Jakarta, FORTUNE – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) memperkuat posisi di pasar pembiayaan hunian dengan resmi mengoperasikan Loan Factory guna mempercepat proses persetujuan Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Fasilitas ini mampu memangkas waktu tunggu dari semula enam hari menjadi hanya tiga hari kerja.
Langkah ini diambil guna merespons tingginya animo masyarakat. Saat ini, perseroan tercatat menerima sedikitnya 1.000 aplikasi KPR setiap harinya. Loan Factory dirancang meningkatkan kapasitas sekaligus menjaga kualitas portofolio kredit secara lebih terkontrol dan terpusat.
Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, menyatakan digitalisasi manajemen data menjadi kunci utama kecepatan ini. Sebelumnya, proses kredit konsumer BTN bersifat desentralisasi di kantor-kantor cabang. Sejak 2019, proses tersebut mulai ditingkatkan melalui Regional Loan Processing Center (RLPC).
“Kalau mengandalkan cara kerja masing-masing orang, itu berbahaya. Jadi, dalam skala sebesar ini, proses harus terstandarisasi dan dijalankan dengan sistem yang sama,” ujar Nixon melalui keterangan resmi di Jakarta, Selasa (14/4).
Melalui model terpusat ini, BTN mengintegrasikan seluruh lini bisnis kredit. Mulai dari input data, verifikasi, analisis, hingga persetujuan dan pencairan dana. Sistem ini memungkinkan penyaluran kredit dilakukan secara lebih konsisten dan scalable di seluruh jaringan kantor perseroan.
Tak hanya soal kecepatan, BTN juga mempersenjatai diri dengan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk memperkuat verifikasi data. Langkah digitalisasi ini membuahkan hasil manis pada rasio kredit macet.
Tercatat, NPL gross BTN berhasil ditekan ke level 3,1 persen pada akhir 2025, turun dari posisi 3,2 persen pada tahun sebelumnya. Sebagai langkah antisipasi risiko, perseroan juga mendongkrak pencadangan atau NPL Coverage menjadi 123,9 persen pada akhir 2025. Angka ini melonjak 856 bps dari 115,4 persen pada tahun sebelumnya.
Hingga akhir Desember 2025, kinerja penyaluran kredit konsolidasi BTN menyentuh Rp400,6 triliun, alias tumbuh 11,9 persen. Sektor perumahan tetap menjadi motor utama dengan nilai penyaluran mencapai Rp328,4 triliun, atau tumbuh 7,5 persen secara tahunan (year-on-year).
