Bank DBS Perkuat Segmen Nasabah Kaya Di Era Suku Bunga Tinggi

- Bank DBS Indonesia memperkuat bisnis wealth management di tengah tren suku bunga tinggi, dengan pertumbuhan nasabah baru DBS Treasures naik 73% dan NPAT melonjak 289% secara tahunan.
- Strategi bank difokuskan pada kombinasi penghimpunan dana dan solusi investasi bagi nasabah kaya, didukung layanan advisory serta insight investasi yang menyesuaikan kebutuhan HNWI.
- Prospek industri wealth management dinilai menjanjikan karena peningkatan jumlah HNWI di Indonesia, sementara DBS memanfaatkan riset global dan teknologi AI untuk memberikan rekomendasi investasi yang relevan.
Jakarta, FORTUNE - Bank DBS Indonesia memperkuat bisnis wealth management sebagai salah satu sumber pertumbuhan di tengah tren suku bunga tinggi dan kondisi ekonomi yang menantang.
Consumer Banking Director DBS Indonesia, Melfrida Gultom mengatakan mengatakan segmen nasabah affluent dan high-net-worth individual (HNWI) masih tumbuh di tengah tekanan ekonomi.
Hal itu tercermin dari kenaikan jumlah nasabah baru DBS Treasures sebesar 73 persen secara tahunan (YoY). Pertumbuhan basis nasabah tersebut mendorong kenaikan Net Profit After Tax (NPAT) DBS Treasures hingga 289 persen (YoY), jauh di atas target anggaran sebesar 157 persen.
"Kami melihat akuisisi nasabah baru terus bertambah setiap tahun. Artinya, peluang di segmen ini masih sangat besar," ujar Melfrida dalam konfrensi pers di Jakarta, Kamis (18/6).
Bank DBS berharap penguatan bisnis wealth management dapat mendukung pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK). Sehingga, strategi yang diterapkan tidak semata-mata berfokus pada penghimpunan dana melalui tabungan dan deposito, melainkan dikombinasikan dengan berbagai solusi investasi yang sesuai dengan kebutuhan nasabah HNWI.
DBS optimistis pada bisnis yang menyasar segmen tersebut, karena keunggulan yang ditawarkan yakni layanan advisory dan penyediaan insight investasi. Terlebih dengan adanya perubahan perilaku nasabah dalam beberapa tahun terakhir, yang mana investor semakin aktif mencari panduan investasi di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan volatilitas pasar global.
Sementara itu, Head of Investment & Insurance Product PT Bank DBS Indonesia Djoko Soelistyo menilai prospek industri wealth management nasional masih sangat menjanjikan. Berdasarkan riset internal DBS, sekitar 1 persen populasi Indonesia menguasai lebih dari 70 persen aset likuid nasional.
Di saat yang sama, jumlah individu dengan kategori high-net-worth individual (HNWI) juga terus meningkat. Mengacu pada data Boston Consulting Group (BCG), kelompok masyarakat dengan dana investasi (investable assets) sekitar US$250.000 atau setara Rp4 miliar hingga Rp5 miliar diproyeksikan tumbuh dengan compound annual growth rate (CAGR) sekitar 6 persen per tahun.
"Segmen affluent akan terus berkembang. Karena itu hampir seluruh perbankan melihat peluang besar di pasar ini," ujar Djoko.
Meski persaingan semakin ketat, Djoko menyebut perusahan menawarkan konektivitas jaringan di sejumlah negara, kekuatan riset dan insight investasi, hingga memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk menyajikan informasi investasi yang lebih relevan, tepat waktu, dan sesuai dengan karakteristik masing-masing nasabah sehingga dapat membantu nasabah mengambil keputusan investasi secara lebih efektif di tengah dinamika pasar yang terus berubah.


















