Ilustrasi THR untuk pekerja. (pexels.com/Defrino Maasy)
Tidak ada rumus tunggal dalam menentukan alokasi THR ideal. Kerangka persentase dapat disesuaikan dengan kondisi pendapatan, tanggungan, dan kewajiban.
1. Karyawan lajang tanpa tanggungan
Profil ini memiliki fleksibilitas lebih besar. Contoh alokasi: 20 persen kewajiban, 20 persen dana darurat, 30 persen investasi, dan 30 persen konsumsi.
Minimnya beban rutin memungkinkan porsi investasi lebih tinggi. Strategi ini mempercepat akumulasi aset sejak dini.
2. Profesional berkeluarga dengan cicilan
Prioritas utama terletak pada kewajiban dan dana darurat. Contoh alokasi: 30 persen utang, 25 persen dana darurat, 25 persen konsumsi, dan 20 persen investasi.
Keseimbangan diperlukan agar kebutuhan keluarga terpenuhi tanpa mengabaikan pertumbuhan aset.
3. Penghasilan setara UMR
Pendekatan konservatif lebih relevan. Contoh alokasi: 30 persen konsumsi, 40 persen dana darurat, 20 persen kewajiban, dan 10 persen investasi.
Fokus pada likuiditas membantu menjaga ketahanan keuangan. Investasi tetap dilakukan meski dalam porsi kecil.
4. Penghasilan menengah ke atas
Profil ini memiliki ruang diversifikasi lebih luas. Contoh alokasi: 20 persen konsumsi, 20 persen kewajiban, 25 persen dana darurat, dan 35 persen investasi.
Diversifikasi portofolio memperkuat pertumbuhan aset. Strategi ini meningkatkan potensi imbal hasil jangka panjang.
5. Freelancer atau penghasilan tidak tetap
Likuiditas perlu menjadi prioritas utama. Contoh alokasi: 40 persen dana darurat, 20 persen kewajiban, 20 persen konsumsi, dan 20 persen investasi.
Volatilitas pendapatan menuntut cadangan kas lebih besar. Stabilitas arus kas menjadi fondasi utama.
6. Kondisi ekonomi tidak pasti
Strategi defensif lebih bijak diterapkan. Contoh alokasi: 40 persen dana darurat, 30 persen kewajiban, 20 persen konsumsi, dan 10 persen investasi.
Inflasi dan ketidakpastian makro meningkatkan risiko finansial. Penguatan kas memberikan perlindungan tambahan.