertokenisasi tidak hanya terkonsentrasi pada saham teknologi. Kenaikan jumlah pembeli ETF berbasis emas menunjukkan adanya minat terhadap instrumen yang memberikan eksposur pada komoditas tersebut.

PINTU mulai menawarkan aset tertokenisasi pada 2025. Per Oktober 2026, platform tersebut menyediakan lebih dari 100 aset tertokenisasi yang mencakup saham AS, ETF, dan komoditas.

Perusahaan juga menambah 10 aset tertokenisasi yang diterbitkan Ondo, terdiri atas sembilan ETF dan satu aset yang merepresentasikan saham Micron. Penambahan tersebut mencakup instrumen yang memberikan eksposur ke pasar Jepang, Korea Selatan, dan India, serta surat utang pemerintah AS jangka pendek atau US Treasury bills dengan tenor nol hingga tiga bulan.

Data RWA.xyz yang dikutip PINTU mencatat kapitalisasi pasar aset tertokenisasi mencapai US$39,26 miliar per 20 Oktober 2026, setara sekitar Rp708,64 triliun berdasarkan konversi yang digunakan perusahaan.

Andy menilai perkembangan tersebut berpotensi memperluas akses investor ritel terhadap instrumen keuangan global. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa setiap aset memiliki karakteristik dan tingkat risiko yang berbeda, sehingga investor perlu memahami produk serta menyesuaikannya dengan tujuan dan profil risiko masing-masing.

Secara global, tokenisasi aset dunia nyata (real world assets/RWA) terus berkembang seiring semakin banyak penerbit dan institusi keuangan yang membawa saham, ETF, dan surat utang ke infrastruktur blockchain. Berdasarkan data dari RWA.xyz, yang dikutip perusahaan menunjukkan, total kapitalisasi pasar aset tertokenisasi per 20 Oktober 2026, menembus US$39,26 miliar atau sekitar Rp708,64 triliun.

Aset tertokenisasi menjadi tren positif yang membuka akses lebih luas bagi investor ritel terhadap instrumen investasi yang sebelumnya sulit dijangkau. Di tengah dinamika ekonomi dan pasar keuangan, perusahaan melihat aset tertokenisasi bukan sekadar alternatif investasi, melainkan juga peluang baru untuk memperluas akses investasi.

“Meski demikian, setiap aset memiliki karakteristik dan tingkat risiko yang berbeda. Oleh karena itu, investor perlu melakukan riset secara menyeluruh, memahami profil risiko serta mempertimbangkan tujuan investasi sebelum mengambil keputusan, agar dapat berinvestasi secara bijak,” pungkas Andy.

    Share Article
    Editorial Team
    Ekarina .
    EditorEkarina .

    Related Articles

    See More