Jakarta, FORTUNE – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) membidik target pertumbuhan kredit sebesar 8 persen hingga 10 persen pada akhir 2026 di tengah ketidakpastian ekonomi global dan domestik. Hal itu tertuang dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) BTN 2026 yang telah disampaikan regulator. Dalam RBB, emiten bank pelat merah ini juga menargetkan capaian laba bersih sekitar Rp4,2 triliun pada akhir tahun.
Direktur Utama BTN, Nixon L.P. Napitupulu, memandang positif pertumbuhan bisnis bank hingga akhir tahun. Bahkan pihaknya tidak melakukan revisi target bisnis ini pada pertengahan tahun di tengah pengetatan likuiditas.
Kondisi ini juga diperkuat dengan hasil pemeringkatan BTN pada level idAAA dengan outlook stabil dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo). Peringkat yang telah diraih sejak 2023 tersebut berlaku untuk periode 4 September 2026 hingga 1 September 2027.
"Peringkat ini memacu kami untuk terus berinovasi menjaga posisi bisnis yang kuat, memperkuat likuiditas dan fleksibilitas keuangan, serta memastikan pertumbuhan bisnis BTN tetap sehat dan berkelanjutan," ujar Nixon dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa (8/9).
Pefindo menilai kekuatan kredit BTN ditopang oleh bisnis, likuiditas, dan fleksibilitas keuangan yang sangat kuat. Pefindo juga memberikan predikat positif kepada BTN secara korporasi karena mendukung program-program perumahan yang diusung pemerintah.
Selain peringkat korporasi, Pefindo juga mempertahankan peringkat idAAA untuk Obligasi Sosial Berkelanjutan I Tahap I Tahun 2025 senilai Rp300 miliar, serta peringkat idAA untuk Obligasi Subordinasi I Tahap I Tahun 2025 senilai Rp2 triliun.
Sementara itu, lanjut Nixon, BTN juga terus bertransformasi menjadi bank ‘beyond mortgage,’ namun tetap menjalankan tujuan mulia dalam mendukung program perumahan pemerintah, termasuk melalui penyediaan KPR bersubsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah hingga menengah.
Per 30 Juni 2026, 60 persen saham BTN dimiliki pemerintah Indonesia melalui BPI Danantara dan BP BUMN, sementara 40 persen dimiliki publik.
Sebagai konteks, bank dengan sandi saham BBTN ini telah membukukan lonjakan laba bersih konsolidasi sebesar 41,18 persen (YoY) menjadi Rp2,40 triliun pada semester I-2026.
Kredit konsolidasi yang dikucurkan BTN melaju 11,2 persen (YoY) hingga mencapai Rp418,11 triliun pada enam bulan pertama 2026. Pada segmen ini, Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi tetap menjadi mesin pertumbuhan utama dengan kenaikan 8,1 persen (YoY) menjadi Rp196,96 triliun.
